Showing posts with label Hardware. Show all posts

Sunday, February 28, 2021

Orico 5.0 USB Bluetooth Adapter Di Linux

  4 comments
February 28, 2021


Lagi mencari usb adapter dongle dengan bluetooth versi 5.0? Bukannya berniat promosi sih, cuman satu-satunya produk yang terbilang terpercaya adanya cuman ini. Sebenarnya ada satu lagi produk dari Ugreen, namun harganya masih dua kali lipat.

Orico BTA 508 ini menggunakan chip dari Realtek RTL8761B, dan untungnya sudah mendukung bluetooth 5.1 -ya benar, tidak salah tulis-. Dukungan perangkat keras, sesuai spesifikasi bluetooth 5.0 harusnya mencakup bluetooth keyboard, mouse, earphone / headset / headphone, speaker, smartphone, printer dan game controller / gamepad.

Yang sudah ku coba sih baru:
- Bluetooth keyboard for Android (generic)
- Advan StartGo TWS2
- Bluedio T2 Plus Turbine
- Dualshock 4
- Xiaomi Bluetooth Gamepad

Agar dapat digunakan di Linux, cukup dengan menginstall firmware / binary blobs. Untuk Arch Linux.
yay -S rtl8761b-fw


Untuk distro lain, dengan asumsi paketnya tidak ada di repository, ya cara manual saja.
referensi:

Unduh firmware disini.

Path lengkapnya.
/usr/lib/firmware/rtl_bt/rtl8761b_fw.bin

Kalau folder rtl_bt belum ada, buat dulu. Kemudian salin dan ubah namanya menjadi rtl8761b_fw.bin dengan sudo.
sudo mkdir /usr/lib/firmware/rtl_bt
sudo cp rtl8761b_fw /usr/lib/firmware/rtl_bt/rtl8761b_fw.bin

Tancap, nyalakan dan pairing.

Read More

Wednesday, December 30, 2020

Solusi Gagal Boot BIOS Lenovo G480

  2 comments
December 30, 2020

Windows 10 Ultimate Professional Enterprise Limited Editions.


 

To the point aja, solusinya adalah flash ulang BIOS.


Tapi kan tidaklah seru kalau nge-blog cuman sebaris doang isinya... hehehe. Begini ceritanya, eh tapi tunggu dulu... di penghujung tahun 2020, masih pakai Lenovo G480...!?


Bukannya tidak ada DANA, OVO, maupun GOPAY. Tapi aku termasuk penganut kepercayaan yang paling sesat di dunia ini yaitu, "if it ain't broke, don't fix it". Yang kurang lebih berarti, "jika tidak ada uang, jangan beli laptop yang baru..." hehehe. Walaupun bukan termasuk seri premium, laptop ini cukup awet. Terhitung delapan tahun sudah, dengan upgrade disana-sini, gonta-ganti harddisk dan kipas.


Beberapa bulan yang lalu, tiba-tiba aku tergiur ingin mencoba Android TV Box yang harganya tidak sampai setengah juta. Setelah dipakai, barulah tahu kalau prosesor pada unit ini terkenal mudah panas, yang biasa dikenal dengan istilah overheat. Sialnya lagi, hampir semua Android TV Box itu fan-less. Benar saja, baru dipakai streaming sudah nge-lag. Walaupun terbilang CPU terbaru dikelasnya untuk Android TV Box, kalau performanya begini ya percuma. Setelah nyari sana-sini, akhirnya ketemu juga situs resminya... Dan beberapa OTA update kemudian, masalahnya tetap sama.


Singkat cerita, di forum Rusia terdapat beberapa unofficial firmware yang patut dicoba. Sayang seribu sayang, firmware hanya bisa di flash dengan Windows. Disinilah masalah baru, yang baru lagi bermula... Aku putuskan untuk tidak mengubah formasi 1TB+2TB dilaptop yang tentunya ada Arch Linux bersemayam disitu, cukup copot kedua harddisk, pasang 120GB harddisk untuk dikorbankan dan install Windows 10, beres dah. Tidak semudah itu ferguso... pengetahuanku yang minim akan sistem operasi yang katanya terbaik sejagat raya Matrix -yang bilang gitu siapa huh?-, ternyata memiliki bugs legendaris yaitu sering gagal instalasi melalui Flashdisk. Setelah install ulang beberapa kali, entah kenapa tiba-tiba terbesit ide untuk mengubah tipe partisi dari MBR ke GPT yang nantinya memicu aktivasi secure boot dan lucunya "merusak" BIOS Lenovo G480.


Gejala umumnya sebagai berikut, tidak dapat masuk ke BIOS dengan menekan F2 saat booting dan tidak dapat mengganti urutan booting media penyimpanan dengan menekan F12 saat booting, biasanya disertai seperti layar agak berkedip-kedip. Gejala penyerta kebanyakannya seperti adanya perasaan jengkel disertai amarah karena setelah bertahun-tahun tidak memakai Windows malah disuguhkan sambutan seperti ini. Sudah gagal install malah merusak BIOS pula, seperti kata pepatah, "sudah jatuh, tertimpa janda pula"... hehehe


Entah kenapa, hasil searching google menemui jalan buntu semua, alias tidak ada solusi yang mengena. Alih-alih mencari solusi yang mudah tapi malah tidak ketemu, ya sudahlah flash ulang BIOS. Tapi tahukah anda jika flashing BIOS untuk laptop Lenovo hanya bisa dilakukan dengan Windows saja?... -tanya kenapa!?-. Setelah menghancurkan partisi GPT dan merubahnya kembali ke MBR, lalu menginstall Windows 7 -ya, kali ini bukan 10-, sampailah pada tahap paling penting.


Sebelumnya perlu diketahui bahwa flashing BIOS itu termasuk tindakan yang beresiko tinggi, yah paling parah mungkin perlu mengganti chip ic BIOS nya. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, berikut poin-poin penting yang perlu diperhatikan.

* Pastikan sumber daya listrik tidak terputus saat flashing, dapat menggunakan UPS atau pasang saja baterai laptopnya. Walaupun kondisi baterai sudah drop pun tidak masalah, setidaknya masih bisa nyala 30 menit saja.

* Matikan aplikasi keamanan seperti antivirus dsb.

* Matikan koneksi internet, untuk menghindari auto update yang berjalan dilatar belakangan.

* Tutup semua aplikasi.

* Pastikan tool / aplikasi flashing sesuai dengan arsitektur sistem operasinya, kalau Windows 7 32bit ya pakai yang sesuai.


File BIOS nya dapat diunduh pada situs resmi Lenovo, terakhir terdapat pembaharuan pada tahun 2017 dan rupanya untuk update BIOS versi terbaru hanya bisa dilakukan dengan Windows 7. Unduh versi 62CN44WW.


https://pcsupport.lenovo.com/ar/id/products/laptops-and-netbooks/lenovo-g-series-laptops/lenovo-g480-notebook/downloads/driver-list/component?name=BIOS


Caranya cukup mudah, cukup jalankan tool tersebut dan reboot. Eh jangan lupa konfigurasi BIOS dulu setelahnya ya.

Read More

Tuesday, November 8, 2016

Steam Dev Days 2016

  No comments
November 08, 2016

Steam Dev Days 2016.


Videonya dapat dilihat di Steam atau Youtube

Aku bukan developer game, kenapa harus peduli?
Tidak harus tentunya, akan tetapi melalui konferensi yang berorientasi pengembang inilah kita dapat mengetahui tren setidaknya beberapa tahun kedepan.
Setelah sempat absen pada tahun 2015, Valve kembali menggelar konferensi yang kali kedua tahun ini dengan beberapa kejutan-kejutan.
Jadi topik apa yang paling panas tahun ini?

Virtual Reality atau biasa disingkat VR

Setelah menambahkan Linux pada jajaran platform yang didukung Steam, Valve tidak berhenti sampai disitu. Diikuti dengan diluncurkannya SteamOS, sistem operasi berbasis Debian Linux yang mengutamakan kenyamanan home entertainment. Guna mendukung hal itu, ditambahkan Big Picture Mode pada klien Steam yang nantinya digunakan secara default pada SteamOS.
Untuk pengembang sendiri lebih dimudahkan dengan adanya Steam Runtime sebagai acuan pustaka pengembangan game pada SteamOS / Linux. Dari sisi perangkat keras, Valve merilis Steam Controller dan Steam Link serta dengan kerjasama dari pihak ketiga merilis Steam Machine dengan beberapa pilihan spesifikasi perangkat keras.

Sampai disini semuanya terlihat menjanjikan bukan? Semua Linux Gamers sangat optimis dengan dukungan Valve, sampai dengan...
Dirilisnya Vive atau Steam VR, perangkat keras VR besutan Valve dan HTC. Vive dirilis tanpa dukungan Linux pada hari pertama.
Hal ini menimbulkan perdebatan akan absennya dukungan Linux pada Vive, bulan berlalu tanpa komunikasi yang jelas. Valve dengan kebijakan "diam" nya membuat banyak Linux Gamers resah. Pada kenyataannya beberapa bulan yang lalu terdapat beberapa postingan di komunitas /r/linux_gaming yang mulai patah semangat ala "Valve meninggalkan kita" bertebaran.
Sampai dengan...

Leenox???


sumber https://twitter.com/Plagman2/status/786032888156295168

Yup, demo Vive VR Linux dengan menggunakan Vulkan pada ajang Steam Dev Days 2016, gelora semangat kembali melanda Linux Gamers.
Jadi sebenarnya apa yang menjadi rintangan? Ternyata biang keladinya adalah Vulkan. Vulkan merupakan grafis API multi platform penerus OpenGL. Seperti yang telah diketahui spesifikasi Vulkan baru saja dirilis, dukungan driver pun boleh dibilang masih experimental dan game yang menggunakan Vulkan pun masih bisa dihitung dengan jari. Usut punya usut ternyata OpenGL kurang "cepat" dalam menangani VR, OpenGL memang dapat digunakan akan tetapi kurang maksimal. Saat Vive dirilis, Vulkan belum siap baik secara spesifikasi dan dukungan vendor perangkat keras. Perihal kenapa tidak ditunda saja perilisan Vive menunggu Vulkan, menurutku hanya soal strategi saja mengingat pada saat hampir bersamaan banyak pula dirilis perangkat keras VR dari vendor lainnya. Valve tidak ingin ketinggalan momentum yang dapat mengakibatkan kehilangan audience.

Ingin membeli Steam Machine? Atau mungkin hanya Steam Controller dan Steam Link saja?
Anda kurang beruntung... Semuanya tidak tersedia di Indonesia, jangan tanyakan soal Vive -pula-.
Hal tersebut dapat dimaklumi mengingat peraturan tiap negara berbeda-beda, setahuku perangkat keras tersebut hanya tersedia pada wilayah Amerika Utara (NA) dan sebagian Eropa (EU). Tentu saja anda dapat memperolehnya dari pihak ketiga seperti toko online dari luar negeri dengan biaya tambahan pajak import dan lain-lain yang membuat harganya semakin mahal. Berita baiknya Asia Tenggara (SEA) termasuk dalam cakupan pengembangan pemasaran perangkat keras besutan Valve, namun sayangnya Indonesia tidak termasuk didalamnya -untuk lebih jelasnya lihat gambar-. Asia juga merupakan wilayah dengan perkembangan yang sangat pesat.

Asia, South Asia, South East Asia.

Bukannya Indonesia termasuk Asia Tenggara (SEA)?.


Topik lain yang menarik tidak lain adalah Vulkan itu sendiri, walaupun sifatnya cenderung kearah teknis. Dan pengembangan game dengan Unity untuk SteamOS dan Linux.

Read More

Wednesday, September 7, 2016

Review : Xiaomi Bluetooth Gamepad di Linux

  No comments
September 07, 2016



Terbesit keinginan untuk membeli gamepad baru setelah gamepad KW PS dualshock murah meriahku rusak lagi, padahal baru dipakai beberapa kali.
Sudah kali ketiga punya gamepad semacam ini, semuanya cepat rusak, sigh...
Daripada ribet, mending beli yang agak mahalan dikit, dan dimulailah pencarian.

Target pertama, Steam Controller. Gamepad besutan VALVe ini memang tergolong unik dikelasnya, sayangnya tidak tersedia di Indonesia -facepalm-. Mau dikata di iming-imingi diskon tapi kalau tidak tersedia disini ya percuma saja. Pesan langsung dari luar negeri? silahkan saja kalau punya dompet tebal, biaya dan-lain-sebagai-nya itu yang bikin -facepalm-.

Target kedua, Xbox Controller. Gamepad defacto untuk platform PC, dukungan dari komunitas Linux sangat baik sehingga langsung dapat dipakai di Linux. Sayangnya karena popularitas inilah yang menjadikannya sebagai target KW, mulai dari KW kelas paus sampai kelas teri. Mirisnya dari sekian toko online yang aku lihat, jarang sekali yang jujur menuliskan bahwa produknya KW, bukan original. Jangan tergiur dari tampilan gamepad dan box nya yang sangat mirip dengan produk original. Masih mending membeli produk yang kompatibel, bukan Xbox Controller tapi kompatibel seperti Xbox Controller. Dari hasil blusukan di pojokan forum-forum, ada yang mengklaim bahwa lebih dari 90 sekian persen produk ini yang beredar di Indonesia tidak original -citation needed-.

Target ketiga, Playstation 4 Controller (Dualshock 4). Ceritanya hampir sama seperti Xbox Controller. -update- sekitar tahun 2017 an Perusahaan Sony membuka perwakilannya di Indonesia dan Dualshock 4 original mulai bermunculan, ciri paling mudahnya ada stiker hologram Sony pada box nya.

Target keempat, Logitech Gamepad. Ada tiga dua model, Logitech F310 Gamepad dan Logitech F710 Wireless Gamepad.

Target kelima, entahlah. Sampai disini aku bingung harus memilih yang mana. Kehendak dan dompet berkata lain, maunya beli yang Logitech saja soalnya dukungan komunitas Linux sudah bagus juga. Tapi entah mengapa tiba-tiba nyasar pada laman Xiaomi Bluetooth Gamepad, terbesit pertanyaan kenapa tidak mencoba Gamepad Android saja?. Siapa tau bisa dipakai di Linux dan Android, kucoba mencari tahu dukungan gamepad ini di Linux hasilnya nihil. Meskipun begitu, akhirnya nekat beli juga.



Dua hari barangnya sampai juga, dus coklat berisi gamepad beserta baterai dan manual berbahasa cina -yang tidak kumengerti artinya-.
Tidak ada masalah dengan pairing, KDE Bluedevil menyanding 小米蓝牙手柄 dengan mudah.

KDE Bluedevil.


Sebelumnya cukup menambahkan konfigurasi supaya joystick tidak mengontrol cursor.
Buka Steam, masuk ke Big Picture Mode untuk mengkonfigurasi pemetaan tombol-tombol gamepad, Mi button / Guide button tidak dapat dipetakan loncati saja dan simpan.

Steam Big Picture Mode, konfigurasi gamepad.


Sekarang tinggal mencari game yang mendukung gamepad dikatalog Steam ku. Yang telah terinstall saat ini :

Dust: An Elysian Tail
FEZ
LIMBO
Mercenary Kings
Outland
Retro City Rampage DX
Stardew Valley
Super Meat Boy
Tales from Space: Mutant Blobs Attack

Dust: An Elysian Tail.

FEZ.

LIMBO.

Mercenary Kings.

Outland.

Retro City Rampage DX.

Stardew Valley, musim dingin ternyata dingin juga yah -ya iya lah masa panas-.

Super Mario Bros.

Tales from Space: Mutant Blobs Attack.

FPS yang menggunakan Source engine seperti, Half-Life 2 dan Team Fortress 2. Sudah lupakan saja, kalau mau bermain FPS sebaiknya menggunakan keyboard dan mouse.

Separuh-Nyawa 2, berarti sekarang tinggal seperempat.

Team Fortress 2, the best hat simulator.

Tidak lupa mencoba Euro Truck Simulator 2 dengan bantuan Antimicro.

Mana ujan gak ada ojek becek lagi, eh tapi lagi naik truk.


Menurutku sih dari segi bentuk gamepad ini cukup nyaman digenggam dan ringan. Presisi joystick dan dead zonenya oke. Tombol-tombolnya cukup empuk. Koneksi bluetoothnya pun tidak nge-lag. Untuk baterainya sudah lebih dari 80 jam kupakai bermain Stardew Valley saja, belum game yang lainnya. Fitur auto power off jika gamepad tidak dipakai setelah sekian menit.

Kekurangannya, tombol D-pad yang kurang menonjol jadi kesannya agak susah ditekan.
Gamepad ini ditenagai dua baterai AA, tanpa kabel dan port untuk mengisi ulang jadinya perlu beli baterai yang bisa di isi ulang.

Yang belum dicoba adalah fitur rumble / force feedback (getar) dan accelerometer. Untuk rumble sendiri, aku belum begitu paham sebenarnya dimana yang bertanggung jawab atas fitur tersebut, kemungkinan besar pada stack Xpad driver. Kucoba telusuri Google Play Store guna mencari game dengan dukungan getar, namun tidak yakin game apa yang patut dicoba, mungkin nanti saja.
Mi Button / Guide Button juga tidak bisa dipetakan, walaupun ketika dicoba dengan evtest dapat berfungsi.
Sejatinya target pemasaran gamepad ini adalah pengguna Android, sehingga accelerometer pun disertakan.

Berhubung cuma satu merk gamepad yang direview, tidak ada yang dijadikan acuan perbandingan. Namun jika membaca perbandingan gamepad bluetooth untuk Android pada situs lain, tentunya Xiaomi Bluetooth Gamepad ini bukanlah yang terbaik. Ada beberapa merk yang direkomendasikan dengan harga yang relatif lebih mahal. Sayangnya aku orangnya simple, yang penting bisa dipakai dan awet, semoga saja...

Read More