Showing posts with label Arch Linux. Show all posts

Tuesday, July 20, 2021

Steam Deck, Konsol Genggam Portabel Besutan Valve

  No comments
July 20, 2021

All hand on deck...!?


Jujur saja saat baca beritanya sempat tertegun dibuatnya, apa ini hoax? april mop? kan bulan juli ya. Ternyata beritanya otentik -glek-.


Setelah gagal dengan Steam Machine, Valve sempat dikira bakal meninggalkan Linux yang diperparah dengan jarangnya pemutahiran SteamOS -Distro Linux berbasis Debian-. Yang terakhir dengan berhentinya produksi Steam Controller generasi pertama, pupus sudah harapan para penguin. Steam Controller yang bagi beberapa kalangan merupakan gamepad yang aneh namun banyak juga yang menyukainya, teringat perjuanganku mendapatkan gamepad satu ini -harganya disini mahal euy, dibandingkan gamepad sekelasnya-. Walaupun masih berharap dirilisnya Steam Controller generasi kedua setelah beredarnya patent yang kemungkinan besar diduga otentik.


Gagalnya Steam Machine, menurutku karena pasar yang belum siap dan Valve yang terlalu bersemangat dalam upaya keterbukaan. Karena konsep yang diusung Steam Machine berbeda, tidak ada referensi baku spesifikasi perangkat kerasnya -bahasa kerennya open computing-. Berbeda jauh dengan konsol seperti Play PlayStation dan Xbox, yang ironisnya justru inilah titik gagalnya Steam Machine. Harapku Valve segera merevisi generasi kedua dengan cukup meniru formula yang sudah terbukti populer dari konsol yang telah ada.


Hasilnya ya Steam Deck, bisa ditebak kan inspirasinya dari mana? Nintendo Switch tentunya. Terjawab sudah kenapa Valve begitu bersemangat merilis Steam Proton, ternyata ada Steam Deck dibalik Steam Proton. Secara mengejutkan Valve merilis Steam Proton, layer kompabilitas Windows yang terintegrasi di Steam Client. Ya, Steam Proton berbasis teknologi dari Wine, DXVK, dan lain-lain. Memainkan game Windows semudah memainkan game native Linux.


Steam Deck menggunakan sistem operasi SteamOS 3.0 yang dibasis ulang menggunakan Arch Linux yang dapat berjalan di dua mode, konsol genggam dan desktop. Mode desktopnya menggunakan KDE, tidak mengherankan memmang mengingat KDE dibuat dengan QT yang -menurutku- superior dibandingkan toolkit lainnya. Hal mengejutkan lainnya akan datangnya dukungan perangkat lunak anti cheat -satu-satunya hal yang membuat banyak game gagal dimainkan dengan Steam Proton-.


Dari segi perangkat keras, rupanya Valve menggandeng AMD dengan mengadopsi GPU APU generasi Zen 2. Berbeda dengan Steam Machine, Steam Deck sudah memakai referensi perangkat keras tunggal dengan opsi kapasitas penyimpanan internal berbeda, 64/256/512 GB, sedangkan spesifikasi lainnya sama semua.


Sialnya, Steam Deck hanya dapat di preorder pada beberapa negara saja, -duh alamat susah nyarinya di Indonesia ini-


-RIP Steam Machine 2.0-


https://www.steamdeck.com/en/

Read More

Friday, April 30, 2021

Kernel Linux Kustom Berperforma

  No comments
April 30, 2021



Linux itu identik dengan kustomisasi, dapat beroperasi dari jam tangan hingga super komputer. Tak elak pengguna Distro seperti Gentoo pun masih mendewakan tingkat kustomisasi mendetail mereka, yang menurutku -maaf- lebih cenderung merepotkan. Untungnya komputasi kini jauh lebih sanggar jika dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Bayangkan secepat apa meng-compile kernel Linux dengan semisal cpu 16 core dan memory 32GB. Itu masih level desktop lho ya, beda lagi kalau sekelas server dengan clusternya, pastinya wuz wuz wuz...

Uniknya lagi, Linux itu identik juga dengan pilihan. Yang suka compile semua stak software nya ya silahkan, yang suka langsung dipakai ya ada, semua ada wadahnya.

Balik lagi ke topik, kustomisasi kernel yang dapat meningkatkan performa, fakta atau mitos? Sayang sekali aku bukanlah penggila benchmark, jadi yang berharap ada benchmark, tidak akan ada satupun. Semuanya disini berdasarkan pengalaman saja.

Bermula sekitar tahun 2010an, masih dengan laptop cupu ditenagai cpu Intel Celeron dari Core series, generasi sebelum generasi 1 Intel Core series yang sekarang telah mencapai generasi ke 11. Kala itu single core masih merajalela, dual dan quad core masih berasa premium. Dan lagi kapasitas RAM yang tidak selega sekarang. Bayangkan laptop dengan Intel Celeron dan memory 1GB, yang sialnya lagi igpu alias vga onboard nya -halo Via Chrome9- tidak mendukung Linux. Alhasil tidak ada akselerasi grafis sama sekali, yang bahkan menampilkan grafis dua dimensi pun dikerjakan oleh prosesor. Untuk memutar video beresolusi 720p pun tidak sanggup, nge-lag setiap sekian menit.

Dari sinilah pencarianku dimulai, Con Kolivas patch set menjadi kandidat utama. Biasa disingkat CK patch set, atau lebih mudahnya disebut linux-ck, merupakan kumpulan patch -tambalan- yang di aplikasikan diatas vanilla kernel Linux yang bertujuan meningkatkan performa terutama di desktop.

Hasilnya memang terlihat ada peningkatan, terutama saat cpu nya kuganti dari single core dengan dual core. satu core dipakai untuk "akselerasi grafis", dan satunya lagi untuk komputasi lainnya. Jika kembali menggunakan vanilla  atau stok kernel, kumat lagi seperti dulu.

Sejak saat itu, linux-ck menjadi andalan. Bukan berarti aku tidak mencoba kernel kustom lainnya -sebut saja linux-lqx, linux-pf, linux-tkg, linux-zen dan seterusnya-, tapi rasanya linux-ck yang paling mantap.

Sepuluh tahun kemudian, adakah kontender yang lain? Mungkin linux-xanmod? Ya kebetulan saja sih baru tahu tentang linux-xanmod, dan rasanya performanya setara atau lebih baik dari linux-ck. Proyek Xanmod yang dimulai pada tahun 2017, akhir-akhir ini menjadi primadona di kalangan gamers. Sebagai informasi, Linux kini telah memiliki beragam cpu scheduler, disk scheduler, dan tweak lainnya -yang jujur saja agak malas mencoba satu persatu, hehehe-

Benchmarknya mana? -entahlah-


Read More

Sunday, February 28, 2021

Orico 5.0 USB Bluetooth Adapter Di Linux

  4 comments
February 28, 2021


Lagi mencari usb adapter dongle dengan bluetooth versi 5.0? Bukannya berniat promosi sih, cuman satu-satunya produk yang terbilang terpercaya adanya cuman ini. Sebenarnya ada satu lagi produk dari Ugreen, namun harganya masih dua kali lipat.

Orico BTA 508 ini menggunakan chip dari Realtek RTL8761B, dan untungnya sudah mendukung bluetooth 5.1 -ya benar, tidak salah tulis-. Dukungan perangkat keras, sesuai spesifikasi bluetooth 5.0 harusnya mencakup bluetooth keyboard, mouse, earphone / headset / headphone, speaker, smartphone, printer dan game controller / gamepad.

Yang sudah ku coba sih baru:
- Bluetooth keyboard for Android (generic)
- Advan StartGo TWS2
- Bluedio T2 Plus Turbine
- Dualshock 4
- Xiaomi Bluetooth Gamepad

Agar dapat digunakan di Linux, cukup dengan menginstall firmware / binary blobs. Untuk Arch Linux.
yay -S rtl8761b-fw


Untuk distro lain, dengan asumsi paketnya tidak ada di repository, ya cara manual saja.
referensi:

Unduh firmware disini.

Path lengkapnya.
/usr/lib/firmware/rtl_bt/rtl8761b_fw.bin

Kalau folder rtl_bt belum ada, buat dulu. Kemudian salin dan ubah namanya menjadi rtl8761b_fw.bin dengan sudo.
sudo mkdir /usr/lib/firmware/rtl_bt
sudo cp rtl8761b_fw /usr/lib/firmware/rtl_bt/rtl8761b_fw.bin

Tancap, nyalakan dan pairing.

Read More

Thursday, February 2, 2017

Arch Linux Kini Hanya Mendukung Arsitektur X86 64-Bit

  No comments
February 02, 2017



Para pengembang Arch Linux telah memutuskan mengakhiri dukungan i686 yang termasuk didalam arsitektur X86 32-Bit.
Seingatku pada saat kali pertama menggunakan Arch Linux -sekitar tahun 2009-, presentase pengguna 32-Bit sangatlah sedikit. Apalagi sekarang, dimana hampir semua prosesor yang beredar sudah memiliki ekstensi 64-Bit.

Iso februari akan menjadi image terakhir yang masih mendukung 32-Bit, sedangkan paket-paket akan tetap mendapatkan pemutahkiran sampai saat berakhirnya dukungan pada bulan november 2017.

Akan tetapi masih memungkinkan jika X86 32-Bit mendapatkan dukungan tidak resmi dari komunitas, seperti halnya arsitektur-arsitektur lainnya semisal ARM, dll.

Anda dapat mengikuti diskusinya pada https://lists.archlinux.org/pipermail/arch-ports/2017-January/000755.html


https://www.archlinux.org/news/phasing-out-i686-support/

Read More

Saturday, September 17, 2016

Kelebihan dan Kekurangan Arch Linux

  5 comments
September 17, 2016

Setelah menggunakan Arch Linux lebih dari 7 tahun -wuih sudah lama juga-, sedikit banyak berubah.
Wah ambigu sekali kalimat tadi, sedikit tapi banyak? kok bisa.
Prosedur instalasi Arch Linux tidaklah banyak berubah, kurang lebih konsep dasarnya masih sama. Disisi yang lain init system yang digunakan berubah drastis, memakai systemd yang kontroversial. KDEMod sudah menjelma menjadi Distro turunan Arch Linux, Chakra Linux. Dengan kata lain paket KDE yang ada di repository berupa paket vanilla, mengikuti proyek upstream. KDE desktop pun sekarang pada revisi mayor ke 5, saat tulisan ini dibuat KDE Plasma 5.8 LTS Beta baru saja dirilis.

KDE Plasma 5.8 LTS Beta.


Sebagai refleksi dari Setahun Menggunakan Arch Linux

Kelebihan :

* Stabil.
Ya, cukup stabil, stack dasarnya juga stabil. Namun tetap perlu adanya strategi bencana -cieh...- dari sisi pengguna. Sebagai contoh disarankan menginstall setidaknya dua versi kernel Linux, rilis terbaru -linux- dan rilis LTS -linux-lts-. Kenapa? karena rilis terbaru kadang terdapat bug, dengan memiliki cadangan kalau diperlukan seketika sudah ada tinggal dipakai saja.
Selera pribadi, aku memakai linux-ck dan linux-lts-ck dari AUR. linux-ck sebagai pilihan utama, dan linux-lts-ck sebagai cadangan. Juga terinstall linux dan linux-zen, karena linux adalah paket default dan menjadi dependensi paket lain, sedangkan linux-zen buat coba-coba saja.
* Rolling Release.
Tidak perlu menunggu rilis terbaru setiap enam / delapan / x bulan. Termutakhir baik dari repository resmi ataupun AUR. Ingin google-chrome-dev? ada, google-chrome-beta? juga ada, google-chrome-stable? pasti ada, chromium-ini-itu? ada juga. Paket experimental seperti aplikasi yang mendukung Wayland? KDE Plasma Beta? semuanya ada baik binary maupun source.
* Vanilla dengan patch seperlunya.
Kenapa paket vanilla itu penting? vanilla itu apa sih? vanilla adalah paket yang tersedia di repository dibangun berdasarkan referensi dari proyek upstream dengan tidak menambahkan patch spesifik untuk Distro tertentu yang hanya menguntungkan Distro tertentu pula. Distro yang "baik" hanya berkolaborasi dan berkontribusi langsung pada proyek upstream, sehingga bermanfaat bagi semua downstream, downstream disini adalah Distro-distro yang lain.
* Distro yang berbasis komunitas.
Arch Linux -dan Distro-distro yang lain- menjadi bukti bahwa proyek berbasis komunitas dapat tumbuh dan berkembang serta bersaing dengan proyek berbasis komersial. Bukan berarti komersial hal yang buruk, namun hanya dua sisi koin yang berbeda.
* Dukungan komunitas melalui wiki, forum, irc dll.
Menemui jalan buntu? Arch Wiki solusinya. Ingin bertanya suatu hal? forum, irc, reddit, g+, dll
* Membuat paket Arch Linux cukup mudah dipahami daripada DEB atau RPM.
Untuk yang satu ini aku tidak berubah pendapat.


Kekurangan :

* Belum memakai Delta Package, sehingga ukuran paket yang didownload relatif besar.
Sejatinya dukungan paket delta sudah ada pada pacman, tinggal diterapkan pada cermin-cermin repository resmi. Berita baiknya, sudah ada satu repository yang mendukung delta.
* Belum memakai Signed Package, walaupun memakai hash check namun paket yang telah di sign lebih terjamin keabsahannya.
Dukungan verifikasi keabsahan paket ini ditambahkan pada Juni 2012
* Koleksi aplikasi belum sebanyak Ubuntu, apalagi Debian. Walaupun ada AUR namun lebih afdol jika paket tersebut masuk ke Community repository.
Kini jumlah paket-paket pada repository Extra dan Community benar-benar bertambah banyak, ditambah lagi AUR.
* Lebih cocok buat Desktop dari pada Server, bukan berarti ga bisa dipakai sebagai Server. Ada proyek komunitas yang memodifikasi Arch Linux supaya cocok dipakai sebagai Server.
* Ditujukan bagi pengguna mahir.
* Tidak ada lingkungan desktop default.
Ini sebenarnya bisa dibilang kelebihan atau kekurangan, dengan adanya fokus pada DE tertentu akan mempercepat perkembangan DE itu sendiri. Namun karena filosofi Arch Linux itu sendiri, penggunalah yang harus menentukan DE yang mana akan dipakai.
* Arsitektur yang didukung tidaklah sebanyak Debian.
Dukungan resmi pada arsitektur x86 32bit dan 64bit. Debian dipakai sebagai acuan karena setahuku Debian merupakan salah satu Distro yang mendukung banyak arsitektur.

Entah apa lagi kelebihan dan kekurangannya, yang jelas belum terbesit keinginan untuk pindah ke Distro yang lain.

Read More

Wednesday, September 7, 2016

Review : Xiaomi Bluetooth Gamepad di Linux

  No comments
September 07, 2016



Terbesit keinginan untuk membeli gamepad baru setelah gamepad KW PS dualshock murah meriahku rusak lagi, padahal baru dipakai beberapa kali.
Sudah kali ketiga punya gamepad semacam ini, semuanya cepat rusak, sigh...
Daripada ribet, mending beli yang agak mahalan dikit, dan dimulailah pencarian.

Target pertama, Steam Controller. Gamepad besutan VALVe ini memang tergolong unik dikelasnya, sayangnya tidak tersedia di Indonesia -facepalm-. Mau dikata di iming-imingi diskon tapi kalau tidak tersedia disini ya percuma saja. Pesan langsung dari luar negeri? silahkan saja kalau punya dompet tebal, biaya dan-lain-sebagai-nya itu yang bikin -facepalm-.

Target kedua, Xbox Controller. Gamepad defacto untuk platform PC, dukungan dari komunitas Linux sangat baik sehingga langsung dapat dipakai di Linux. Sayangnya karena popularitas inilah yang menjadikannya sebagai target KW, mulai dari KW kelas paus sampai kelas teri. Mirisnya dari sekian toko online yang aku lihat, jarang sekali yang jujur menuliskan bahwa produknya KW, bukan original. Jangan tergiur dari tampilan gamepad dan box nya yang sangat mirip dengan produk original. Masih mending membeli produk yang kompatibel, bukan Xbox Controller tapi kompatibel seperti Xbox Controller. Dari hasil blusukan di pojokan forum-forum, ada yang mengklaim bahwa lebih dari 90 sekian persen produk ini yang beredar di Indonesia tidak original -citation needed-.

Target ketiga, Playstation 4 Controller (Dualshock 4). Ceritanya hampir sama seperti Xbox Controller. -update- sekitar tahun 2017 an Perusahaan Sony membuka perwakilannya di Indonesia dan Dualshock 4 original mulai bermunculan, ciri paling mudahnya ada stiker hologram Sony pada box nya.

Target keempat, Logitech Gamepad. Ada tiga dua model, Logitech F310 Gamepad dan Logitech F710 Wireless Gamepad.

Target kelima, entahlah. Sampai disini aku bingung harus memilih yang mana. Kehendak dan dompet berkata lain, maunya beli yang Logitech saja soalnya dukungan komunitas Linux sudah bagus juga. Tapi entah mengapa tiba-tiba nyasar pada laman Xiaomi Bluetooth Gamepad, terbesit pertanyaan kenapa tidak mencoba Gamepad Android saja?. Siapa tau bisa dipakai di Linux dan Android, kucoba mencari tahu dukungan gamepad ini di Linux hasilnya nihil. Meskipun begitu, akhirnya nekat beli juga.



Dua hari barangnya sampai juga, dus coklat berisi gamepad beserta baterai dan manual berbahasa cina -yang tidak kumengerti artinya-.
Tidak ada masalah dengan pairing, KDE Bluedevil menyanding 小米蓝牙手柄 dengan mudah.

KDE Bluedevil.


Sebelumnya cukup menambahkan konfigurasi supaya joystick tidak mengontrol cursor.
Buka Steam, masuk ke Big Picture Mode untuk mengkonfigurasi pemetaan tombol-tombol gamepad, Mi button / Guide button tidak dapat dipetakan loncati saja dan simpan.

Steam Big Picture Mode, konfigurasi gamepad.


Sekarang tinggal mencari game yang mendukung gamepad dikatalog Steam ku. Yang telah terinstall saat ini :

Dust: An Elysian Tail
FEZ
LIMBO
Mercenary Kings
Outland
Retro City Rampage DX
Stardew Valley
Super Meat Boy
Tales from Space: Mutant Blobs Attack

Dust: An Elysian Tail.

FEZ.

LIMBO.

Mercenary Kings.

Outland.

Retro City Rampage DX.

Stardew Valley, musim dingin ternyata dingin juga yah -ya iya lah masa panas-.

Super Mario Bros.

Tales from Space: Mutant Blobs Attack.

FPS yang menggunakan Source engine seperti, Half-Life 2 dan Team Fortress 2. Sudah lupakan saja, kalau mau bermain FPS sebaiknya menggunakan keyboard dan mouse.

Separuh-Nyawa 2, berarti sekarang tinggal seperempat.

Team Fortress 2, the best hat simulator.

Tidak lupa mencoba Euro Truck Simulator 2 dengan bantuan Antimicro.

Mana ujan gak ada ojek becek lagi, eh tapi lagi naik truk.


Menurutku sih dari segi bentuk gamepad ini cukup nyaman digenggam dan ringan. Presisi joystick dan dead zonenya oke. Tombol-tombolnya cukup empuk. Koneksi bluetoothnya pun tidak nge-lag. Untuk baterainya sudah lebih dari 80 jam kupakai bermain Stardew Valley saja, belum game yang lainnya. Fitur auto power off jika gamepad tidak dipakai setelah sekian menit.

Kekurangannya, tombol D-pad yang kurang menonjol jadi kesannya agak susah ditekan.
Gamepad ini ditenagai dua baterai AA, tanpa kabel dan port untuk mengisi ulang jadinya perlu beli baterai yang bisa di isi ulang.

Yang belum dicoba adalah fitur rumble / force feedback (getar) dan accelerometer. Untuk rumble sendiri, aku belum begitu paham sebenarnya dimana yang bertanggung jawab atas fitur tersebut, kemungkinan besar pada stack Xpad driver. Kucoba telusuri Google Play Store guna mencari game dengan dukungan getar, namun tidak yakin game apa yang patut dicoba, mungkin nanti saja.
Mi Button / Guide Button juga tidak bisa dipetakan, walaupun ketika dicoba dengan evtest dapat berfungsi.
Sejatinya target pemasaran gamepad ini adalah pengguna Android, sehingga accelerometer pun disertakan.

Berhubung cuma satu merk gamepad yang direview, tidak ada yang dijadikan acuan perbandingan. Namun jika membaca perbandingan gamepad bluetooth untuk Android pada situs lain, tentunya Xiaomi Bluetooth Gamepad ini bukanlah yang terbaik. Ada beberapa merk yang direkomendasikan dengan harga yang relatif lebih mahal. Sayangnya aku orangnya simple, yang penting bisa dipakai dan awet, semoga saja...

Read More

Monday, August 22, 2016

Broadcom Bluetooth Patch Not Found

  No comments
August 22, 2016

$ dmesg | grep Bluetooth

Bluetooth: Core ver 2.21
Bluetooth: HCI device and connection manager initialized
Bluetooth: HCI socket layer initialized
Bluetooth: L2CAP socket layer initialized
Bluetooth: SCO socket layer initialized
Bluetooth: hci0: BCM: chip id 63
Bluetooth: hci0: valley-force
Bluetooth: hci0: BCM20702A1 (001.002.014) build 0000
bluetooth hci0: Direct firmware load for brcm/BCM20702A1-0489-e032.hcd failed with error -2
Bluetooth: hci0: BCM: Patch brcm/BCM20702A1-0489-e032.hcd not found
Bluetooth: BNEP (Ethernet Emulation) ver 1.3
Bluetooth: BNEP filters: protocol multicast
Bluetooth: BNEP socket layer initialized
Bluetooth: RFCOMM TTY layer initialized
Bluetooth: RFCOMM socket layer initialized
Bluetooth: RFCOMM ver 1.11


Dalam rangka merapikan gigibiru yang berantakan, aku mendarat pada sebuah website / blog yang membahas tentang cara menambal firmware bluetooth pada chipset broadcom. Siapa tahu dapat menyelesaikan masalah bukan? Tidak ada salahnya jika harus mencoba -walaupun ujung-ujungnya tidak membantu sama sekali-.

Selama ini tanpa patch pun bluetooth tetap bisa dipakai, jadi aku abaikan saja. Tapi berhubung sudah ter-install, ya sudah lah.

Yang dibutuhkan adalah driver bluetooth broadcom untuk wind*ws dan hex2hcd yang termasuk di paket bluez-utils. Untuk driver bluetooth broadcom bisa dari vendor apapun asalkan terbaru, termasuk patch, dan kalau bisa bukan file installer (exe / msi). Dikarenakan file installer memerlukan tool lagi seperti innoextract.

Sebagai contoh driver bluetooth dari Asus, referensi paket. File yang dimaksud adalah Bluetooth_V1201650_WHQL_Win10.zip -gunakan mesin pencari untuk mirrornya-.

Download dan extract, buka direktori Bluetooth > BCM_DriverOnly > 64 (untuk 64bit).
cari *.inf file, buka file bcbtums-win8x64-brcm.inf dengan text editor seperti kwrite.
buka terminal, ketik lsusb diikuti enter.

$ lsusb

Bus 004 Device 003: ID 058f:6366 Alcor Micro Corp. Multi Flash Reader
Bus 004 Device 002: ID 8087:0024 Intel Corp. Integrated Rate Matching Hub
Bus 004 Device 001: ID 1d6b:0002 Linux Foundation 2.0 root hub
Bus 001 Device 005: ID 0c45:6455 Microdia
Bus 001 Device 004: ID 0489:e032 Foxconn / Hon Hai Broadcom BCM20702 Bluetooth
Bus 001 Device 014: ID 046d:c52f Logitech, Inc. Unifying Receiver
Bus 001 Device 013: ID 1a40:0101 Terminus Technology Inc. Hub
Bus 001 Device 018: ID 201e:2009
Bus 001 Device 011: ID 046d:c52f Logitech, Inc. Unifying Receiver
Bus 001 Device 010: ID 1a40:0101 Terminus Technology Inc. Hub
Bus 001 Device 002: ID 8087:0024 Intel Corp. Integrated Rate Matching Hub
Bus 001 Device 001: ID 1d6b:0002 Linux Foundation 2.0 root hub
Bus 003 Device 001: ID 1d6b:0003 Linux Foundation 3.0 root hub
Bus 002 Device 001: ID 1d6b:0002 Linux Foundation 2.0 root hub


Dimana Bus 001 Device 004: ID 0489:e032 Foxconn / Hon Hai Broadcom BCM20702 Bluetooth merupakan modul bluetooth. Yang penting disini adalah ID 0489:e032 , dimana 0489 adalah vendor id dan e032 adalah produk id.
Kembali pada file .inf yang telah dibuka tadi, kwrite > edit > find, isikan dengan "0489&PID_E032" (sesuaikan dengan vendor dan produk id anda).
Dari hasil pencarian tadi, lihat sebelah kirinya ada DeviceDesc. Sialnya dengan "0489&PID_E032" menemukan dua hasil yaitu RAMUSBE032 untuk Win8.0 dan BlueRAMUSBE032 untuk Win8.1 dan Win10. Namun keduanya merujuk pada satu file yaitu BCM20702A1_001.002.014.1443.1485.hex

Hasil extract

Edit .inf dengan Kwrite

Mencari 0489&PID_E032

Dari hasil pencarian sebelumnya, mencari BlueRAMUSBE032

Ketemu juga biang keladinya

Buka terminal pada direktori kerja, eksekusi
$ hex2hcd BCM20702A1_001.002.014.1443.1485.hex

Hasil konversi hex ke hcd

lalu rename BCM20702A1_001.002.014.1443.1485.hex ke BCM20702A1-0489-e032.hcd
BCM20702A1-0489-e032.hcd diambil dari keluaran log pada paragraf awal diatas, sesuaikan namanya dengan keluaran log komputer anda.
Atau bisa juga langsung
$ hex2hcd BCM20702A1_001.002.014.1443.1485.hex -o BCM20702A1-0489-e032.hcd


Salin file dengan hak setara root
$ sudo cp BCM20702A1-0489-e032.hcd /usr/lib/firmware/brcm/


Restart bluetooth daemon atau reboot.

$ dmesg | grep Bluetooth

Bluetooth: Core ver 2.21
Bluetooth: HCI device and connection manager initialized
Bluetooth: HCI socket layer initialized
Bluetooth: L2CAP socket layer initialized
Bluetooth: SCO socket layer initialized
Bluetooth: hci0: BCM: chip id 63
Bluetooth: hci0: valley-force
Bluetooth: hci0: BCM20702A1 (001.002.014) build 1465
Bluetooth: hci0: BCM20702A1 (001.002.014) build 1465
Bluetooth: hci0: Broadcom Bluetooth Device
Bluetooth: BNEP (Ethernet Emulation) ver 1.3
Bluetooth: BNEP filters: protocol multicast
Bluetooth: BNEP socket layer initialized
Bluetooth: RFCOMM TTY layer initialized
Bluetooth: RFCOMM socket layer initialized
Bluetooth: RFCOMM ver 1.11


Selamat Menikmati -dikirain makanan apa-.

Read More

Thursday, August 18, 2016

Bluetooth Oh Gigibiru

  No comments
August 18, 2016

Serba tanpa kabel sudah menjadi hal yang lazim sekarang. Baru-baru ini aku membeli sebuah headset bluetooth dan xiaomi bluetooth gamepad. Tinggal nyalakan, pair, connect dan nikmati. Memang semudah itu. KDE Bluedevil cukup mudah digunakan dibandingkan menggunakan Bluez lewat terminal. Sebenarnya Bluedevil merupakan antarmuka grafis dari Bluez -bluetooth stack pada Linux-, jadi perbandingan tadi benar-benar ngawur.

Namun bagaimana jika perangkat yang sebelumnya bekerja dengan baik tiba-tiba ngambek? Apakah rusak? Baru saja dipakai tidak lebih dari sehari masak sudah rusak sih?. Terutama xiaomi bluetooth gamepad, yang tergolong bukan gamepad / controller murahan. Padahal kemarin seharian dipakai main Steam games, dan tidak hanya satu judul game saja. Okelah mungkin baterainya sudah habis, ganti baru. Reboot berulang kali, repairing lagi masih belum berfungsi juga. Eh tapi kok headsetnya juga ikutan tidak bisa yah?. Coba sambung ke handphone, tidak bisa juga. Okelah beli usb bluetooth 4.0 dengan chipset CSR. Dengan Bluedevil maupun Bluez pun tetap nihil.

Setelah frustasi sambil membanting laptop, headset dan gamepad, akhirnya menyerah juga dan melampiaskan kemarahan ke Team Fortress 2, sudah tentu tanpa gamepad karena FPS -first person shooter-. Hari itu berlalu begitu saja tanpa ada solusi.

Esoknya mencoba search pakai mesin pencari, tapi rasanya bukan itu pokok permasalahannya. Aku mencoba menilik /var/lib/bluetooth. Setelah membuat cadangan, sudo rm -r /var/lib/bluetooth lah jadi andalan. Berharap konfig baru akan menyelesaikan masalah, namun tetap saja ngambek. Setelah sebentar merenung tentang si gigibiru ini, baru ingat ini kan konfig dari Bluez 4, mungkin saja ada sedikit perubahan di Bluez 5. Yang jelas konfig Bluez 5 disimpan per adapter, setelah melihat satu persatu file pada cadangan yang dibuat tadi. Tinggal di salin saja konfig headset dan gamepad ke direktori adapter.

Reboot... viola akhirnya bisa ngegame pake gamepad lagi.


Moral dari cerita diatas : buatlah cadangan file sebelum mengubrak-abrik.

Read More

Wednesday, August 17, 2016

Arch Linux dan Elitisme

  No comments
August 17, 2016

Tanpa dipungkiri kepopuleran Arch Linux melejit beberapa tahun belakangan. Seiring dengan hal itu, Distro turunan Arch Linux pun bermunculan seperti Antergos, Chakra, Manjaro, dll. Tujuan Distro turunan tersebut beragam, namun pada umumnya meluaskan jangkauan ke pengguna pemula. Memang Arch Linux utamanya ditujukan bagi pengguna mahir, walaupun tidak sedikit pula pengguna pemula memakai Arch Linux. Adanya Distro turunan tersebut membuka jalan bagi pengguna yang sekedar ingin mencicipi Arch Linux tanpa harus "bersusah payah" mengikuti petunjuk instalasi di Arch Linux Wiki. Namun kenyataannya semua Distro tidaklah sempurna, cepat atau lambat pengguna "baru" ini akan menemui masalah baik yang ringan sampai berat. Mungkin setelah mencoba mencari solusi dengan bantuan mesin pencari tetapi tidak berhasil atau tidak mengerti, langkah selanjutnya adalah menggunakan media lain seperti BBS / forum, IRC, media sosial dll. Sebagai contoh forum yang masih cukup populer digunakan, setelah menjabarkan permasalahan yang dialami pengguna dan mendapatkan respon dari pengguna lainnya. Semuanya berjalan lancar sampai pengguna tersebut secara langsung atau tidak langsung menyebutkan bahwa ia menggunakan Distro turunan Arch Linux. Thread tersebut kemungkinan besar akan dikunci atau dihapus oleh moderator forum.

Sebenarnya apa yang terjadi? Hal tadi merupakan salah satu skenario yang terjadi pada forum Arch Linux. Coba melihat dari sudut pandang yang berbeda, pada dasarnya forum resmi Arch Linux hanya diperuntukkan bagi pengguna Arch Linux dan itu adalah salah satu aturan resmi forum. Perlu dicatat bahwa ada subforum yang diperbolehkan topik dengan cakupan luas. Hal tersebut diperparah dengan cukup banyaknya pengguna-pengguna baru yang melanggar aturan resmi forum. Tentunya setiap orang mempunyai pendapat yang berbeda menggenai apa yang termasuk melanggar aturan atau tidak. Perbedaan pendapat ini menjadi salah satu pemicu munculnya sentimen terhadap pengguna Arch Linux dan sentimen ini kadang kala terlihat di media sosial yang lain. Entah bagaimana penilaian yang tidak objektif ini lebih cenderung diterima. Faktanya pengguna mahir yang menggunakan Distro seperti Arch Linux, Debian, Gentoo dll, biasanya suka membantu pengguna baru tanpa memandang Distro apa yang dipakai.

Jadi memiliki banyak Distro turunan merupakan hal yang buruk? Tentu saja tidak, lihatlah Debian, salah satu Distro tertua dan memiliki banyak Distro turunan. Salah satu parameter suksesnya suatu Distro adalah memiliki banyak Distro turunan. Bukan berarti Arch Linux tidak mendukung Distro turunan, namun kadang kita melupakan satu hal yang mendasar. Setiap tempat memiliki aturan sendiri. Bukanlah elitisme jika mengikuti aturan main di forum.

Itu baru membahas satu sisi saja. Apakah cukup? bagaimana dengan yang lain?. Fansboisme ada pada tingkat apapun, entah itu sistem operasi, distribusi, lingkungan desktop, aplikasi bahkan editor teks pun tidak luput dari fansboisme. Pandangan subyektif dan obyektif tiap individu yang mempengaruhi pilihan pada suatu hal, secara tidak sadar akan membenarkan pilihannya itu dan mempertahankan pilihannya itu sampai pada titik tertentu. Dari sudut pandang orang lain pada satu individu tidak ada yang benar dan salah. Pada skala yang melibatkan banyak individu pun tidak ada yang benar dan salah. Tidak, aku tidak membicarakan sains terapan, aku membicarakan seni seperti halnya interpretasi yang berbeda ketika melihat lukisan. Tidaklah aneh jika pengguna Arch Linux membanggakan Distro nya. Tidaklah berlebihan ketika pengguna Arch Linux mengatakan Arch Linux Wiki hampir mencakup semua hal. Yang aneh justru menganggap semua itu adalah elitisme semata.

Dua sisi rasanya cukup...

Read More

Friday, March 11, 2011

BURG - Boot Manager

  No comments
March 11, 2011

Burg merupakan fork dari Grub2 yang menambahkan beberapa fitur yang tidak ada pada Grub2. Perbedaan yang paling kelihatan adalah aspek eye-candy Burg yang menurutku lebih bagus daripada Grub2. Cara menangani tema yang sedikit berbeda, mengganti tema secara langsung, mengganti resolusi layar secara langsung, pengelompokkan item pada menu (grup), dan lain-lain.

Sebenarnya sudah lama aku menggunakan Burg, namun baru sekarang ada waktu untuk menulisnya di blog. Untuk Arch Linux beberapa paket yang dibutuhkan dari AUR antara lain :

burg-bzr (core)
burg-emu (emulasi)
burg-themes (tema-tema)
burg-manager (gui untuk manajemen burg, memerlukan sudo untuk otentifikasi)
dan dependencies nya

Gunakan packer atau yaourt untuk menginstall dari AUR. Untuk Chakra GNU/Linux Burg sudah resmi menggantikan Grub/Grub2, untuk Ubuntu dan Linux Mint tersedia di PPA, untuk openSUSE belum dapat sumbernya -anda belum beruntung-.
Sebagai root jalankan :

burg-install /dev/sda
burg-mkconfig -o /boot/burg/burg.cfg

Catatan:
-sudo harus sudah terkonfigurasi jika ingin menggunakan burg-manager
-ketika mengeksekusi "burg-install /dev/sda", pastikan keluarannya sukses. Jika error sebaiknya segera menginstall Grub/Grub2 (yang dulu digunakan).
-ketika mengeksekusi "burg-mkconfig -o /boot/burg/burg.cfg", burg-themes harus sudah terinstall.
-jangan reboot sebelum memastikan Burg terinstall dan terkonfigurasi dengan benar.

Perintah yang pertama menginstall Burg pada MBR pada harddisk pertama, sedangkan perintah yang kedua membuat konfigurasi berdasarkan sistem operasi apa saja yang terinstall pada komputer.

Sayangnya burg.cfg harus disesuaikan terlebih dahulu, misalnya title yang rada ngawur seperti 'n/a GNU/Linux bla bla bla' ganti sesuai selera, juga tambahkan --class arch supaya icon Arch Linux dapat tampil. Ganti group dan resolusi sesuai selera. Gunakan burg-emu untuk emulasi secara langsung dengan mengeksekusi "/opt/burg-emu/bin/burg-emu".

Konfigurasi
Pengaturan umum terdapat pada /etc/default/burg, parameter-parameternya akan dibaca saat menjalankan burg-mkconfig. Dengan menghilangkan komentar, kurang lebih seperti ini :

GRUB_DEFAULT=0
GRUB_TIMEOUT=6
GRUB_DISTRIBUTOR=`lsb_release -i -s 2> /dev/null || echo Arch`
GRUB_CMDLINE_LINUX_DEFAULT="quiet splash"
GRUB_CMDLINE_LINUX=""
GRUB_SAVEDEFAULT=true
GRUB_GFXMODE=saved
GRUB_GFXPAYLOAD_LINUX=1440x900
GRUB_DISABLE_LINUX_RECOVERY="true"
GRUB_THEME=saved
GRUB_FOLD=saved

Konfigurasi Menu
Pengaturan terdapat pada /boot/burg/burg.cfg, secara default file ini tidak ditujukan untuk diedit manual, namun seperti yang dijelaskan diatas perlu dilakukan sedikit penyesuaian. Contoh menuentry kurang lebih seperti ini :

menuentry 'Arch Linux' --class arch --class os --group group_/dev/sda2 {
    savedefault
    set gfxpayload=1440x900
    insmod ext2
    set root='(hd0,2)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 6e870d7b-4a58-4992-a91d-4fea0bef01ff
    echo    'Loading Linux vmlinuz26 ...'
    linux    /boot/vmlinuz26 root=/dev/disk/by-uuid/6e870d7b-4a58-4992-a91d-4fea0bef01ff ro
    echo    'Loading initial ramdisk ...'
    initrd    /boot/kernel26.img
}
menuentry 'Arch Linux Fallback' --class arch --class os --group group_/dev/sda2 {
    savedefault
    set gfxpayload=1440x900
    insmod ext2
    set root='(hd0,2)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 6e870d7b-4a58-4992-a91d-4fea0bef01ff
    echo    'Loading Linux vmlinuz26 ...Loading Linux Fallback ...'
    linux    /boot/vmlinuz26 root=/dev/disk/by-uuid/6e870d7b-4a58-4992-a91d-4fea0bef01ff ro
    echo    'Loading initial ramdisk ...'
    initrd    /boot/kernel26-fallback.img
}

Sedangkan untuk distro lain yang Grub / Grub2 / Burg yang diinstall pada partisi root cukup di chainloader saja

menuentry "openSUSE 11.4" --class suse --class os --group group_/dev/sda6 {
    savedefault
    insmod ext2
    set root='(hd0,6)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 3239bbec-7a75-4d17-a228-b9543d1fa7ae
    drivemap -s (hd0) ${root}
    chainloader +1
}
menuentry "Ubuntu 10.10" --class ubuntu --class os --group group_/dev/sda7 {
    savedefault
    insmod ext2
    set root='(hd0,7)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 4ce281ea-9f29-40b8-b891-1e28df127172
    drivemap -s (hd0) ${root}
    chainloader +1
}
menuentry "Linux Mint Debian Edition" --class linuxmint --class os --group group_/dev/sda8 {
    savedefault
    insmod ext2
    set root='(hd0,8)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 200aec2b-8c34-4711-8ce0-3a8de76e0b15
    drivemap -s (hd0) ${root}
    chainloader +1
}
menuentry "Linux Mint 10" --class linuxmint --class os --group group_/dev/sda9 {
    savedefault
    insmod ext2
    set root='(hd0,9)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 464e767b-eeab-4d5d-b3f4-392d4079fe7a
    drivemap -s (hd0) ${root}
    chainloader +1
}
menuentry "Linux Mint 10 KDE" --class linuxmint --class os --group group_/dev/sda10 {
    savedefault
    insmod ext2
    set root='(hd0,10)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 0fdb6da5-a25e-4565-8f71-e3d83ddc8762
    drivemap -s (hd0) ${root}
    chainloader +1
}

Shortcut
F1 untuk bantuan, F2 untuk mengganti tema, F3 atau R untuk mengganti resolusi layar, F untuk folding menu dan F7 untuk menampilkan submenu pada folding menu. E untuk mengedit, dan seterusnya.,.


Burg-manager?
Merupakan antarmuka berbasis grafis untuk Burg yang dikembangkan oleh pihak ketiga. Sejujurnya cara tercepat mengedit konfigurasi adalah dengan text editor, hehe.,. Aplikasi yang seharusnya mempermudah, justru kadang malah memperumit. Pada prakteknya Burg-manager sering hang -alasan yang sebenarnya-.

Why oh why?
Sebenarnya cukup menginstall satu boot manager pada MBR, entah itu Grub / Grub2 / Burg. Sedangkan pada partisi root tiap distro tidak perlu diinstall boot manager. Namun sudah menjadi kebiasaanku, alasan lain adalah untuk kemudahan -atau mempersulit?-, karena boot manager pada MBR men-chainloader ke -apapun- boot manager pada partisi root tiap distro.

Read More

Wednesday, March 2, 2011

Pindah /rumah Lagi

  No comments
March 02, 2011

Akhirnya dapat juga harddisk baru untuk laptopku.,. Seagate Momentus ST9500325AS SATA II 500GB. Karena sayang jika harus menginstall ulang kembali Arch Linux ku, maka aku mencari solusi yang praktis. Solusi yang mungkin adalah kloning harddisk dan cara manual.

Duh, kali terakhir kloning harddisk sudah beberapa tahun yang lalu, itu pun memakai Norton Ghost dan praktek kilat pula. Harddisk yang baru ku pasang di HDD enclouser, lalu terhubung ke laptop dan dengan GParted aku membuat partisi-partisi baru. Sejauh ini belum menemui masalah apapun, malahan mendapatkan sedikit pencerahan dalam perhitungan Byte yang -kurang lebih- tepat. Inginku hanya mengkloning partisi root Arch Linux dan partisi /home, sedangkan distro-distro lainnya bisa diinstall ulang.

Harddisk lama
sda1    fat32    10 GiB
sda2    ext4    20 GiB sumber
sda3    ext4    5  GiB
sda4 (extended)
    sda5    ext4    5  GiB
    sda6    ext4    5  GiB
    sda7    ext4    10 GiB
    sda8    ext4    55 GiB sumber
    sda9    swap    1  GiB

Harddisk baru
sdb1    fat32    20 GiB
sdb2    ext4    20 GiB target dari sda2
sdb3    ext4    350 GiB target dari sda8
sdb4 (extended)
    sdb5    ext4    10 GiB
    sdb6    ext4    10 GiB
    sdb7    ext4    10 GiB
    sdb8    ext4    10 GiB
    sdb9    ext4    10 GiB
    sdb10    ext4    10 GiB
    sdb11    ext4    5  GiB
    sdb12    ext4    5  GiB
    sdb13    swap    5  GiB

Setelah menelusuri beberapa dokumentasi dan blog-blog di internet, jawabannya cuma satu yaitu CLONEZILLA. Untungnya distro PartedMagic sudah menyertakan CloneZilla, dengan bantuan UNetBootin untuk membuat Live USB PartedMagic.

Percobaan pertama

Setelah reboot lalu booting melalui UFD dan PartedMagic jalan di memory, aku mengeksekusi CloneZilla. Dengan tuntunan langkah demi langkah -wizard based-, kali pertama dihadapkan pada pilihan :

device-image atau device-device (pilih device-device) lalu
beginner atau expert (pilih beginner)
dan seterusnya dan seterusnya

Lho kok disingkat? Yak.,. karena hasil akhirnya gagal. Partisi /home yang seharusnya 350 GiB -memang tertera segitu-, namun sisa partisi kosongnya hanya beberapa GiB -yang seharusnya 300 GiB an-.

Percobaan kedua

Setelah -lagi- jengkel karena seharusnya CloneZilla secara otomatis meng-handle resize partisi, aku mencoba yang kali kedua.
langkah-langkahnya :

Pilih device-device

Expert Mode

Part to Local Part, karena akan mengkloning partisi bukan disk

Partisi asal yang akan di kloning

Partisi target

Advanced Parameters, pilih -r, -fsck-src-part, -v

Pilih -k, karena sejak awal sudah menyiapkan partisi-partisi pada harddisk target

Tekan Enter

Konfirmasi sebelum eksekusi perintah

Konfirmasi terakhir sebelum eksekusi total

Tahap awal kloning

Proses kloning sedang berlangsung

Selesai, tekan Enter kemudian Reboot

Harap diperhatikan saat pilihan advanced parameters, karena pada dasarnya aku hanya ingin mengkloning data, tanpa grub dan MBR nya. Karena nantinya bisa ku install ulang Grub sendiri.

Penting ! CloneZilla hanya bisa menangani kloning dari :
disk/partisi sumber berukuran sama dengan disk/partisi target
disk/partisi sumber berukuran lebih kecil daripada disk/partisi target
jika disk/partisi sumber lebih besar akan muncul error, kadang disk/partisi target terlanjur dihancurkan sehingga perlu me-format ulang tiap partisi

Setelah selesai semua, tinggal mengganti harddisk nya dan viola.,. masih belum bisa booting, soalnya Grub nya belum di install ulang.,. hehe

Read More

Friday, February 25, 2011

Ketika Arch Linux Berulah

  1 comment
February 25, 2011

Segala sesuatu bisa menjadi 'salah', begitu juga dengan sistem operasi -apapun itu- bisa menjadi tidak bisa dipakai baik karena kesalahan yang disengaja maupun tidak. Seperti biasa sudah waktunya meng-update Arch Linux ku, eksekusi Yakuake lalu su, ketik password root, dan pacman -Syu. Sembari menunggu pacman menyelesaikan tugasnya, aku mendengarkan musik dan membaca artikel-artikel dari http://www.tuxmachines.org

Tak lama kemudian pacman meminta konfirmasi paket apa saja yang akan di update, ku tekan Y lalu Enter. Well, berhubung paket yang akan di update lumayan banyak, tentunya untuk mendownload semuanya memakan waktu yang tidak sedikit -alih-alih malu mengatakan koneksiku lemot-.

Setelah selesai, dengan santainya kumatikan laptopku. Esoknya saat akan memakai laptop -lagi-, KDE menampilkan peringatan bahwa driver vga terlalu lambat sehingga secara otomatis efek 3D dimatikan sementara.

Lho kemarin lancar-lancar aja, kok tiba-tiba.,.
Daftar Cek :
1. periksa log pacman di /var/log/pacman.log. Hm kemarin kurang lebih 50an paket yang diupdate.
2. persempit 'tersangka' utamanya. Untungnya KDE memberikan keterangan yang cukup jelas, sesuatu yang berhubungan dengan vga. Dan ketemu dua paket yang paling mungkin, yaitu libgl dan unichrome-dri.
3. downgrade paket, kalau cache paket masih ada di /var/cache/pacman/pkg/, tinggal di downgrade langsung. Namun jika terlanjur sudah dibersihkan -dengan pacman -Scc-, carilah pada mirror server repositori.
4. restart dan perhatikan apakah sukses atau tidak. Jika tidak, ulangi dari langkah kedua.
5. blacklist sementara paket-paket yang bermasalah pada /etc/pacman.conf

Rupanya keberuntungan sedang memihakku, sekali langkah langsung berhasil.
Lalu sebenarnya apa intinya ya?
Biarkan cache paket dalam jangka waktu tertentu, bersihkan berkala atau jika memang perlu karena mungkin suatu saat akan berguna. Perlu juga trial and error ketika mencoba mendowngrade paket, perhatikan output pacman terutama ketergantungan paket. Dalam hal ini unichrome-dri memiliki dependencies terhadap libgl sehingga keduanya harus di downgrade. Dan yang paling penting dari semua itu adalah jangan menyalahkan developer baik upstream maupun downstream, karena pada prinsipnya pengembangan software itu sangat kompleks dan rumit. Bisa saja bugs tersebut hanya berdampak pada hal tertentu saja, namanya juga bugs.,.

Eh BTW, kok mirip sama yang ini ya? Ups KDM Ga Muncul
Eh BTW -lagi-, Linux Mint KDE Edition sudah dirilis lho.,. buat mini-review gak yah.,.

Read More

Tuesday, November 30, 2010

Multiversi Kernel Di OpenSUSE

  No comments
November 30, 2010

Menyambung bahasan sebelumnya, tapi kali ini tentang kernel. Ketika terjadi update bugfix kernel Linux pada openSUSE secara default kernel versi sebelumnya akan ditimpa dengan yang baru. Perilaku yang sama juga diterapkan Arch Linux dan Chakra GNU/Linux, bedanya pada Arch Linux terdapat satu paket Kernel Default (kernel26) dan satu paket Kernel LTS (kernel26-lts) serta puluhan Kernel Custom di AUR. Mengingat Arch Linux dan Chakra GNU/Linux memakai Rolling Release Model, maka tidak hanya update bugfix saja yang di timpa tapi update minor juga, misalnya dari versi 2.6.35 ke 2.6.36. Lain hal nya dengan Debian dan turunannya terutama Ubuntu, untuk alasan backup, tiap ada update bugfix kernel yang terdahulu tidak akan ditimpa dengan yang baru dan otomatis menambahkan entry baru di Grub. Saat tulisan ini dibuat Ubuntu sudah mendapatkan satu kali update bugfix kernel, jadi di Grub terdapat dua pilihan Kernel yaitu 2.6.35-22 dan 2.6.35-23.

Lalu apa yang salah dengan hal tersebut? jawabnya tidak ada, hehehe.,. Tapi.,. -lho kok pake tapi?-
Bayangkan -lagi-, setelah capek-capek unduh update paket, mana koneksi lagi lemot sangat, banyak kerjaan, ga ada nyamilan dan sebangsanya.,. setelah reboot eh ternyata -ga pake lagi- kernel yang baru gagal booting.,. Capek deh

Lebih baik ditinjau per distro yah, okelah.,.

Arch Linux dan Chakra GNU/Linux
Idealnya minimal punya dua versi Kernel ter-install, kernel26 untuk dipakai sehari-hari dan kernel26-lts untuk cadangan ketika kernel26 gagal. Tapi pada prakteknya malah lebih dari dua, belum lagi dari AUR yang bisa di kompile manual ada kernel26-zen, kernel26-ck, kernel26-bfs dan lain-lain. Kenapa disebut "ideal"? karena pengguna kedua distro tersebut paling ga udah bergelar ""ahli"" -pake tanda kutip dua kali-, jadi harusnya sudah sadar diri tentang hal itu, tapi kalau ga ya.,. keterlaluan, hehehe.,.

Debian, Ubuntu dan turunannya
Bisa dibilang relatif aman, cuman harus rajin-rajin menghapus paket kernel yang udah uzur, kalau ga entry di Grub bakalan "meriah". Masih kurang rame? install aja custom kernel dari PPA, hehehe.,.

openSUSE
Masuk ke bahasan utama, masih kurang jelas? harusnya udah c.,.

Dengan hak root, edit /etc/zypp/zypp.conf cari entry multiversion = provides:multiversion(kernel) dan uncomment (hilangkan tanda pagar '#') menjadi.

multiversion = provides:multiversion(kernel)

Kelar deh

Read More

Tuesday, October 26, 2010

Pindah /rumah

  No comments
October 26, 2010

Sudah menjadi kebiasaan setiap meng-install Distro Linux, partisi home selalu menjadi satu dengan partisi root. Alasannya sederhana karena aku menggunakan Multi-Distro, sehingga tidak ingin dipusingkan dengan partisi home yang terpisah. Namun setelah hampir 2 tahun memakai Arch Linux, rasanya saatnya membutuhkan partisi home yang terpisah. Karena partisi root Arch Linux ku hanya berukuran 20GiB, tentu saja tidak mampu menampung hasil download an ku yang mengantri. Disamping itu perlu juga menata ulang dan menambah partisi baru untuk Distro lain. Rencananya hanya Arch Linux yang memiliki partisi home terpisah.

Awal layout partisi harddisk ku seperti dibawah ini.

/dev/sda1    Fat32  Windows XP 10 GiB
/dev/sda2    Ext4    Arch Linux      20 GiB
/dev/sda3    Ext4    OpenSUSE    5  GiB
/dev/sda4    Extended Partition
/dev/sda5    Ext4    Ubuntu             5  GiB
/dev/sda6    Ext4    Data                70 GiB
/dev/sda7    Swap                           1  GiB

Akhir layout partisi harddisk ku.

/dev/sda1    Fat32  Windows XP 10 GiB
/dev/sda2    Ext4    Arch Linux      20 GiB
/dev/sda3    Ext4    OpenSUSE    5  GiB
/dev/sda4    Extended Partition
/dev/sda5    Ext4    Ubuntu             5  GiB
/dev/sda6    Ext4    ?                       5  GiB
/dev/sda7    Ext4    ?                      10 GiB
/dev/sda8    Ext4    Home              55 GiB
/dev/sda9    Swap                           1  GiB

Untuk urusan penataan partisi aku memakai Distro PartedMagic, dengan bantuan UNetBootin untuk menulis image ke USB FlashDisk.

Langkah-langkah memindah /home dari partisi root ke partisi baru sebagai berikut.

1. Login memakai user dengan hak biasa atau root lewat shell (console)
2. Masuk ke single-user mode (init 1), masukkan password user root
    # init 1
3. Mount partisi target
    # mount /dev/sda8 /mnt
4. Buka /home
    # cd /home
5. Salin semua berkas ke partisi target
    # cp -ax * /mnt
6. Pindah ke direktori root. Ubah home menjadi home.old (terserah), untuk backup. Lalu buat home baru
    # cd /
    # mv /home /home.old
    # mkdir home

7. Edit /etc/fstab dengan memakai vi/vim atau text editor lainnya
    # vim /etc/fstab
   Tambahkan baris berikut, sesuaikan dengan layout partisi dan isikan parameter yang diinginkan
    # /dev/sda8 /home ext4 defaults 0 2
8. Reboot, pastikan segalanya berjalan lancar, jika tidak mungkin ada langkah yang salah. Kemudian hapus /home.old

Read More

Wednesday, October 6, 2010

Ups KDM Ga Muncul

  No comments
October 06, 2010

Selama hampir 2 tahun bisa dibilang baru kali pertama ini Arch Linux ku bermasalah, tapi ga sepenuhnya broken cuman KDM ga tampil sehingga tidak bisa login ke KDE. Login melalui console ga ada masalah, dengan user Root aku membaca /var/log/error.log terlebih dahulu, dan ternyata terbaca dua baris pesan kesalahan.

Received unknown or unexpected command -2 from greeter
Abnormal termination of greeter for display :0, code 1, signal 0

Argh.,. Maksud pesan tadi apa y? Terlalu teknis untuk orang sepertiku yang ga ngerti apa2 soal KDE. Iseng-iseng liat /var/log/pacman.log, hm ada 5 paket yang terupdate hari ini.

tesseract (3.00-1 -> 3.00-2)
ekiga (3.2.7-2 -> 3.2.7-3)
freetype2 (2.4.2-1 -> 2.4.3-1)
apr-util (1.3.9-4 -> 1.3.10-1)
libpng (1.4.3-1 -> 1.4.4-1)

Kira-kira tersangkanya siapa y? Yang jelas bukan ekiga, soalnya aplikasi. Harusnya paket yang berpengaruh pada low level. Daripada pusing-pusing, unduh aja versi sebelumnya dari ke empat-empatnya. Cek Arch Rollback Machine dan repository Arch Linux yang masih menyimpan versi sebelumnya, unduh secara manual lalu Downgrade.

Downgrade libpng dari 1.4.4-1 ke 1.4.3-1, lalu reboot.,. gagal
Downgrade apr-util, lalu reboot.,. gagal lagi
Downgrade freetype2, lalu reboot.,. masih juga gagal
Downgrade tesseract, lalu reboot.,. berhasil! Berhasil berhasil berhasil hore.,. -hehe jadi inget keponakan yang suka nonton Dora-

Rupanya masih belum jera juga, setelah KDE Plasma Desktop muncul, blacklist paket tesseract di /etc/pacman.conf lalu pacman -Syu update lagi.,. Packet freetype2, apr-util, dan libpng terupdate lagi, reboot dan KDM muncul.

Hm hari ini KDE SC 4.5.2 sudah dirilis, dan baru saja masuk ke repo nya Arch Linux, update lagi ahh.,.

Perhatian: pacman -Syu sudah terbukti menyebabkan ketagihan, jika anda meng-update lebih dari satu kali sehari segera periksakan diri ke dokter.

Read More