Wednesday, September 7, 2016

Review : Xiaomi Bluetooth Gamepad di Linux

  No comments


Terbesit keinginan untuk membeli gamepad baru setelah gamepad KW PS dualshock murah meriahku rusak lagi, padahal baru dipakai beberapa kali.
Sudah kali ketiga punya gamepad semacam ini, semuanya cepat rusak, sigh...
Daripada ribet, mending beli yang agak mahalan dikit, dan dimulailah pencarian.

Target pertama, Steam Controller. Gamepad besutan VALVe ini memang tergolong unik dikelasnya, sayangnya tidak tersedia di Indonesia -facepalm-. Mau dikata di iming-imingi diskon tapi kalau tidak tersedia disini ya percuma saja. Pesan langsung dari luar negeri? silahkan saja kalau punya dompet tebal, biaya dan-lain-sebagai-nya itu yang bikin -facepalm-.

Target kedua, Xbox Controller. Gamepad defacto untuk platform PC, dukungan dari komunitas Linux sangat baik sehingga langsung dapat dipakai di Linux. Sayangnya karena popularitas inilah yang menjadikannya sebagai target KW, mulai dari KW kelas paus sampai kelas teri. Mirisnya dari sekian toko online yang aku lihat, jarang sekali yang jujur menuliskan bahwa produknya KW, bukan original. Jangan tergiur dari tampilan gamepad dan box nya yang sangat mirip dengan produk original. Masih mending membeli produk yang kompatibel, bukan Xbox Controller tapi kompatibel seperti Xbox Controller. Dari hasil blusukan di pojokan forum-forum, ada yang mengklaim bahwa lebih dari 90 sekian persen produk ini yang beredar di Indonesia tidak original -citation needed-.

Target ketiga, PS Controller. Ceritanya hampir sama seperti Xbox Controller.

Target keempat, Logitech Gamepad. Ada tiga dua model, Logitech F310 Gamepad dan Logitech F710 Wireless Gamepad.

Target kelima, entahlah. Sampai disini aku bingung harus memilih yang mana. Kehendak dan dompet berkata lain, maunya beli yang Logitech saja soalnya dukungan komunitas Linux sudah bagus juga. Tapi entah mengapa tiba-tiba nyasar pada laman Xiaomi Bluetooth Gamepad, terbesit pertanyaan kenapa tidak mencoba Gamepad Android saja?. Siapa tau bisa dipakai di Linux dan Android, kucoba mencari tahu dukungan gamepad ini di Linux hasilnya nihil. Meskipun begitu, akhirnya nekat beli juga.



Dua hari barangnya sampai juga, dus coklat berisi gamepad beserta baterai dan manual berbahasa cina -yang tidak kumengerti artinya-.
Tidak ada masalah dengan pairing, KDE Bluedevil menyanding 小米蓝牙手柄 dengan mudah.

KDE Bluedevil.


Sebelumnya cukup menambahkan konfigurasi supaya joystick tidak mengontrol cursor.
Buka Steam, masuk ke Big Picture Mode untuk mengkonfigurasi pemetaan tombol-tombol gamepad, Mi button / Guide button tidak dapat dipetakan loncati saja dan simpan.

Steam Big Picture Mode, konfigurasi gamepad.


Sekarang tinggal mencari game yang mendukung gamepad dikatalog Steam ku. Yang telah terinstall saat ini :

Dust: An Elysian Tail
FEZ
LIMBO
Mercenary Kings
Outland
Retro City Rampage DX
Stardew Valley
Super Meat Boy
Tales from Space: Mutant Blobs Attack

Dust: An Elysian Tail.

FEZ.

LIMBO.

Mercenary Kings.

Outland.

Retro City Rampage DX.

Stardew Valley, musim dingin ternyata dingin juga yah -ya iya lah masa panas-.

Super Mario Bros.

Tales from Space: Mutant Blobs Attack.

FPS yang menggunakan Source engine seperti, Half-Life 2 dan Team Fortress 2. Sudah lupakan saja, kalau mau bermain FPS sebaiknya menggunakan keyboard dan mouse.

Separuh-Nyawa 2, berarti sekarang tinggal seperempat.

Team Fortress 2, the best hat simulator.

Tidak lupa mencoba Euro Truck Simulator 2 dengan bantuan Antimicro.

Mana ujan gak ada ojek becek lagi, eh tapi lagi naik truk.


Menurutku sih dari segi bentuk gamepad ini cukup nyaman digenggam dan ringan. Presisi joystick dan dead zonenya oke. Tombol-tombolnya cukup empuk. Koneksi bluetoothnya pun tidak nge-lag. Untuk baterainya sudah lebih dari 80 jam kupakai bermain Stardew Valley saja, belum game yang lainnya. Fitur auto power off jika gamepad tidak dipakai setelah sekian menit.

Kekurangannya, tombol D-pad yang kurang menonjol jadi kesannya agak susah ditekan.
Gamepad ini ditenagai dua baterai AA, tanpa kabel dan port untuk mengisi ulang jadinya perlu beli baterai yang bisa di isi ulang.

Yang belum dicoba adalah fitur rumble / force feedback (getar) dan accelerometer. Untuk rumble sendiri, aku belum begitu paham sebenarnya dimana yang bertanggung jawab atas fitur tersebut, kemungkinan besar pada stack Xpad driver. Kucoba telusuri Google Play Store guna mencari game dengan dukungan getar, namun tidak yakin game apa yang patut dicoba, mungkin nanti saja.
Mi Button / Guide Button juga tidak bisa dipetakan, walaupun ketika dicoba dengan evtest dapat berfungsi.
Sejatinya target pemasaran gamepad ini adalah pengguna Android, sehingga accelerometer pun disertakan.

Berhubung cuma satu merk gamepad yang direview, tidak ada yang dijadikan acuan perbandingan. Namun jika membaca perbandingan gamepad bluetooth untuk Android pada situs lain, tentunya Xiaomi Bluetooh Gamepad ini bukanlah yang terbaik. Ada beberapa merk yang direkomendasikan dengan harga yang relatif lebih mahal. Sayangnya aku orangnya simple, yang penting bisa dipakai dan awet, semoga saja...

No comments :

Post a Comment