Showing posts with label Me. Show all posts

Tuesday, August 2, 2022

Steam Dan Paypal Diblokir?

  No comments
August 02, 2022

Daftar Blokir Sebagian


Pada hari minggu yang cerah -lol-, seperti biasanya ada rutinitas menyetrika, tapi yang disetrika bukanlah baju melainkan mouse dan keyboard alias nyeteam -garing banget jokes nya-.

Karena kemarin dikiranya ada gangguan pada jaringan Steam, akhirnya mengalah dan nonton film saja. Eh tapi tunggu dulu, setelah diklik sana sini kok tidak bisa login ya. Yang jelas bukan kena hack, ini lebih tepatnya indikasi gangguan internet internasional. Sudah bukan rahasia lagi, terkadang koneksi internet internasional di negara paman zidan ini terputus yang kadang sampai berhari-hari baru diperbaiki.


Ternyata oh ternyata, bukan itu penyebabnya. Rupanya Kominfo memblokir masal situs-situs yang diantaranya termasuk Steam, Origin, Epic Games dan seterusnya. Dan yang paling bikin geleng-geleng kepala itu adalah masuknya Paypal didaftar blokir tersebut. Suka atau tidak suka, Paypal adalah satu-satunya media transaksi keuangan antara para klien dan para freelancer digital. Dan yang perlu diingat adalah klien hanya mau membayar jasa para freelancer lewat Paypal. Belum lagi penggunaan Paypal oleh ekspatriat yang sedang melancong dan lain sebagainya.


Memblokir tanpa memberikan solusi yang masuk akal itu adalah tindakan yang semena-mena. Dengan dalih untuk meningkatkan perkembangan industri IT, kreatif, digital dalam negeri dan sebangsanya yang ujung-ujungnya sebenarnya hanya untuk menarik pajak lebih dari perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi didalam negeri. Coba dipikir, kalau Paypal diblokir solusi konkretnya apa? Masak harus menunggu bertahun-tahun sampai startup transaksi keuangan sukses go internasional? Memangnya klien mau memakainya? Terus selama menunggu itu memangnya ada bantuan dari pemerintah? Kalian yang kerja dipemerintahan tenang-tenang saja, toh tiap bulan menerima gaji tetap. Apa perlu diingatkan kalau gaji tersebut berasal dari pajak rakyat? Nah kalau rakyatnya saja dipersulit mencari nafkah, bagaimana mau membayar pajak? Sudah semuanya serba dipajakin -sigh-.


Lucunya lagi, Valve Steam rupanya sudah membayar PPN sejak lama, namun kena juga. Berita baiknya berhembus kabar bahwa Valve sudah mengurus perijinannya sesegera mungkin.


Oh BTW, situs/aplikasi judi online melenggang bebas karena sudah lolos pse. Jadi intinya judi itu lebih bermanfaat daripada Steam dan Paypal -pikir sendiri kesimpulannya-.



Lucunya negeri paman zidan ini -lol-.

Read More

Wednesday, December 30, 2020

Solusi Gagal Boot BIOS Lenovo G480

  2 comments
December 30, 2020

Windows 10 Ultimate Professional Enterprise Limited Editions.


 

To the point aja, solusinya adalah flash ulang BIOS.


Tapi kan tidaklah seru kalau nge-blog cuman sebaris doang isinya... hehehe. Begini ceritanya, eh tapi tunggu dulu... di penghujung tahun 2020, masih pakai Lenovo G480...!?


Bukannya tidak ada DANA, OVO, maupun GOPAY. Tapi aku termasuk penganut kepercayaan yang paling sesat di dunia ini yaitu, "if it ain't broke, don't fix it". Yang kurang lebih berarti, "jika tidak ada uang, jangan beli laptop yang baru..." hehehe. Walaupun bukan termasuk seri premium, laptop ini cukup awet. Terhitung delapan tahun sudah, dengan upgrade disana-sini, gonta-ganti harddisk dan kipas.


Beberapa bulan yang lalu, tiba-tiba aku tergiur ingin mencoba Android TV Box yang harganya tidak sampai setengah juta. Setelah dipakai, barulah tahu kalau prosesor pada unit ini terkenal mudah panas, yang biasa dikenal dengan istilah overheat. Sialnya lagi, hampir semua Android TV Box itu fan-less. Benar saja, baru dipakai streaming sudah nge-lag. Walaupun terbilang CPU terbaru dikelasnya untuk Android TV Box, kalau performanya begini ya percuma. Setelah nyari sana-sini, akhirnya ketemu juga situs resminya... Dan beberapa OTA update kemudian, masalahnya tetap sama.


Singkat cerita, di forum Rusia terdapat beberapa unofficial firmware yang patut dicoba. Sayang seribu sayang, firmware hanya bisa di flash dengan Windows. Disinilah masalah baru, yang baru lagi bermula... Aku putuskan untuk tidak mengubah formasi 1TB+2TB dilaptop yang tentunya ada Arch Linux bersemayam disitu, cukup copot kedua harddisk, pasang 120GB harddisk untuk dikorbankan dan install Windows 10, beres dah. Tidak semudah itu ferguso... pengetahuanku yang minim akan sistem operasi yang katanya terbaik sejagat raya Matrix -yang bilang gitu siapa huh?-, ternyata memiliki bugs legendaris yaitu sering gagal instalasi melalui Flashdisk. Setelah install ulang beberapa kali, entah kenapa tiba-tiba terbesit ide untuk mengubah tipe partisi dari MBR ke GPT yang nantinya memicu aktivasi secure boot dan lucunya "merusak" BIOS Lenovo G480.


Gejala umumnya sebagai berikut, tidak dapat masuk ke BIOS dengan menekan F2 saat booting dan tidak dapat mengganti urutan booting media penyimpanan dengan menekan F12 saat booting, biasanya disertai seperti layar agak berkedip-kedip. Gejala penyerta kebanyakannya seperti adanya perasaan jengkel disertai amarah karena setelah bertahun-tahun tidak memakai Windows malah disuguhkan sambutan seperti ini. Sudah gagal install malah merusak BIOS pula, seperti kata pepatah, "sudah jatuh, tertimpa janda pula"... hehehe


Entah kenapa, hasil searching google menemui jalan buntu semua, alias tidak ada solusi yang mengena. Alih-alih mencari solusi yang mudah tapi malah tidak ketemu, ya sudahlah flash ulang BIOS. Tapi tahukah anda jika flashing BIOS untuk laptop Lenovo hanya bisa dilakukan dengan Windows saja?... -tanya kenapa!?-. Setelah menghancurkan partisi GPT dan merubahnya kembali ke MBR, lalu menginstall Windows 7 -ya, kali ini bukan 10-, sampailah pada tahap paling penting.


Sebelumnya perlu diketahui bahwa flashing BIOS itu termasuk tindakan yang beresiko tinggi, yah paling parah mungkin perlu mengganti chip ic BIOS nya. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, berikut poin-poin penting yang perlu diperhatikan.

* Pastikan sumber daya listrik tidak terputus saat flashing, dapat menggunakan UPS atau pasang saja baterai laptopnya. Walaupun kondisi baterai sudah drop pun tidak masalah, setidaknya masih bisa nyala 30 menit saja.

* Matikan aplikasi keamanan seperti antivirus dsb.

* Matikan koneksi internet, untuk menghindari auto update yang berjalan dilatar belakangan.

* Tutup semua aplikasi.

* Pastikan tool / aplikasi flashing sesuai dengan arsitektur sistem operasinya, kalau Windows 7 32bit ya pakai yang sesuai.


File BIOS nya dapat diunduh pada situs resmi Lenovo, terakhir terdapat pembaharuan pada tahun 2017 dan rupanya untuk update BIOS versi terbaru hanya bisa dilakukan dengan Windows 7. Unduh versi 62CN44WW.


https://pcsupport.lenovo.com/ar/id/products/laptops-and-netbooks/lenovo-g-series-laptops/lenovo-g480-notebook/downloads/driver-list/component?name=BIOS


Caranya cukup mudah, cukup jalankan tool tersebut dan reboot. Eh jangan lupa konfigurasi BIOS dulu setelahnya ya.

Read More

Sunday, January 1, 2017

2017

  No comments
January 01, 2017

Stycil Tux by Cheese.


Tahun kemarin bukanlah tahun yang buruk namun bukan juga tahun yang menarik bagiku. Walaupun harus ku akui ada beberapa peristiwa yang menarik menjelang akhir tahun 2016, tapi tetap saja berasa kurang "wow".


Mitos 1%
Pernahkah terbesit pertanyaan seberapa banyak sih pengguna Linux? Ada yang dapat menjawabnya? Sampai sekarang pun aku juga belum tahu jawaban pastinya.
Akan tetapi jika anda menelusuri sudut-sudut web di internet, angka yang sering muncul adalah lebih dari 1% dari keseluruhan komputer yang ada. Dan lucunya presentase ini bertahan pada satu digit yang sama bertahun-tahun dengan perkembangan yang sangat lambat berbanding dengan penambahan jumlah komputer baru.
Masalah mendasar pada kasus ini adalah acuan metriks yang dipakai tidaklah benar. Data yang sering dipakai sebagai acuan merupakan data hasil penjualan komputer baru -yang sudah tentu valid dengan marginal error sekian persen-. Disinilah letak permasalahannya, hampir semua komputer baru sudah terinstall Windows, hanya sedikit yang sudah terinstall Linux. Cobalah berkunjung ke pusat-pusat penjualan komputer, apa yang anda lihat? Sudah tentu yang terlihat adalah mbak-mbak SPG yang cantik, bukan, bukan itu arah pembicaraanku. Singkatnya walaupun nantinya komputer tersebut di install Linux -baik single boot maupun dual boot- tetap terhitung sebagai Windows sale. Kalau begitu beli komputer kosongan saja? -bukan komputer hanya casingnya saja tanpa isi apapun- sudah tentu donk, lagipula buat apa membayar lisensi kalau ujung-ujungnya memakai Linux juga. Akan tetapi dibeberapa negara mereka tidak mempunyai pilihan ini, tidak ada komputer kosongan -tanpa OS / FreeDOS / Linux-.

Tentu saja ada kajian lain yang menggunakan acuan berbeda, dengan lalu lintas internet sebagai sumbernya, namun sayangnya metode pengumpulan datanya dirahasiakan sehingga hasilnya pun diragukan oleh beberapa pihak. Presentasenya pun tidak jauh berbeda dengan metode sebelumnya, dan presentase ini bertahan pada satu digit yang sama bertahun-tahun. Hal ini berubah ketika pada tahun 2016 secara berturut-turut Linux menduduki lebih dari 2% dan bertahan pada angka 2.5%.

Jadi benarkah angka tersebut valid? dua metode berbeda dengan hasil yang sama walaupun satunya salah sasaran dan satunya lagi tidak jelas.
Komunitas Linux sendiri tidak tinggal diam dan berusaha menghitung jumlah pengguna Linux dengan beberapa inisiatif berbeda. Salah satunya adalah proyek Linux Counter, inisiatif tiap Distribusi, trafik website dll. Namun sayangnya lagi-lagi menampakkan hasil yang sangat tidak maksimal, sehingga tidak ada yang tahu pasti jumlah pengguna Linux yang sebenarnya.

Kalau tidak ada yang tahu lalu kenapa dibahas juga? Coba renungkan -ambil posisi relaks dan tundukan kepala yang diikuti dengan mengheningkan cipta-.
Linux ada dimana-mana, dari yang superkomputer sampai komputer kelas abal-abal, perangkat embedded, perangkat iot, smartphone, router, raspberry pi, dan-lain-sebangsanya-dan-tidak-sebangsanya-pun-masuk-hitungan. Kok bisa Linux cuma 1% ? -atau 2% kalau sekarang- Oh BTW 99.9% superkomputer yang ada didunia ini ditenagai Linux.

Linux pada desktop pun tidak kalah menarik, bahkan akhir-akhir ini terjadi migrasi besar-besaran dari pengguna macOS ke Linux. Untuk gaming pun sudah berkembang pesat beberapa tahun belakangan ini, dan hal ini merupakan salah satu alasan yang membuatku me-reboot blog ini.


Mitos 1% lainnya
Rupanya angka 1 adalah angka keramat di dunia Linux, walaupun kali ini usianya relatif singkat namun ada kalanya untuk kemudahan angkanya dibulatkan menjadi 1%.
Ingin tahu berapa banyak pengguna Steam yang memakai Linux? Jawabannya cukup mudah, 1% dari jumlah total pengguna Steam. Ironisnya presentase ini tidak bertahan lama dan bergeser dikisaran 0.8x%.

Jadi pengguna Linux pada Steam berkurang drastis bukan? Sayangnya tidak benar, hanya saja salah mengartikan data yang diperoleh. Valve menggunakan survey bulanan dengan random sampling sebagai metode surveynya. Nah disini letak menariknya, banyak pengguna Linux yang jarang atau sama sekali tidak mendapat survey. Dapat dibayangkan dengan jumlah pengguna Linux yang sudah jelas lebih sedikit dibandingkan pengguna sistem operasi lainnya. Dengan kata lain 1% itu baru jarang mendapat survey, bagaimana jika semua pengguna Linux mendapatkan survey pada bulan yang sama, baru presentase yang sebenarnya terungkap.

Tapi tetap saja penggunanya berkurang bukan? Dari 1% ke 0.8x%, sayangnya lagi-lagi tidak tepat. Saat terjadinya kemerosotan presentase itu ternyata dibarengi penambahan jumlah pengguna Steam yang signifikan. Jika dikaji dari Steam Dev Days 2016 terlihat bahwa pengguna baru ini didominasi dari benua Asia dan sayangnya sebagian besar tidak menggunakan Linux. Oh BTW apakah anda sadar angka tersebut berupa presentase? Walaupun Valve jarang mengungkap angka sebenarnya berapa jumlah total pengguna aktif Steam, data yang bisa didapatkan dari website Steam itu sendiri berkisar pada 100 juta pengguna Steam baik yang aktif dan pasif.


Kenapa blog ini di-reboot
Jika anda perhatikan terbitan lama blog ini, sudah jelas bahwa durasi waktunya sporadis. Alasan sebenarnya apa sih? Menulis itu susah, apalagi buatku yang bukan seorang penulis, hanya untuk mencari ide artikel saja kadang butuh waktu yang sangat lama, belum lagi menuangkan ide tersebut menjadi artikel dan mengecek ulang hal-hal teknis guna meminimalisir kesalahan prosedur. Oh tidak semua artikel di blog ini orisinal? Dengan kata lain sudah pernah dibahas oleh orang lain. Bukan berarti topik yang dibahas sama lalu kemudian dipukul rata sama isinya. Aku sendiri berusaha seorisinal mungkin dalam hal isi, gaya penulisan, tata bahasa, pengaturan paragraf dan sebagainya. Aku juga berusaha mengganti ritme terbitan blog ini, paling tidak sebulan ada terbitan artikel.


Kenapa game
Saat Valve merilis Steam untuk Linux pada bulan Februari 2013, aku iseng mencobanya pada Arch Linux -ya benar, iseng-. Game pertama yang kuinstall adalah Team Fortress 2 karena Free2Play alias gratis. Sempat vakum lebih dari satu tahun, akhirnya balik lagi pada pertengahan tahun 2014 sampai dengan saat ini.
Biar begini, aku ini dulunya gamers lho -waktu masih belum insyaf dan tersesat didalam rumah dengan satu jendela-. PC yang pertama kurakit berorientasi gaming, walaupun GPU nya bukan kelas atas -mahal euy- tapi bisa dibilang terbitan terbaru saat itu. Kemudian berkenalan dengan yang namanya Linux dan hal pertama yang kulakukan adalah bagaimana caranya menjalankan game dengan Wine. Sukses menjalankan Need For Speed Underground dengan Wine membuatku terpesona dengan Linux, dan seterusnya dan seterusnya...
Sekarang pengguna Linux sudah bisa bernafas lega, menginstall game cukup mudah tinggal klik sana klik sini beres. Dengan adanya topik umum yaitu game setidaknya blog ini ada nafas baru. Tentu saja tidak serta merta semua game baru jadi bahan terbitan, setidaknya dapat berupa format berita saja, bukan review mendalam. Hal ini mengingat keterbatasan-keterbatasan terutama keterbatasan dana, apalagi game triple A rilisan terbaru harganya tidak murah.


Sebagai penutup, diawal tahun 2017 memang sengaja aku membahas 1%, karena hal ini sungguh menggangguku.
Semoga 2017 membawa keberkahan -amin-

Read More

Saturday, September 17, 2016

Kelebihan dan Kekurangan Arch Linux

  5 comments
September 17, 2016

Setelah menggunakan Arch Linux lebih dari 7 tahun -wuih sudah lama juga-, sedikit banyak berubah.
Wah ambigu sekali kalimat tadi, sedikit tapi banyak? kok bisa.
Prosedur instalasi Arch Linux tidaklah banyak berubah, kurang lebih konsep dasarnya masih sama. Disisi yang lain init system yang digunakan berubah drastis, memakai systemd yang kontroversial. KDEMod sudah menjelma menjadi Distro turunan Arch Linux, Chakra Linux. Dengan kata lain paket KDE yang ada di repository berupa paket vanilla, mengikuti proyek upstream. KDE desktop pun sekarang pada revisi mayor ke 5, saat tulisan ini dibuat KDE Plasma 5.8 LTS Beta baru saja dirilis.

KDE Plasma 5.8 LTS Beta.


Sebagai refleksi dari Setahun Menggunakan Arch Linux

Kelebihan :

* Stabil.
Ya, cukup stabil, stack dasarnya juga stabil. Namun tetap perlu adanya strategi bencana -cieh...- dari sisi pengguna. Sebagai contoh disarankan menginstall setidaknya dua versi kernel Linux, rilis terbaru -linux- dan rilis LTS -linux-lts-. Kenapa? karena rilis terbaru kadang terdapat bug, dengan memiliki cadangan kalau diperlukan seketika sudah ada tinggal dipakai saja.
Selera pribadi, aku memakai linux-ck dan linux-lts-ck dari AUR. linux-ck sebagai pilihan utama, dan linux-lts-ck sebagai cadangan. Juga terinstall linux dan linux-zen, karena linux adalah paket default dan menjadi dependensi paket lain, sedangkan linux-zen buat coba-coba saja.
* Rolling Release.
Tidak perlu menunggu rilis terbaru setiap enam / delapan / x bulan. Termutakhir baik dari repository resmi ataupun AUR. Ingin google-chrome-dev? ada, google-chrome-beta? juga ada, google-chrome-stable? pasti ada, chromium-ini-itu? ada juga. Paket experimental seperti aplikasi yang mendukung Wayland? KDE Plasma Beta? semuanya ada baik binary maupun source.
* Vanilla dengan patch seperlunya.
Kenapa paket vanilla itu penting? vanilla itu apa sih? vanilla adalah paket yang tersedia di repository dibangun berdasarkan referensi dari proyek upstream dengan tidak menambahkan patch spesifik untuk Distro tertentu yang hanya menguntungkan Distro tertentu pula. Distro yang "baik" hanya berkolaborasi dan berkontribusi langsung pada proyek upstream, sehingga bermanfaat bagi semua downstream, downstream disini adalah Distro-distro yang lain.
* Distro yang berbasis komunitas.
Arch Linux -dan Distro-distro yang lain- menjadi bukti bahwa proyek berbasis komunitas dapat tumbuh dan berkembang serta bersaing dengan proyek berbasis komersial. Bukan berarti komersial hal yang buruk, namun hanya dua sisi koin yang berbeda.
* Dukungan komunitas melalui wiki, forum, irc dll.
Menemui jalan buntu? Arch Wiki solusinya. Ingin bertanya suatu hal? forum, irc, reddit, g+, dll
* Membuat paket Arch Linux cukup mudah dipahami daripada DEB atau RPM.
Untuk yang satu ini aku tidak berubah pendapat.


Kekurangan :

* Belum memakai Delta Package, sehingga ukuran paket yang didownload relatif besar.
Sejatinya dukungan paket delta sudah ada pada pacman, tinggal diterapkan pada cermin-cermin repository resmi. Berita baiknya, sudah ada satu repository yang mendukung delta.
* Belum memakai Signed Package, walaupun memakai hash check namun paket yang telah di sign lebih terjamin keabsahannya.
Dukungan verifikasi keabsahan paket ini ditambahkan pada Juni 2012
* Koleksi aplikasi belum sebanyak Ubuntu, apalagi Debian. Walaupun ada AUR namun lebih afdol jika paket tersebut masuk ke Community repository.
Kini jumlah paket-paket pada repository Extra dan Community benar-benar bertambah banyak, ditambah lagi AUR.
* Lebih cocok buat Desktop dari pada Server, bukan berarti ga bisa dipakai sebagai Server. Ada proyek komunitas yang memodifikasi Arch Linux supaya cocok dipakai sebagai Server.
* Ditujukan bagi pengguna mahir.
* Tidak ada lingkungan desktop default.
Ini sebenarnya bisa dibilang kelebihan atau kekurangan, dengan adanya fokus pada DE tertentu akan mempercepat perkembangan DE itu sendiri. Namun karena filosofi Arch Linux itu sendiri, penggunalah yang harus menentukan DE yang mana akan dipakai.
* Arsitektur yang didukung tidaklah sebanyak Debian.
Dukungan resmi pada arsitektur x86 32bit dan 64bit. Debian dipakai sebagai acuan karena setahuku Debian merupakan salah satu Distro yang mendukung banyak arsitektur.

Entah apa lagi kelebihan dan kekurangannya, yang jelas belum terbesit keinginan untuk pindah ke Distro yang lain.

Read More

Wednesday, August 17, 2016

Arch Linux dan Elitisme

  No comments
August 17, 2016

Tanpa dipungkiri kepopuleran Arch Linux melejit beberapa tahun belakangan. Seiring dengan hal itu, Distro turunan Arch Linux pun bermunculan seperti Antergos, Chakra, Manjaro, dll. Tujuan Distro turunan tersebut beragam, namun pada umumnya meluaskan jangkauan ke pengguna pemula. Memang Arch Linux utamanya ditujukan bagi pengguna mahir, walaupun tidak sedikit pula pengguna pemula memakai Arch Linux. Adanya Distro turunan tersebut membuka jalan bagi pengguna yang sekedar ingin mencicipi Arch Linux tanpa harus "bersusah payah" mengikuti petunjuk instalasi di Arch Linux Wiki. Namun kenyataannya semua Distro tidaklah sempurna, cepat atau lambat pengguna "baru" ini akan menemui masalah baik yang ringan sampai berat. Mungkin setelah mencoba mencari solusi dengan bantuan mesin pencari tetapi tidak berhasil atau tidak mengerti, langkah selanjutnya adalah menggunakan media lain seperti BBS / forum, IRC, media sosial dll. Sebagai contoh forum yang masih cukup populer digunakan, setelah menjabarkan permasalahan yang dialami pengguna dan mendapatkan respon dari pengguna lainnya. Semuanya berjalan lancar sampai pengguna tersebut secara langsung atau tidak langsung menyebutkan bahwa ia menggunakan Distro turunan Arch Linux. Thread tersebut kemungkinan besar akan dikunci atau dihapus oleh moderator forum.

Sebenarnya apa yang terjadi? Hal tadi merupakan salah satu skenario yang terjadi pada forum Arch Linux. Coba melihat dari sudut pandang yang berbeda, pada dasarnya forum resmi Arch Linux hanya diperuntukkan bagi pengguna Arch Linux dan itu adalah salah satu aturan resmi forum. Perlu dicatat bahwa ada subforum yang diperbolehkan topik dengan cakupan luas. Hal tersebut diperparah dengan cukup banyaknya pengguna-pengguna baru yang melanggar aturan resmi forum. Tentunya setiap orang mempunyai pendapat yang berbeda menggenai apa yang termasuk melanggar aturan atau tidak. Perbedaan pendapat ini menjadi salah satu pemicu munculnya sentimen terhadap pengguna Arch Linux dan sentimen ini kadang kala terlihat di media sosial yang lain. Entah bagaimana penilaian yang tidak objektif ini lebih cenderung diterima. Faktanya pengguna mahir yang menggunakan Distro seperti Arch Linux, Debian, Gentoo dll, biasanya suka membantu pengguna baru tanpa memandang Distro apa yang dipakai.

Jadi memiliki banyak Distro turunan merupakan hal yang buruk? Tentu saja tidak, lihatlah Debian, salah satu Distro tertua dan memiliki banyak Distro turunan. Salah satu parameter suksesnya suatu Distro adalah memiliki banyak Distro turunan. Bukan berarti Arch Linux tidak mendukung Distro turunan, namun kadang kita melupakan satu hal yang mendasar. Setiap tempat memiliki aturan sendiri. Bukanlah elitisme jika mengikuti aturan main di forum.

Itu baru membahas satu sisi saja. Apakah cukup? bagaimana dengan yang lain?. Fansboisme ada pada tingkat apapun, entah itu sistem operasi, distribusi, lingkungan desktop, aplikasi bahkan editor teks pun tidak luput dari fansboisme. Pandangan subyektif dan obyektif tiap individu yang mempengaruhi pilihan pada suatu hal, secara tidak sadar akan membenarkan pilihannya itu dan mempertahankan pilihannya itu sampai pada titik tertentu. Dari sudut pandang orang lain pada satu individu tidak ada yang benar dan salah. Pada skala yang melibatkan banyak individu pun tidak ada yang benar dan salah. Tidak, aku tidak membicarakan sains terapan, aku membicarakan seni seperti halnya interpretasi yang berbeda ketika melihat lukisan. Tidaklah aneh jika pengguna Arch Linux membanggakan Distro nya. Tidaklah berlebihan ketika pengguna Arch Linux mengatakan Arch Linux Wiki hampir mencakup semua hal. Yang aneh justru menganggap semua itu adalah elitisme semata.

Dua sisi rasanya cukup...

Read More

Sunday, July 24, 2016

Material

  No comments
July 24, 2016

Kini sudah tak asing lagi mendengar kata Material Design.


Material ini, Material itu, Material danlainlainyangmiripataugakmiripsamasekali.


Blog ini telah di-Materialisasikan juga,


Selesai.


Update :
Mohon maaf untuk terbitan yang membingungkan ini, sejatinya ditujukan sebagai reboot dari blog ini. Tak disangka muncul di search engine dan siapapun yang membaca laman ini pastinya marah-marah sambil membanting laptop masing-masing, karena isinya yang sungguh tidak jelas.

Sebagai kredit :
Jika anda mencari template blogger gratis yang berbasis material design silahkan unduh disini http://www.fostrap.com

Jangan lupa membackup template yang anda pakai saat ini dan menyesuaikan dahulu sebelum memakai template yang baru. Untuk menghargai hak cipta, jangan menghilangkan kredit pengembang aslinya.

Read More

Wednesday, April 18, 2012

Faktor M2

  No comments
April 18, 2012

Well terulang lagi, entah kenapa semakin malas menulis, padahal terbesit akan menulis beberapa hal.

Ya! aku masih "tertarik" dengan Linux dan masih berkutat dengan ku "Unix" an nya.
bicara tentang Unix, jadi teringat artikel-artikel tentang Dennis M Ritchie dan sedikit banyak -ambigu?- kecewa dengan cara berfikir kebanyakan orang awam.
cukup banyak -ambigu lagi?- berita tentang kepergian Steve Jobs, tapi tidak banyak pemberitaan tentang kepergian Dennis M Ritchie.

WHAT'S WRONG WITH YOU PEOPLE?

Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Dennis M Ritchie lebih berjasa?
Bagaimana sebenarnya mereka mendefinisikan "kesuksesan"? Apakah "harta" menjadi acuannya?

Mungkin terlalu berlebihan menilai suatu hal dari satu sisi, namun...
Bagaimanapun juga anda berhak menilai kondisi "kejiwaan" ku, hehe

Um.,. well, akhir-akhir ini ku sempatkan membaca beberapa buku-buku klasik fiksi ilmiah, yang isinya sungguh menarik.,. sebut saja Robert.A Heinlein, H.G Wells, Philip.K Disk, Isaac Asimov, Douglas Adams.

Read More

Monday, October 10, 2011

Fun Fun Fun

  No comments
October 10, 2011

Berapa kali -atau kali berapa?- anda gagal meng-install Distro Linux?

Jawabnya sudah tentu tergantung seberapa banyak anda meng-install pada konfigurasi hardware yang berbeda. Berdasarkan pengalaman pribadi, sangat jarang terjadi kasus gagal install, karena installer tiap distro biasanya cukup stabil menjalankan tugasnya.

Namun bukan berarti tidak mungkin terjadi bukan? Kalau dihitung-hitung baru sekali.,. tepatnya beberapa hari yang lalu saat membantu meng-install Ubuntu 11.04 pada laptop temanku -ya.,. aku tau, aku tau Ubuntu 11.10 akan dirilis dalam beberapa hari-.

Well, that's embarrassing.,. soalnya aku juga yang menyakinkan temanku untuk mencoba Linux pada laptop barunya. Singkat cerita installer Ubuntu hang pada tahap terakhir saat mengkonfigurasi hardware.

Hal itu tidak berhenti begitu saja karena saat mencoba Chakra 2011.09, kecepatan USB nya sangatlah lambat sehingga aku urungkan meng-installnya. Hari itu berakhir tanpa hasil.,. LOL
Sebagai catatan, baik Ubuntu 11.04 dan Chakra 2011.09 berjalan baik saat live session dan installasi pada laptopku.

Ada yang lain lagi?
Sebenarnya ada, tapi tidak berhubungan dengan Linux. Kasusnya masih terjadi pada laptop yang sama, saat meng-install Windows 7 via USB FD. Laptop tersebut sudah mendukung USB 3.0, sedangkan USB FD yang digunakan sebagai media install masih USB 2.0. Proses booting lancar sampai installer Windows tampil dan gagal melanjutkan proses installasi. Apa yang terjadi ya.,.?

Kurang lebih begini penjelasan 'teknis' nya, saat booting kendali hardware masih dipegang BIOS sampai saat installer dieksekusi, dimana BIOS sudah pasti mengenali USB 3.0 -yang kompatibel USB 2.0-, namun installer Windows 7 sama sekali tidak menggenali USB 3.0, maka dari itu instalasi gagal dilanjutkan. Bagaimana dengan Windows 7 SP1? Well, belum nyoba.,. LOL

Read More

Wednesday, November 4, 2009

Melihat Kebelakang

  3 comments
November 04, 2009

1995

Masih teringat ketika pertama kali melihat komputer milik temanku, berhubung saat itu aku masih SD jadinya belum terlalu tahu fungsi komputer. Sekitar tahun 1995, harga PC saat itu terbilang sangat mahal. Prosesornya sudah tentu masih Intel Pentium 80xxx.
Sebenarnya mau ikut les komputer, tapi yang ikutan kebanyakan siswa SMU, jadi batal deh.
Sistem Operasi yang dipakai kebanyakan DOS (Disk Operating System) dan Windows 3.xx, jangan salah walaupun ga ngerti tapi aku sudah lihat Windows 95 lho (untuk saat itu terbilang cukup cepat mendapatkan copy wareznya).
Saat masuk bangku SMP eh malah dapat pelajaran DBASE, masih berbasis DOS tuh. SMU lebih parah lagi ga dapat pelajaran tentang komputer sama sekali.

2002

Walaupun sempat terlupakan, selepas SMU keinginanku untuk belajar komputer bergejolak kembali. Mengambil Jurusan Teknisi Komputer setara Diploma 1 bukanlah pilihan buruk, justru inilah awal dari petualanganku.
Awalnya memang bukan hal yang mudah untuk mengetahui seluk beluk perangkat keras dan perangkat lunak. Namun hari demi hari berlalu dengan sedikit potongan ilmu terekam di kepala. Sistem Operasi yang ku pelajari sudah tentu dari keluarga Windows (Windows 98, Windows 2000, dan Windows Xp), bahkan saat itu dalam benak ku hanya Windows lah satu-satunya sistem operasi, namun setelah mendapatkan pencerahan baru aku tahu ternyata terdapat banyak sistem operasi di dunia ini. Di kemudian hari mulai beranjak ke Novell Netware, Salah satu sistem operasi khusus jaringan. Linux? pernah denger sich, tapi blom sempet nyentuh secara langsung.

Hari yang dinanti tiba, PC pertamaku hadir mengiringi langkahku. Dari spesifikasinya sich emang bwt game c, habis masih kerajingan Counter Strike. Namun pada prakteknya lebih sering ku oprek bwt 'riset' sistem operasi lain. Karena masih penasaran sama yang namanya Linux, berburu buku-buku dan majalah tentang Linux sudah menjadi hoby baru.

Distro Pertama

Red Hat 9, namun sial karena hardware ku ga didukung sama Kernel Linux 2.4.x yang tampil di monitor malah Kernel Panic. Lalu Mandrake 10.0 (kini Mandriva) yang bernasib sama seperti Red Hat 9 karena keduanya masih memakai versi Kernel yang sama.
Sempat vakum beberapa bulan guna menunggu rilis Distro terbaru, tapi tenang saja kan masih bisa "maen" sistem operasi laennya. Untuk mengenang masa lalu, aku menginstall Windows 3.xx dan Windows 95 dengan bantuan mesin virtual BOCHS, semuanya karena iseng semata.
Beberapa bulan berselang, Fedora Core 1 (kini Fedora) dengan upgrade ke Kernel Linux 2.6.x dirilis kepublik. Pada dasarnya Fedora Core 1 merupakan Red Hat 10, karena Red Hat Inc menghilangkan dukungan ke pengguna Desktop dan berkonsentrasi pada level Enterprise, maka muncul lah Distro Fedora Core yang merupakan versi komunitasnya Red Hat. Bisa dibilang Fedora Core lah Distro pertama yang berhasil terinstall di PC ku. Seperti kebanyakan newbie-newbie laennya, awalnya aku selalu menghadapi kendala-kendala saat menggunakan Linux.

Distro Hopper

Rasanya sejak menggenal Linux semua Distro Utama (lihat Distrowatch) sudah pernah aku coba kecuali Debian. Sebut saja Ubuntu, SuSE (kini openSUSE), Slackware, Mandrake (kini Mandriva), Fedora Core, Mepis, PC Linux OS, belum lagi Distro-distro kecil dan lain-lain nya, terlalu panjang untuk disebutkan semua. Pilihanku jatuh pada SuSE 9.1, alasannya sederhana sich karena SuSE merupakan Distro dengan tampilan terbaik saat itu (menggunakan KDE 3.5.x), dan lagi rutin pendeteksian hardwarenya sangat bagus, sehingga semua hardwarenya bisa berjalan dengan lancar.
Waktu pun berlalu, aku masih setia dengan openSUSE, YaST (Yet Another System Tools) nya pun semakin lengkap modul-modulnya. SuSE 9.1, 9.2, 9.3 lalu kemudian dibeli oleh Novell berganti menjadi openSUSE 10.0, 10.1, 10.2, 10.3, 11.0, 11.1, selalu terlihat peningkatan yang berarti pada setiap rilis terbarunya (dan dalam beberapa hari lagi openSUSE 11.2 dirilis). Namun sayang karena terdapat sedikit perbedaan ideologi, akhirnya aku memutuskan mengganti Distro Utamaku dengan Arch Linux, yang menurutku lebih "bersih" dari intervensi-intervensi perusahaan laen. Tapi sekali lagi semoga kedepan hal tersebut bisa berubah, karena bagaimanapun openSUSE memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki Distro laennya.

Multi Distro

Mungkin terdengar aneh, tapi aku menganut konsep ini. 1 Distro utama + beberapa Distro lainnya wajib terinstall. Alasanya? sederhana sich, hanya untuk merasakan pengalaman menggunakan Distro lainnya, disamping itu sebagai cadangan ketika Distro utama ku menggalami masalah.
Distro utama ku saat ini adalah Arch Linux, sedangkan yang kedua adalah openSUSE, kemudian Ubuntu (atau Linux Mint turunan dari Ubuntu). Hampir 90% waktuku memakai komputer atau laptop kuhabiskan dengan Arch Linux.

Sistem Operasi Lainnya

Walaupun Linux adalah sistem operasi utama ku, tetap saja tidak menggurangi rasa keingintahuanku mencicipi sistem operasi lainnya. Sebut saja dari keluarga BSD Unix, ReactOS (klonning dari Windows Xp), MonaOS, Haiku (klonning dari BeOS), dll. Untuk sekarang relatif lebih mudah untuk mencoba hal tersebut diatas, dengan memakai tekhnologi virtualisasi ga perlu menginstall pada komputer beneran. Kalau dulu aku lebih mengandalkan BOCHS dan Qemu, namun sekarang rasanya VirtualBox memiliki banyak fitur dan menawarkan kemudahan dari pada dua solusi sebelumnya.

Kini

Memang yah, ternyata ilmu itu ga ada habisnya, semakin dipelajari semakin menarik.
CD-CD Linux ku kini telah menjadi koleksi di rak, bukannya tersiakan, tp CD-CD itu yang telah mengiringi langkahku selama ini.,.

Read More

Sunday, November 1, 2009

Sebuah Langkah

  No comments
November 01, 2009

Sebelumnya ga pernah kepikiran bwt sebuah blog, setelah lama menyentuh internet ga afdol rasanya tanpa memiliki sebuah blog.,.
So this is my first post,

Salam kenal,

Read More