Sabtu, 17 September 2016

Video LinuxCon 2016 dan Akademy (QtCon) 2016

  Tidak ada komentar

Kelebihan dan Kekurangan Arch Linux

  Tidak ada komentar
09.52.00

Setelah menggunakan Arch Linux lebih dari 7 tahun -wuih sudah lama juga-, sedikit banyak berubah.
Wah ambigu sekali kalimat tadi, sedikit tapi banyak? kok bisa.
Prosedur instalasi Arch Linux tidaklah banyak berubah, kurang lebih konsep dasarnya masih sama. Disisi yang lain init system yang digunakan berubah drastis, memakai systemd yang kontroversial. KDEMod sudah menjelma menjadi Distro turunan Arch Linux, Chakra Linux. Dengan kata lain paket KDE yang ada di repository berupa paket vanilla, mengikuti proyek upstream. KDE desktop pun sekarang pada revisi mayor ke 5, saat tulisan ini dibuat KDE Plasma 5.8 LTS Beta baru saja dirilis.

KDE Plasma 5.8 LTS Beta.


Sebagai refleksi dari Setahun Menggunakan Arch Linux

Kelebihan :

* Stabil.
Ya, cukup stabil, stack dasarnya juga stabil. Namun tetap perlu adanya strategi bencana -cieh...- dari sisi pengguna. Sebagai contoh disarankan menginstall setidaknya dua versi kernel Linux, rilis terbaru -linux- dan rilis LTS -linux-lts-. Kenapa? karena rilis terbaru kadang terdapat bug, dengan memiliki cadangan kalau diperlukan seketika sudah ada tinggal dipakai saja.
Selera pribadi, aku memakai linux-ck dan linux-lts-ck dari AUR. linux-ck sebagai pilihan utama, dan linux-lts-ck sebagai cadangan. Juga terinstall linux dan linux-zen, karena linux adalah paket default dan menjadi dependensi paket lain, sedangkan linux-zen buat coba-coba saja.
* Rolling Release.
Tidak perlu menunggu rilis terbaru setiap enam / delapan / x bulan. Termutakhir baik dari repository resmi ataupun AUR. Ingin google-chrome-dev? ada, google-chrome-beta? juga ada, google-chrome-stable? pasti ada, chromium-ini-itu? ada juga. Paket experimental seperti aplikasi yang mendukung Wayland? KDE Plasma Beta? semuanya ada baik binary maupun source.
* Vanilla dengan patch seperlunya.
Kenapa paket vanilla itu penting? vanilla itu apa sih? vanilla adalah paket yang tersedia di repository dibangun berdasarkan referensi dari proyek upstream dengan tidak menambahkan patch spesifik untuk Distro tertentu yang hanya menguntungkan Distro tertentu pula. Distro yang "baik" hanya berkolaborasi dan berkontribusi langsung pada proyek upstream, sehingga bermanfaat bagi semua downstream, downstream disini adalah Distro-distro yang lain.
* Distro yang berbasis komunitas.
Arch Linux -dan Distro-distro yang lain- menjadi bukti bahwa proyek berbasis komunitas dapat tumbuh dan berkembang serta bersaing dengan proyek berbasis komersial. Bukan berarti komersial hal yang buruk, namun hanya dua sisi koin yang berbeda.
* Dukungan komunitas melalui wiki, forum, irc dll.
Menemui jalan buntu? Arch Wiki solusinya. Ingin bertanya suatu hal? forum, irc, reddit, g+, dll
* Membuat paket Arch Linux cukup mudah dipahami daripada DEB atau RPM.
Untuk yang satu ini aku tidak berubah pendapat.


Kekurangan :

* Belum memakai Delta Package, sehingga ukuran paket yang didownload relatif besar.
Sejatinya dukungan paket delta sudah ada pada pacman, tinggal diterapkan pada cermin-cermin repository resmi. Berita baiknya, sudah ada satu repository yang mendukung delta.
* Belum memakai Signed Package, walaupun memakai hash check namun paket yang telah di sign lebih terjamin keabsahannya.
Dukungan verifikasi keabsahan paket ini ditambahkan pada Juni 2012
* Koleksi aplikasi belum sebanyak Ubuntu, apalagi Debian. Walaupun ada AUR namun lebih afdol jika paket tersebut masuk ke Community repository.
Kini jumlah paket-paket pada repository Extra dan Community benar-benar bertambah banyak, ditambah lagi AUR.
* Lebih cocok buat Desktop dari pada Server, bukan berarti ga bisa dipakai sebagai Server. Ada proyek komunitas yang memodifikasi Arch Linux supaya cocok dipakai sebagai Server.
* Ditujukan bagi pengguna mahir.
* Tidak ada lingkungan desktop default.
Ini sebenarnya bisa dibilang kelebihan atau kekurangan, dengan adanya fokus pada DE tertentu akan mempercepat perkembangan DE itu sendiri. Namun karena filosofi Arch Linux itu sendiri, penggunalah yang harus menentukan DE yang mana akan dipakai.
* Arsitektur yang didukung tidaklah sebanyak Debian.
Dukungan resmi pada arsitektur x86 32bit dan 64bit. Debian dipakai sebagai acuan karena setahuku Debian merupakan salah satu Distro yang mendukung banyak arsitektur.

Entah apa lagi kelebihan dan kekurangannya, yang jelas belum terbesit keinginan untuk pindah ke Distro yang lain.

Read More

Jumat, 16 September 2016

Etcher Image Flasher untuk SDCard dan USB drive

  Tidak ada komentar
11.38.00

Etcher.


Ingin membakar image Distro ke flashdisk? Mudah sekali, tinggal dd beres.
Eit, tapi tunggu dulu... tidak sedikit pengguna yang salah target ketika ber-dd ria. Ya kalau target drive isinya tidak penting, kalau target drivenya harddisk 1TB bisa serangan jantung yang punya.
Kan banyak aplikasi berbasis grafis seperti UNetbootin, YUMI, SUSE Studio Imagewriter, dll.
Lalu apa bedanya? Apa yang ditawarkan Etcher?

Aman dan mudah digunakan dengan antarmuka yang indah, opensource dibuat dengan JS, HTML, node.js dan electron, crossplatform mendukung Linux/macOS/Windows, validasi hasil bakar.
Menurutku sih kemudahannya setara dengan SUSE Studio Imagewriter, bedanya? Etcher didistribusikan hanya berupa AppImage.
Sudah lama aku ingin mencoba AppImage, baru sekarang kesampaian, hehehe...

Bagaimana caranya?
1. download Etcher dari https://www.etcher.io sesuaikan arsitekturnya, 32bit (x86) atau 64bit (x64)
2. jadikan executable
dari terminal
$ chmod a+x Etcher-linux-x64.AppImage
atau dari file manager seperti Dolphin

Properties, ubah menjadi is executable.


3. jalankan dengan hak setara root
dari terminal
$ sudo ./Etcher-linux-x64.AppImage

Untuk Etcher memang diperlukan akses setara root, sedangkan untuk aplikasi "biasa" seperti Mozilla Firefox, tidak perlu hak setara root.

Justice League, eh maksudnya pilih img, iso atau zip.

Bakaaaaaaaa....r.

Hangus sudah, selesai.

Read More

Selasa, 06 September 2016

Review : Xiaomi Bluetooth Gamepad di Linux

  Tidak ada komentar
13.22.00



Terbesit keinginan untuk membeli gamepad baru setelah gamepad KW PS dualshock murah meriahku rusak lagi, padahal baru dipakai beberapa kali.
Sudah kali ketiga punya gamepad semacam ini, semuanya cepat rusak, sigh...
Daripada ribet, mending beli yang agak mahalan dikit, dan dimulailah pencarian.

Target pertama, Steam Controller. Gamepad besutan VALVe ini memang tergolong unik dikelasnya, sayangnya tidak tersedia di Indonesia -facepalm-. Mau dikata di iming-imingi diskon tapi kalau tidak tersedia disini ya percuma saja. Pesan langsung dari luar negeri? silahkan saja kalau punya dompet tebal, biaya dan-lain-sebagai-nya itu yang bikin -facepalm-.

Target kedua, Xbox Controller. Gamepad defacto untuk platform PC, dukungan dari komunitas Linux sangat baik sehingga langsung dapat dipakai di Linux. Sayangnya karena popularitas inilah yang menjadikannya sebagai target KW, mulai dari KW kelas paus sampai kelas teri. Mirisnya dari sekian toko online yang aku lihat, jarang sekali yang jujur menuliskan bahwa produknya KW, bukan original. Jangan tergiur dari tampilan gamepad dan box nya yang sangat mirip dengan produk original. Masih mending membeli produk yang kompatibel, bukan Xbox Controller tapi kompatibel seperti Xbox Controller. Dari hasil blusukan di pojokan forum-forum, ada yang mengklaim bahwa lebih dari 90sekian persen produk ini yang beredar di Indonesia tidak original -citation needed-.

Target ketiga, PS Controller. Ceritanya hampir sama seperti Xbox Controller.

Target keempat, Logitech Gamepad. Ada tiga dua model, Logitech F310 Gamepad dan Logitech F710 Wireless Gamepad.

Target kelima, entahlah. Sampai disini aku bingung harus memilih yang mana. Kehendak dan dompet berkata lain, maunya beli yang Logitech saja soalnya dukungan komunitas Linux sudah bagus juga. Tapi entah mengapa tiba-tiba nyasar pada laman Xiaomi Bluetooth Gamepad, coba cari tahu dukungan gamepad ini di Linux hasilnya nihil. Meskipun begitu, akhirnya nekat beli juga.



Dua hari barangnya sampai juga, dus coklat berisi gamepad beserta baterai dan manual berbahasa cina -yang tidak kumengerti artinya-.
Tidak ada masalah dengan pairing, KDE Bluedevil menyanding 小米蓝牙手柄 dengan mudah.

KDE Bluedevil.


Sebelumnya cukup menambahkan konfigurasi supaya joystick tidak mengontrol cursor.
Buka Steam, masuk ke Big Picture Mode untuk mengkonfigurasi pemetaan tombol-tombol gamepad, Mi button / Guide button tidak dapat dipetakan loncati saja dan simpan.

Steam Big Picture Mode, konfigurasi gamepad.


Sekarang tinggal mencari game yang mendukung gamepad dikatalog Steam ku. Yang telah terinstall saat ini :

Dust: An Elysian Tail
FEZ
LIMBO
Mercenary Kings
Outland
Retro City Rampage DX
Stardew Valley
Super Meat Boy
Tales from Space: Mutant Blobs Attack

Dust: An Elysian Tail.

FEZ.

LIMBO.

Mercenary Kings.

Outland.

Retro City Rampage DX.

Stardew Valley, musim dingin ternyata dingin juga yah -ya iya lah masa panas-.

Super Mario Bros.

Tales from Space: Mutant Blobs Attack.

FPS yang menggunakan Source engine seperti, Half-Life 2 dan Team Fortress 2. Sudah lupakan saja, kalau mau bermain FPS sebaiknya menggunakan keyboard dan mouse.

Separuh-Nyawa 2, berarti sekarang tinggal seperempat.

Team Fortress 2, the best hat simulator.

Tidak lupa mencoba Euro Truck Simulator 2 dengan bantuan Antimicro.

Mana ujan gak ada ojek becek lagi, eh tapi lagi naik truk.


Menurutku sih dari segi bentuk gamepad ini cukup nyaman digenggam dan ringan. Presisi joystick dan dead zonenya oke. Tombol-tombolnya cukup empuk. Koneksi bluetoothnya pun tidak nge-lag. Untuk baterainya sudah lebih dari 80 jam kupakai bermain Stardew Valley saja, belum game yang lainnya. Fitur auto power off jika gamepad tidak dipakai setelah sekian menit.

Kekurangannya, tombol D-pad yang kurang menonjol jadi kesannya agak susah ditekan.
Gamepad ini ditenagai dua baterai AA, tanpa kabel dan port untuk mengisi ulang jadinya perlu beli baterai yang bisa di isi ulang.

Yang belum dicoba adalah fitur rumble (getar) dan accelerometer. Untuk rumble sendiri, aku belum begitu paham sebenarnya dimana yang bertanggung jawab atas fitur tersebut, kemungkinan besar pada stack Xpad driver. Mi Button / Guide Button juga tidak bisa dipetakan, walaupun ketika dicoba dengan evtest dapat berfungsi.
Sejatinya target pemasaran gamepad ini adalah pengguna Android, maka accelerometer pun disertakan.

Berhubung cuma satu merk gamepad yang direview, tidak ada yang dijadikan acuan perbandingan. Namun jika membaca perbandingan gamepad bluetooth untuk Android pada situs lain, tentunya Xiaomi Bluetooh Gamepad ini bukanlah yang terbaik. Ada beberapa merk yang direkomendasikan dengan harga yang relatif lebih mahal. Sayangnya aku orangnya simple, yang penting bisa dipakai dan awet, semoga saja...

Read More

Rabu, 24 Agustus 2016

25 Tahun Linux

  Tidak ada komentar
05.14.00

Tux lagi menikmati kue ulang tahun.


Wow, Linux berusia 25 tahun sekarang.
Jujur saja bingung harus menulis apa, setelah memakai Linux bertahun-tahun jadi merasakan bagaimana Linux berkembang. Bahkan sekarang Linuxer sudah bisa main game AAA maupun indie -hal yang dulu dianggap mimpi dan tidak mungkin tercapai-. Tapi sekarang lihatlah...


P.S. penggunaan kata Linux disini tidak hanya mencakup kernel saja, namun melingkupi platform secara keseluruhan.

Read More

Senin, 22 Agustus 2016

Broadcom Bluetooth Patch Not Found

  Tidak ada komentar
07.34.00

$ dmesg | grep Bluetooth

Bluetooth: Core ver 2.21
Bluetooth: HCI device and connection manager initialized
Bluetooth: HCI socket layer initialized
Bluetooth: L2CAP socket layer initialized
Bluetooth: SCO socket layer initialized
Bluetooth: hci0: BCM: chip id 63
Bluetooth: hci0: valley-force
Bluetooth: hci0: BCM20702A1 (001.002.014) build 0000
bluetooth hci0: Direct firmware load for brcm/BCM20702A1-0489-e032.hcd failed with error -2
Bluetooth: hci0: BCM: Patch brcm/BCM20702A1-0489-e032.hcd not found
Bluetooth: BNEP (Ethernet Emulation) ver 1.3
Bluetooth: BNEP filters: protocol multicast
Bluetooth: BNEP socket layer initialized
Bluetooth: RFCOMM TTY layer initialized
Bluetooth: RFCOMM socket layer initialized
Bluetooth: RFCOMM ver 1.11


Dalam rangka merapikan gigibiru yang berantakan, aku mendarat pada sebuah website / blog yang membahas tentang cara menambal firmware bluetooth pada chipset broadcom. Siapa tahu dapat menyelesaikan masalah bukan? Tidak ada salahnya jika harus mencoba -walaupun ujung-ujungnya tidak membantu sama sekali-.

Selama ini tanpa patch pun bluetooth tetap bisa dipakai, jadi aku abaikan saja. Tapi berhubung sudah ter-install, ya sudah lah.

Yang dibutuhkan adalah driver bluetooth broadcom untuk wind*ws dan hex2hcd yang termasuk di paket bluez-utils. Untuk driver bluetooth broadcom bisa dari vendor apapun asalkan terbaru, termasuk patch, dan kalau bisa bukan file installer (exe / msi). Dikarenakan file installer memerlukan tool lagi seperti innoextract.

Sebagai contoh driver bluetooth dari Asus, referensi paket. File yang dimaksud adalah Bluetooth_V1201650_WHQL_Win10.zip -gunakan mesin pencari untuk mirrornya-.

Download dan extract, buka direktori Bluetooth > BCM_DriverOnly > 64 (untuk 64bit).
cari *.inf file, buka file bcbtums-win8x64-brcm.inf dengan text editor seperti kwrite.
buka terminal, ketik lsusb diikuti enter.

$ lsusb

Bus 004 Device 003: ID 058f:6366 Alcor Micro Corp. Multi Flash Reader
Bus 004 Device 002: ID 8087:0024 Intel Corp. Integrated Rate Matching Hub
Bus 004 Device 001: ID 1d6b:0002 Linux Foundation 2.0 root hub
Bus 001 Device 005: ID 0c45:6455 Microdia
Bus 001 Device 004: ID 0489:e032 Foxconn / Hon Hai Broadcom BCM20702 Bluetooth
Bus 001 Device 014: ID 046d:c52f Logitech, Inc. Unifying Receiver
Bus 001 Device 013: ID 1a40:0101 Terminus Technology Inc. Hub
Bus 001 Device 018: ID 201e:2009
Bus 001 Device 011: ID 046d:c52f Logitech, Inc. Unifying Receiver
Bus 001 Device 010: ID 1a40:0101 Terminus Technology Inc. Hub
Bus 001 Device 002: ID 8087:0024 Intel Corp. Integrated Rate Matching Hub
Bus 001 Device 001: ID 1d6b:0002 Linux Foundation 2.0 root hub
Bus 003 Device 001: ID 1d6b:0003 Linux Foundation 3.0 root hub
Bus 002 Device 001: ID 1d6b:0002 Linux Foundation 2.0 root hub


Dimana Bus 001 Device 004: ID 0489:e032 Foxconn / Hon Hai Broadcom BCM20702 Bluetooth merupakan modul bluetooth. Yang penting disini adalah ID 0489:e032 , dimana 0489 adalah vendor id dan e032 adalah produk id.
Kembali pada file .inf yang telah dibuka tadi, kwrite > edit > find, isikan dengan "0489&PID_E032" (sesuaikan dengan vendor dan produk id anda).
Dari hasil pencarian tadi, lihat sebelah kirinya ada DeviceDesc. Sialnya dengan "0489&PID_E032" menemukan dua hasil yaitu RAMUSBE032 untuk Win8.0 dan BlueRAMUSBE032 untuk Win8.1 dan Win10. Namun keduanya merujuk pada satu file yaitu BCM20702A1_001.002.014.1443.1485.hex

Hasil extract

Edit .inf dengan Kwrite

Mencari 0489&PID_E032

Dari hasil pencarian sebelumnya, mencari BlueRAMUSBE032

Ketemu juga biang keladinya

Buka terminal pada direktori kerja, eksekusi
$ hex2hcd BCM20702A1_001.002.014.1443.1485.hex

Hasil konversi hex ke hcd

lalu rename BCM20702A1_001.002.014.1443.1485.hex ke BCM20702A1-0489-e032.hcd
BCM20702A1-0489-e032.hcd diambil dari keluaran log pada paragraf awal diatas, sesuaikan namanya dengan keluaran log komputer anda.
Atau bisa juga langsung
hex2hcd BCM20702A1_001.002.014.1443.1485.hex -o BCM20702A1-0489-e032.hcd


Salin file dengan hak setara root
$ sudo cp BCM20702A1-0489-e032.hcd /usr/lib/firmware/brcm/


Restart bluetooth daemon atau reboot.

$ dmesg | grep Bluetooth

Bluetooth: Core ver 2.21
Bluetooth: HCI device and connection manager initialized
Bluetooth: HCI socket layer initialized
Bluetooth: L2CAP socket layer initialized
Bluetooth: SCO socket layer initialized
Bluetooth: hci0: BCM: chip id 63
Bluetooth: hci0: valley-force
Bluetooth: hci0: BCM20702A1 (001.002.014) build 1465
Bluetooth: hci0: BCM20702A1 (001.002.014) build 1465
Bluetooth: hci0: Broadcom Bluetooth Device
Bluetooth: BNEP (Ethernet Emulation) ver 1.3
Bluetooth: BNEP filters: protocol multicast
Bluetooth: BNEP socket layer initialized
Bluetooth: RFCOMM TTY layer initialized
Bluetooth: RFCOMM socket layer initialized
Bluetooth: RFCOMM ver 1.11


Selamat Menikmati -dikirain makanan apa-.

Read More

Rabu, 17 Agustus 2016

Bluetooth Oh Gigibiru

  Tidak ada komentar
11.29.00

Serba tanpa kabel sudah menjadi hal yang lazim sekarang. Baru-baru ini aku membeli sebuah headset bluetooth dan xiaomi bluetooth gamepad. Tinggal nyalakan, pair, connect dan nikmati. Memang semudah itu. KDE Bluedevil cukup mudah digunakan dibandingkan menggunakan Bluez lewat terminal. Sebenarnya Bluedevil merupakan antarmuka grafis dari Bluez -bluetooth stack pada Linux-, jadi perbandingan tadi benar-benar ngawur.

Namun bagaimana jika perangkat yang sebelumnya bekerja dengan baik tiba-tiba ngambek? Apakah rusak? Baru saja dipakai tidak lebih dari sehari masak sudah rusak sih?. Terutama xiaomi bluetooth gamepad, yang tergolong bukan gamepad / controller murahan. Padahal kemarin seharian dipakai main Steam games, dan tidak hanya satu judul game saja. Okelah mungkin baterainya sudah habis, ganti baru. Reboot berulang kali, repairing lagi masih belum berfungsi juga. Eh tapi kok headsetnya juga ikutan tidak bisa yah?. Coba sambung ke handphone, tidak bisa juga. Okelah beli usb bluetooth 4.0 dengan chipset CSR. Dengan Bluedevil maupun Bluez pun tetap nihil.

Setelah frustasi sambil membanting laptop, headset dan gamepad, akhirnya menyerah juga dan melampiaskan kemarahan ke Team Fortress 2, sudah tentu tanpa gamepad karena FPS -first person shooter-. Hari itu berlalu begitu saja tanpa ada solusi.

Esoknya mencoba search pakai mesin pencari, tapi rasanya bukan itu pokok permasalahannya. Aku mencoba menilik /var/lib/bluetooth. Setelah membuat cadangan, sudo rm -r /var/lib/bluetooth lah jadi andalan. Berharap konfig baru akan menyelesaikan masalah, namun tetap saja ngambek. Setelah sebentar merenung tentang si gigibiru ini, baru ingat ini kan konfig dari Bluez 4, mungkin saja ada sedikit perubahan di Bluez 5. Yang jelas konfig Bluez 5 disimpan per adapter, setelah melihat satu persatu file pada cadangan yang dibuat tadi. Tinggal di salin saja konfig headset dan gamepad ke direktori adapter.

Reboot... viola akhirnya bisa ngegame pake gamepad lagi.


Moral dari cerita diatas : buatlah cadangan file sebelum mengubrak-abrik.

Read More

Arch Linux dan Elitisme

  Tidak ada komentar
09.58.00

Tanpa dipungkiri kepopuleran Arch Linux melejit beberapa tahun belakangan. Seiring dengan hal itu, Distro turunan Arch Linux pun bermunculan seperti Antergos, Chakra, Manjaro, dll. Tujuan Distro turunan tersebut beragam, namun pada umumnya meluaskan jangkauan ke pengguna pemula. Memang Arch Linux utamanya ditujukan bagi pengguna mahir, walaupun tidak sedikit pula pengguna pemula memakai Arch Linux. Adanya Distro turunan tersebut membuka jalan bagi pengguna yang sekedar ingin mencicipi Arch Linux tanpa harus "bersusah payah" mengikuti petunjuk instalasi di Arch Linux Wiki. Namun kenyataannya semua Distro tidaklah sempurna, cepat atau lambat pengguna "baru" ini akan menemui masalah baik yang ringan sampai berat. Mungkin setelah mencoba mencari solusi dengan bantuan mesin pencari tetapi tidak berhasil atau tidak mengerti, langkah selanjutnya adalah menggunakan media lain seperti BBS / forum, IRC, media sosial dll. Sebagai contoh forum yang masih cukup populer digunakan, setelah menjabarkan permasalahan yang dialami pengguna dan mendapatkan respon dari pengguna lainnya. Semuanya berjalan lancar sampai pengguna tersebut secara langsung atau tidak langsung menyebutkan bahwa ia menggunakan Distro turunan Arch Linux. Thread tersebut kemungkinan besar akan dikunci atau dihapus oleh moderator forum.

Sebenarnya apa yang terjadi? Hal tadi merupakan salah satu skenario yang terjadi pada forum Arch Linux. Coba melihat dari sudut pandang yang berbeda, pada dasarnya forum resmi Arch Linux hanya diperuntukkan bagi pengguna Arch Linux dan itu adalah salah satu aturan resmi forum. Perlu dicatat bahwa ada subforum yang diperbolehkan topik dengan cakupan luas. Hal tersebut diperparah dengan cukup banyaknya pengguna-pengguna baru yang melanggar aturan resmi forum. Tentunya setiap orang mempunyai pendapat yang berbeda menggenai apa yang termasuk melanggar aturan atau tidak. Perbedaan pendapat ini menjadi salah satu pemicu munculnya sentimen terhadap pengguna Arch Linux dan sentimen ini kadang kala terlihat di media sosial yang lain. Entah bagaimana penilaian yang tidak objektif ini lebih cenderung diterima. Faktanya pengguna mahir yang menggunakan Distro seperti Arch Linux, Debian, Gentoo dll, biasanya suka membantu pengguna baru tanpa memandang Distro apa yang dipakai.

Jadi memiliki banyak Distro turunan merupakan hal yang buruk? Tentu saja tidak, lihatlah Debian, salah satu Distro tertua dan memiliki banyak Distro turunan. Salah satu parameter suksesnya suatu Distro adalah memiliki banyak Distro turunan. Bukan berarti Arch Linux tidak mendukung Distro turunan, namun kadang kita melupakan satu hal yang mendasar. Setiap tempat memiliki aturan sendiri. Bukanlah elitisme jika mengikuti aturan main di forum.

Itu baru membahas satu sisi saja. Apakah cukup? bagaimana dengan yang lain?. Fansboisme ada pada tingkat apapun, entah itu sistem operasi, distribusi, lingkungan desktop, aplikasi bahkan editor teks pun tidak luput dari fansboisme. Pandangan subyektif dan obyektif tiap individu yang mempengaruhi pilihan pada suatu hal, secara tidak sadar akan membenarkan pilihannya itu dan mempertahankan pilihannya itu sampai pada titik tertentu. Dari sudut pandang orang lain pada satu individu tidak ada yang benar dan salah. Pada skala yang melibatkan banyak individu pun tidak ada yang benar dan salah. Tidak, aku tidak membicarakan sains terapan, aku membicarakan seni seperti halnya interpretasi yang berbeda ketika melihat lukisan. Tidaklah aneh jika pengguna Arch Linux membanggakan Distro nya. Tidaklah berlebihan ketika pengguna Arch Linux mengatakan Arch Linux Wiki hampir mencakup semua hal. Yang aneh justru menganggap semua itu adalah elitisme semata.

Dua sisi rasanya cukup...

Read More

Sabtu, 23 Juli 2016

Material

  Tidak ada komentar
22.46.00

Kini sudah tak asing lagi mendengar kata Material Design.


Material ini, Material itu, Material danlainlainyangmiripataugakmiripsamasekali.


Blog ini telah di-Materialisasikan juga,


Selesai.

Read More

Senin, 27 Oktober 2014

Truecrypt : Reboot

  Tidak ada komentar
19.07.00

Wah sudah lama tak bersua, aku -sengaja- lupa kalau punya blog.


Muahahahaahahaahaha...


Ehm, masih ingat terbitan blogku yang terakhir? Tentu saja sudah lupa, kan itu tulisan baru dua tahun kemarin. Aku maklumi, wong aku sendiri lupa kok.


Eniwei, betewei, dan wei-wei seterusnya. Saat butuh akses ke kontainer Truecrypt, aku baru sadar ternyata proyek Truecrypt sudah diskontinu, bukan diskon lho ya, tapi modar ™, wafat ™, tewas ™ dan konotasi negatif lainnya ™. Aku panik -sambil membanting laptop-, melampiaskan kemarahan ke AUR, namun lima menit kemudian ku undo tindakan sebelumnya dan tidak jadi membanting laptop -karena tidak punya uang buat beli laptop yang baru-.


CipherShed dan VeraCrypt adalah dua kandidat pengganti Truecrypt. Lalu bedanya apa?


CipherShed : menambal security bugs dari Truecrypt dan mempertahankan kompabilitas dengan format kontainer Truecrypt. Dengan kata lain masih bisa mengakses kontainer Truecrypt

VeraCrypt : menambal security bugs dari Truecrypt dan meningkatkan faktor keamanan enkripsi. Namun menghilangkan kompabilitas dengan format kontainer Truecrypt.


Pilih yang mana? Farah atau Mona? tentu saja tidak nyambung. Eh maksudku daripada ribet-ribet, mending dua-duanya saja.


Muahahahaahahaahaha...


Berhubung kedua proyek masih relatif muda, masih terlalu dini menilai segi keamanannya. Berita baiknya, kedua proyek masih saling membantu, walaupun hal tersebut akan menjadi ribet kedepannya mengingat tiap proyek memiliki target tersendiri.


Singkatnya, akses kontainer Truecrypt dengan CipherShed sekaligus bereksperimen dengan format kontainer baru dari VeraCrypt.


Ehm, ternyata aku lupa password kontainernya -lagi-, terpaksa harus mengulang hal ini -lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii-.

Read More

Jumat, 30 November 2012

Truecrypt : Kekuatan Serangan Brutal

  Tidak ada komentar
06.17.00

Hari ini aku merasa kesal karena melupakan sesuatu hal yang sangat penting.
Sangat penting karena digunakan untuk mengakses file kontainer Truecrypt yang kubuat sekitar tahun 2005/2006.
Setelah mencoba berulang kali dengan berbagai kombinasi yang mungkin, akhirnya aku menyerah.
Ya, aku ingat kata-kata apa saja yang digunakan sebagai password, sayangnya justru urutan kombinasinya yang terlupa.
Setelah berkonsultasi kepada om Google sebentar, solusi yang mungkin cuma satu -setahuku- yaitu Kekuatan Serangan Brutal a.k.a Brute Force Attack.
Jadi yang perlu dilakukan adalah :

1. Membuat daftar kemungkinan kombinasi password, biasa dikenal dengan wordlist.
2. Membuat bash script fungsi perulangan dengan input dari wordlist.
3. Eksekusi bash script dan melihat hasilnya

Sebagai contoh password yang terlupakan merupakan kombinasi dari huruf/kata "aduh", "lupa" dan "password"

1. Membuat wordlist
- install aplikasi crunch
- eksekusi crunch

crunch 1 1 -p aduh lupa password

Hasilnya berupa :

Crunch will now generate approximately the following amount of data: 102 bytes
0 MB
0 GB
0 TB
0 PB
Crunch will now generate the following number of lines: 6
aduhlupapassword
aduhpasswordlupa
lupaaduhpassword
lupapasswordaduh
passwordaduhlupa
passwordlupaaduh

Atau langsung keluaran berupa file wordlist

crunch 1 1 -o wordlist -p aduh lupa password

Sialnya aku sendiri lupa berapa kata yang digunakan pada password, sehingga terpaksa menebak dengan kombinasi 2, 3, dan 4 huruf.
caranya seperti diatas, cuma satu persatu dari kombinasi masing-masing. hasilnya tinggal di copy paste ke text editor.

2. Bash script perulangan

Buat file hajarbro.sh, isikan dengan

#!/bin/sh

# Keterangan :
# Masukkan dari 'wordlist', letakan pada satu folder dengan scriptnya
# Ganti 'file_target.tc' dengan target file kontainer Truecrypt
# Eksekusi 'sudo hajarbro.sh < wordlist'

while read line
do
  if truecrypt -t -k "" --protect-hidden=no --non-interactive ./file_target.tc -p $line
  then
    echo "Password :"
    echo "$line"
    echo "Sukses!"
    exit 0
  fi
done
echo "Anda belum beruntung, silahkan dicoba lagi."
exit 1

3. Eksekusi

sudo ./hajarbro.sh < wordlist

Hasilnya berupa :

...
Error: Incorrect password or not a TrueCrypt volume.
Error: Incorrect password or not a TrueCrypt volume.
Error: Incorrect password or not a TrueCrypt volume.
Error: Incorrect password or not a TrueCrypt volume.
Password :
lupapasswordaduh
Sukses!

Kalau terdapat error berupa :

Error: Failed to set up a loop device:

Atasi dengan :

sudo modprobe loop

Ulangi eksekusi bash script.

BTW, sebenarnya aku tidak tahu terjemahan resmi Bahasa Indonesia dari Brute Force Attack.

Read More

Senin, 23 April 2012

Rekap

  Tidak ada komentar
11.23.00

KDE SC 4.7.0

KDE SC 4.7.0

Hanya sedikit info, buat yang masih memakai KDE SC 4.7.x lebih baik memakai KDE SC 4.7.3 atau KDE SC 4.7.4. KDE SC 4.7.0 agak mengecewakan karena beberapa bug terlewatkan saat proses RC, memang sih KDE Dev cepat merespon dengan merilis pacth. Dengan kata lain harus di patch secara manual baru sebulan kemudian terakumulasi pada KDE SC 4.7.1. Namun sayangnya baik KDE SC 4.7.1 dan 4.7.2 masih menyisakan bug yang mengganggu yaitu bug berkaitan dengan manajemen clipboard (Klipper). KDE 4.7.4 lah paling stabil diantara pendahulunya.

Saat tulisan ini dibuat rilis KDE sudah mencapai KDE SC 4.8.2.


openSUSE 12.1

openSUSE 12.2 dengan KDE SC 4.7.2

Tunggu dulu, mana openSUSE 12.0 ? rilis .0 -dot oh- ditiadakan sejak 12.x, dengan kata lain nantinya 12.1,12.2 dst... 13.1, 13.2 dst. openSUSE 12.1 dirilis pada November 2011, sayangnya masih memakai KDE SC 4.7.2 dan yang paling mencolok adalah berkurangnya kualitas artwork nya dari rilis sebelumnya, kurang "hijau". Untungnya saat KDE SC 4.8.0 yang dirilis pada akhir Januari 2012 langsung tersedia pada repository stabil. Bagaimana dengan Tumbleweed ? Sayangnya om Greg KH sangat sibuk sehingga repository agak terlantar, baru sekitar bulan maret paket terupdate.


Ubuntu 11.10

Ubuntu 11.10 "Oneiric Ocelot"

Yang menarik dari rilis kali ini adalah keikutsertaan Unity2D (a.k.a Unity-Qt) untuk lingkungan tanpa akselerasi grafis. Sedangkan untuk lingkungan dengan akselerasi grafis tetap memakai Unity (a.k.a Unity-Gtk). Sayangnya dalam hal fitur Unity2D sedikit tertinggal dibanding Unity. LightDM menggantikan GDM2, jujur saja LightDM benar-benar indah. openchrome sudah tidak bermasalah lagi dan yang terakhir tentunya pemakaian kernel Linux 3.0.x.


Linux Mint 12

Linux Mint 12 "Lisa"

Kali ini berbasis Ubuntu 11.10, aku sendiri mulai kehilangan keinginan untuk mencoba. Menurutku developer Mint terlalu membagi fokus pada banyak DE sedangkan jumlah developernya tidak sebanding dengan beban kerja. Bukan berarti Cinnamon dan Mate kurang bagus, tapi sebaiknya Clem memutuskan distro mana yang dijadikan basisnya apakah Debian atau Ubuntu. Sayangnya Cinnamon -seperti Gnome Shell- hanya bisa digunakan pada lingkungan dengan akselerasi grafis.


BlankOn 7

BlankOn 7 "Pattimura" dengan konsep desktop berbeda

Distro karya Indonesia ini dirilis pada 17 Agustus 2011, dibuat berbasis Ubuntu 11.04 namun memakai perangkat lunak yang terbilang mutakhir untuk saat itu, sebut saja kernel Linux 3.0. Memadukan integrasi beberapa bahasa daerah Indonesia dan Gnome 3 yang telah dimodifikasi. Sepintas konsep panel dan start menu nya agak berbeda dari yang telah ada. aku tidak ingin berkomentar mengenai hal ini.

Read More

Rabu, 18 April 2012

Faktor M2

  Tidak ada komentar
07.02.00

Well terulang lagi, entah kenapa semakin malas menulis, padahal terbesit akan menulis beberapa hal.

Ya! aku masih "tertarik" dengan Linux dan masih berkutat dengan ku "Unix" an nya.
bicara tentang Unix, jadi teringat artikel-artikel tentang Dennis M Ritchie dan sedikit banyak -ambigu?- kecewa dengan cara berfikir kebanyakan orang awam.
cukup banyak -ambigu lagi?- berita tentang kepergian Steve Jobs, tapi tidak banyak pemberitaan tentang kepergian Dennis M Ritchie.

WHAT'S WRONG WITH YOU PEOPLE?

Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Dennis M Ritchie lebih berjasa?
Bagaimana sebenarnya mereka mendefinisikan "kesuksesan"? Apakah "harta" menjadi acuannya?

Mungkin terlalu berlebihan menilai suatu hal dari satu sisi, namun...
Bagaimanapun juga anda berhak menilai kondisi "kejiwaan" ku, hehe

Um.,. well, akhir-akhir ini ku sempatkan membaca beberapa buku-buku klasik fiksi ilmiah, yang isinya sungguh menarik.,. sebut saja Robert.A Heinlein, H.G Wells, Philip.K Disk, Isaac Asimov, Douglas Adams.

Read More

Jumat, 14 Oktober 2011

RIP Dennis MacAlistair Ritchie

  Tidak ada komentar
06.55.00

Rest In Peace,


Dennis MacAlistair Ritchie 1941-2011


Bapak Unix dan Bahasa Pemrograman C.

Read More

Senin, 10 Oktober 2011

Apa Kabar openSUSE Tumbleweed

  4 komentar
01.57.00

Beberapa bulan yang lalu aku mencoba openSUSE Tumbleweed, dengan hasil yang memuaskan. Bagaimana setelah beberapa bulan berjalan.,.?

Beberapa catatan menarik yang perlu diperhatikan antara lain :

  • Besarnya update yang terjadi dalam rentang harian, memang terkadang tidak tersedia update, namun lebih sering pasti ada rebuild pada repository Tumbleweed. Jika dibandingkan dengan Arch Linux dan Chakra GNU/Linux, openSUSE Tumbleweed sangat boros bandwidth -dengan asumsi user mengupdate tiap hari- dan jumlah paket yang harus didownload pun lebih banyak -atau sangat banyak?-, kurang lebih antara 100MiB-500MiB. Mungkin padanan yang serupa adalah Linux Mint Debian Edition -walaupun kedepan akan berkurang drastis, karena LMDE menerapkan sistem "Update Pack", tidak langsung diupdate dari Debian Sid (unstable).
Praktek terbaik: Jika anda memiliki bandwidth terbatas a.k.a koneksi lambat -sudah gitu ada quotanya lagi.,. LOL-. Tetapi tetap ingin memakai openSUSE Tumbleweed, lakukan update dalam rentang mingguan -1 atau 2 minggu sekali-, atau bahkan cukup sebulan sekali. Tentunya ada resiko tersendiri jika memilih langkah tersebut, salah satunya dalam hal keamanan.

  • Prosedur update yang membingungkan, memang sudah dijelaskan bahwa tidak disarankan mengupdate melalui YaST, tapi bukan berarti melalui terminal juga mudah. Salah satu cara-atau dua?- mengupdate yaitu zypper dup atau zypper dup --from Tumbleweed, yang pada prakteknya cara terbaik adalah zypper dup --from Tumbleweed. Mengapa begitu? Karena jika anda mengupdate dengan mengeksekusi perintah zypper dup bisa dipastikan terjadi vendor change, dengan kata lain terjadi pencampuran paket dari repository Stable dan Tumbleweed.
Praktek terbaik: Update melalui terminal dengan mengeksekusi perintah zypper dup --from Tumbleweed. Resikonya? paket-paket dari repository lain tidak akan diupdate, dengan kata lain user harus mengupdate per repository.

  • Resolusi dependency paket yang juga membingungkan, masih terkait dengan poin diatas. Saat mengupdate dipastikan anda akan ditanya oleh zypper berkaitan dengan vendor change beserta ketergantungan paket-paket. Walaupun tidak bisa dipungkiri zypper itu bagus, namun menurutku terlalu ribet jika dibandingkan dengan pacman. kasus yang terjadi seperti ketika zyyper menangani paket terkait yang sudah tidak menjadi dependency paket lainnya, bukannya menghapus paket tersebut malahan mendowngrade banyak paket, celakanya beda arsitektur lagi.
Praktek terbaik: Solusinya dengan melihat dependency paket yang bermasalah tersebut, kemudian menghapusnya terlebih dahulu sebelum mengupdate sistem.

  • Beberapa paket sering diupdate, beberapa paket menunggu diupdate, TBH hal ini dapat disebut kekurangan, tapi dapat juga disebut kelebihan. Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah kestabilan. Saat ini Tumbleweed sudah menyediakan Kernel Linux 3.0.x, dan KDE SC 4.7.x baru akan muncul paling lambat minggu depan. Sangat kontras dimana Arch Linux sudah menikmati KDE SC 4.7.2, sedangkan Chakra GNU/Linux baru KDE SC 4.7.1.
Praktek terbaik: Kestabilan adalah hal yang utama

Yang terakhir adalah, openSUSE user yang men-update Tumbleweed pada rentang seminggu yang lalu -terhitung sejak hari ini-, kemungkinan besar menemukan sistemnya BROKEN. Tunggu seminggu kedepan, karena om Greg kh akan memperbaikinya.,.

Read More