Sabtu, 23 Juli 2016

Material

  Tidak ada komentar
22.46.00

Kini sudah tak asing lagi mendengar kata Material Design.


Material ini, Material itu, Material danlainlainyangmiripataugakmiripsamasekali.


Blog ini telah di-Materialisasikan juga,


Selesai.

Read More

Senin, 27 Oktober 2014

Truecrypt : Reboot

  Tidak ada komentar
19.07.00

Wah sudah lama tak bersua, aku -sengaja- lupa kalau punya blog.


Muahahahaahahaahaha...


Ehm, masih ingat terbitan blogku yang terakhir? Tentu saja sudah lupa, kan itu tulisan baru dua tahun kemarin. Aku maklumi, wong aku sendiri lupa kok.


Eniwei, betewei, dan wei-wei seterusnya. Saat butuh akses ke kontainer Truecrypt, aku baru sadar ternyata proyek Truecrypt sudah diskontinu, bukan diskon lho ya, tapi modar ™, wafat ™, tewas ™ dan konotasi negatif lainnya ™. Aku panik -sambil membanting laptop-, melampiaskan kemarahan ke AUR, namun lima menit kemudian ku undo tindakan sebelumnya dan tidak jadi membanting laptop -karena tidak punya uang buat beli laptop yang baru-.


CipherShed dan VeraCrypt adalah dua kandidat pengganti Truecrypt. Lalu bedanya apa?


CipherShed : menambal security bugs dari Truecrypt dan mempertahankan kompabilitas dengan format kontainer Truecrypt. Dengan kata lain masih bisa mengakses kontainer Truecrypt

VeraCrypt : menambal security bugs dari Truecrypt dan meningkatkan faktor keamanan enkripsi. Namun menghilangkan kompabilitas dengan format kontainer Truecrypt.


Pilih yang mana? Farah atau Mona? tentu saja tidak nyambung. Eh maksudku daripada ribet-ribet, mending dua-duanya saja.


Muahahahaahahaahaha...


Berhubung kedua proyek masih relatif muda, masih terlalu dini menilai segi keamanannya. Berita baiknya, kedua proyek masih saling membantu, walaupun hal tersebut akan menjadi ribet kedepannya mengingat tiap proyek memiliki target tersendiri.


Singkatnya, akses kontainer Truecrypt dengan CipherShed sekaligus bereksperimen dengan format kontainer baru dari VeraCrypt.


Ehm, ternyata aku lupa password kontainernya -lagi-, terpaksa harus mengulang hal ini -lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii-.

Read More

Jumat, 30 November 2012

Truecrypt : Kekuatan Serangan Brutal

  Tidak ada komentar
06.17.00

Hari ini aku merasa kesal karena melupakan sesuatu hal yang sangat penting.
Sangat penting karena digunakan untuk mengakses file kontainer Truecrypt yang kubuat sekitar tahun 2005/2006.
Setelah mencoba berulang kali dengan berbagai kombinasi yang mungkin, akhirnya aku menyerah.
Ya, aku ingat kata-kata apa saja yang digunakan sebagai password, sayangnya justru urutan kombinasinya yang terlupa.
Setelah berkonsultasi kepada om Google sebentar, solusi yang mungkin cuma satu -setahuku- yaitu Kekuatan Serangan Brutal a.k.a Brute Force Attack.
Jadi yang perlu dilakukan adalah :

1. Membuat daftar kemungkinan kombinasi password, biasa dikenal dengan wordlist.
2. Membuat bash script fungsi perulangan dengan input dari wordlist.
3. Eksekusi bash script dan melihat hasilnya

Sebagai contoh password yang terlupakan merupakan kombinasi dari huruf/kata "aduh", "lupa" dan "password"

1. Membuat wordlist
- install aplikasi crunch
- eksekusi crunch

crunch 1 1 -p aduh lupa password

Hasilnya berupa :

Crunch will now generate approximately the following amount of data: 102 bytes
0 MB
0 GB
0 TB
0 PB
Crunch will now generate the following number of lines: 6
aduhlupapassword
aduhpasswordlupa
lupaaduhpassword
lupapasswordaduh
passwordaduhlupa
passwordlupaaduh

Atau langsung keluaran berupa file wordlist

crunch 1 1 -o wordlist -p aduh lupa password

Sialnya aku sendiri lupa berapa kata yang digunakan pada password, sehingga terpaksa menebak dengan kombinasi 2, 3, dan 4 huruf.
caranya seperti diatas, cuma satu persatu dari kombinasi masing-masing. hasilnya tinggal di copy paste ke text editor.

2. Bash script perulangan

Buat file hajarbro.sh, isikan dengan

#!/bin/sh

# Keterangan :
# Masukkan dari 'wordlist', letakan pada satu folder dengan scriptnya
# Ganti 'file_target.tc' dengan target file kontainer Truecrypt
# Eksekusi 'sudo hajarbro.sh < wordlist'

while read line
do
  if truecrypt -t -k "" --protect-hidden=no --non-interactive ./file_target.tc -p $line
  then
    echo "Password :"
    echo "$line"
    echo "Sukses!"
    exit 0
  fi
done
echo "Anda belum beruntung, silahkan dicoba lagi."
exit 1

3. Eksekusi

sudo ./hajarbro.sh < wordlist

Hasilnya berupa :

...
Error: Incorrect password or not a TrueCrypt volume.
Error: Incorrect password or not a TrueCrypt volume.
Error: Incorrect password or not a TrueCrypt volume.
Error: Incorrect password or not a TrueCrypt volume.
Password :
lupapasswordaduh
Sukses!

Kalau terdapat error berupa :

Error: Failed to set up a loop device:

Atasi dengan :

sudo modprobe loop

Ulangi eksekusi bash script.

BTW, sebenarnya aku tidak tahu terjemahan resmi Bahasa Indonesia dari Brute Force Attack.

Read More

Senin, 23 April 2012

Rekap

  Tidak ada komentar
11.23.00

KDE SC 4.7.0

KDE SC 4.7.0

Hanya sedikit info, buat yang masih memakai KDE SC 4.7.x lebih baik memakai KDE SC 4.7.3 atau KDE SC 4.7.4. KDE SC 4.7.0 agak mengecewakan karena beberapa bug terlewatkan saat proses RC, memang sih KDE Dev cepat merespon dengan merilis pacth. Dengan kata lain harus di patch secara manual baru sebulan kemudian terakumulasi pada KDE SC 4.7.1. Namun sayangnya baik KDE SC 4.7.1 dan 4.7.2 masih menyisakan bug yang mengganggu yaitu bug berkaitan dengan manajemen clipboard (Klipper). KDE 4.7.4 lah paling stabil diantara pendahulunya.

Saat tulisan ini dibuat rilis KDE sudah mencapai KDE SC 4.8.2.


openSUSE 12.1

openSUSE 12.2 dengan KDE SC 4.7.2

Tunggu dulu, mana openSUSE 12.0 ? rilis .0 -dot oh- ditiadakan sejak 12.x, dengan kata lain nantinya 12.1,12.2 dst... 13.1, 13.2 dst. openSUSE 12.1 dirilis pada November 2011, sayangnya masih memakai KDE SC 4.7.2 dan yang paling mencolok adalah berkurangnya kualitas artwork nya dari rilis sebelumnya, kurang "hijau". Untungnya saat KDE SC 4.8.0 yang dirilis pada akhir Januari 2012 langsung tersedia pada repository stabil. Bagaimana dengan Tumbleweed ? Sayangnya om Greg KH sangat sibuk sehingga repository agak terlantar, baru sekitar bulan maret paket terupdate.


Ubuntu 11.10

Ubuntu 11.10 "Oneiric Ocelot"

Yang menarik dari rilis kali ini adalah keikutsertaan Unity2D (a.k.a Unity-Qt) untuk lingkungan tanpa akselerasi grafis. Sedangkan untuk lingkungan dengan akselerasi grafis tetap memakai Unity (a.k.a Unity-Gtk). Sayangnya dalam hal fitur Unity2D sedikit tertinggal dibanding Unity. LightDM menggantikan GDM2, jujur saja LightDM benar-benar indah. openchrome sudah tidak bermasalah lagi dan yang terakhir tentunya pemakaian kernel Linux 3.0.x.


Linux Mint 12

Linux Mint 12 "Lisa"

Kali ini berbasis Ubuntu 11.10, aku sendiri mulai kehilangan keinginan untuk mencoba. Menurutku developer Mint terlalu membagi fokus pada banyak DE sedangkan jumlah developernya tidak sebanding dengan beban kerja. Bukan berarti Cinnamon dan Mate kurang bagus, tapi sebaiknya Clem memutuskan distro mana yang dijadikan basisnya apakah Debian atau Ubuntu. Sayangnya Cinnamon -seperti Gnome Shell- hanya bisa digunakan pada lingkungan dengan akselerasi grafis.


BlankOn 7

BlankOn 7 "Pattimura" dengan konsep desktop berbeda

Distro karya Indonesia ini dirilis pada 17 Agustus 2011, dibuat berbasis Ubuntu 11.04 namun memakai perangkat lunak yang terbilang mutakhir untuk saat itu, sebut saja kernel Linux 3.0. Memadukan integrasi beberapa bahasa daerah Indonesia dan Gnome 3 yang telah dimodifikasi. Sepintas konsep panel dan start menu nya agak berbeda dari yang telah ada. aku tidak ingin berkomentar mengenai hal ini.

Read More

Rabu, 18 April 2012

Faktor M2

  Tidak ada komentar
07.02.00

Well terulang lagi, entah kenapa semakin malas menulis, padahal terbesit akan menulis beberapa hal.

Ya! aku masih "tertarik" dengan Linux dan masih berkutat dengan ku "Unix" an nya.
bicara tentang Unix, jadi teringat artikel-artikel tentang Dennis M Ritchie dan sedikit banyak -ambigu?- kecewa dengan cara berfikir kebanyakan orang awam.
cukup banyak -ambigu lagi?- berita tentang kepergian Steve Jobs, tapi tidak banyak pemberitaan tentang kepergian Dennis M Ritchie.

WHAT'S WRONG WITH YOU PEOPLE?

Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Dennis M Ritchie lebih berjasa?
Bagaimana sebenarnya mereka mendefinisikan "kesuksesan"? Apakah "harta" menjadi acuannya?

Mungkin terlalu berlebihan menilai suatu hal dari satu sisi, namun...
Bagaimanapun juga anda berhak menilai kondisi "kejiwaan" ku, hehe

Um.,. well, akhir-akhir ini ku sempatkan membaca beberapa buku-buku klasik fiksi ilmiah, yang isinya sungguh menarik.,. sebut saja Robert.A Heinlein, H.G Wells, Philip.K Disk, Isaac Asimov, Douglas Adams.

Read More

Jumat, 14 Oktober 2011

RIP Dennis MacAlistair Ritchie

  Tidak ada komentar
06.55.00

Rest In Peace,


Dennis MacAlistair Ritchie 1941-2011


Bapak Unix dan Bahasa Pemrograman C.

Read More

Senin, 10 Oktober 2011

Apa Kabar openSUSE Tumbleweed

  4 komentar
01.57.00

Beberapa bulan yang lalu aku mencoba openSUSE Tumbleweed, dengan hasil yang memuaskan. Bagaimana setelah beberapa bulan berjalan.,.?

Beberapa catatan menarik yang perlu diperhatikan antara lain :

  • Besarnya update yang terjadi dalam rentang harian, memang terkadang tidak tersedia update, namun lebih sering pasti ada rebuild pada repository Tumbleweed. Jika dibandingkan dengan Arch Linux dan Chakra GNU/Linux, openSUSE Tumbleweed sangat boros bandwidth -dengan asumsi user mengupdate tiap hari- dan jumlah paket yang harus didownload pun lebih banyak -atau sangat banyak?-, kurang lebih antara 100MiB-500MiB. Mungkin padanan yang serupa adalah Linux Mint Debian Edition -walaupun kedepan akan berkurang drastis, karena LMDE menerapkan sistem "Update Pack", tidak langsung diupdate dari Debian Sid (unstable).
Praktek terbaik: Jika anda memiliki bandwidth terbatas a.k.a koneksi lambat -sudah gitu ada quotanya lagi.,. LOL-. Tetapi tetap ingin memakai openSUSE Tumbleweed, lakukan update dalam rentang mingguan -1 atau 2 minggu sekali-, atau bahkan cukup sebulan sekali. Tentunya ada resiko tersendiri jika memilih langkah tersebut, salah satunya dalam hal keamanan.

  • Prosedur update yang membingungkan, memang sudah dijelaskan bahwa tidak disarankan mengupdate melalui YaST, tapi bukan berarti melalui terminal juga mudah. Salah satu cara-atau dua?- mengupdate yaitu zypper dup atau zypper dup --from Tumbleweed, yang pada prakteknya cara terbaik adalah zypper dup --from Tumbleweed. Mengapa begitu? Karena jika anda mengupdate dengan mengeksekusi perintah zypper dup bisa dipastikan terjadi vendor change, dengan kata lain terjadi pencampuran paket dari repository Stable dan Tumbleweed.
Praktek terbaik: Update melalui terminal dengan mengeksekusi perintah zypper dup --from Tumbleweed. Resikonya? paket-paket dari repository lain tidak akan diupdate, dengan kata lain user harus mengupdate per repository.

  • Resolusi dependency paket yang juga membingungkan, masih terkait dengan poin diatas. Saat mengupdate dipastikan anda akan ditanya oleh zypper berkaitan dengan vendor change beserta ketergantungan paket-paket. Walaupun tidak bisa dipungkiri zypper itu bagus, namun menurutku terlalu ribet jika dibandingkan dengan pacman. kasus yang terjadi seperti ketika zyyper menangani paket terkait yang sudah tidak menjadi dependency paket lainnya, bukannya menghapus paket tersebut malahan mendowngrade banyak paket, celakanya beda arsitektur lagi.
Praktek terbaik: Solusinya dengan melihat dependency paket yang bermasalah tersebut, kemudian menghapusnya terlebih dahulu sebelum mengupdate sistem.

  • Beberapa paket sering diupdate, beberapa paket menunggu diupdate, TBH hal ini dapat disebut kekurangan, tapi dapat juga disebut kelebihan. Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah kestabilan. Saat ini Tumbleweed sudah menyediakan Kernel Linux 3.0.x, dan KDE SC 4.7.x baru akan muncul paling lambat minggu depan. Sangat kontras dimana Arch Linux sudah menikmati KDE SC 4.7.2, sedangkan Chakra GNU/Linux baru KDE SC 4.7.1.
Praktek terbaik: Kestabilan adalah hal yang utama

Yang terakhir adalah, openSUSE user yang men-update Tumbleweed pada rentang seminggu yang lalu -terhitung sejak hari ini-, kemungkinan besar menemukan sistemnya BROKEN. Tunggu seminggu kedepan, karena om Greg kh akan memperbaikinya.,.

Read More

Fun Fun Fun

  Tidak ada komentar
00.03.00

Berapa kali -atau kali berapa?- anda gagal meng-install Distro Linux?

Jawabnya sudah tentu tergantung seberapa banyak anda meng-install pada konfigurasi hardware yang berbeda. Berdasarkan pengalaman pribadi, sangat jarang terjadi kasus gagal install, karena installer tiap distro biasanya cukup stabil menjalankan tugasnya.

Namun bukan berarti tidak mungkin terjadi bukan? Kalau dihitung-hitung baru sekali.,. tepatnya beberapa hari yang lalu saat membantu meng-install Ubuntu 11.04 pada laptop temanku -ya.,. aku tau, aku tau Ubuntu 11.10 akan dirilis dalam beberapa hari-.

Well, that's embarrassing.,. soalnya aku juga yang menyakinkan temanku untuk mencoba Linux pada laptop barunya. Singkat cerita installer Ubuntu hang pada tahap terakhir saat mengkonfigurasi hardware.

Hal itu tidak berhenti begitu saja karena saat mencoba Chakra 2011.09, kecepatan USB nya sangatlah lambat sehingga aku urungkan meng-installnya. Hari itu berakhir tanpa hasil.,. LOL
Sebagai catatan, baik Ubuntu 11.04 dan Chakra 2011.09 berjalan baik saat live session dan installasi pada laptopku.

Ada yang lain lagi?
Sebenarnya ada, tapi tidak berhubungan dengan Linux. Kasusnya masih terjadi pada laptop yang sama, saat meng-install Windows 7 via USB FD. Laptop tersebut sudah mendukung USB 3.0, sedangkan USB FD yang digunakan sebagai media install masih USB 2.0. Proses booting lancar sampai installer Windows tampil dan gagal melanjutkan proses installasi. Apa yang terjadi ya.,.?

Kurang lebih begini penjelasan 'teknis' nya, saat booting kendali hardware masih dipegang BIOS sampai saat installer dieksekusi, dimana BIOS sudah pasti mengenali USB 3.0 -yang kompatibel USB 2.0-, namun installer Windows 7 sama sekali tidak menggenali USB 3.0, maka dari itu instalasi gagal dilanjutkan. Bagaimana dengan Windows 7 SP1? Well, belum nyoba.,. LOL

Read More

Rabu, 27 Juli 2011

Linux 3.0

  Tidak ada komentar

Senin, 30 Mei 2011

1991-2011

  Tidak ada komentar
11.24.00

Well.,. Sudah selama 20 tahun Linux dikembangkan secara bergotong royong. Cukup lama bukan?

Dan sebagai "hadiah", Linux 3.0 menanti.,.

Read More

Senin, 21 Maret 2011

Tata Ulang Database Firefox

  Tidak ada komentar
10.50.00

Firefox 4 sebentar lagi dirilis, malahan source code nya sudah tersedia. Firefox menyimpan history, bookmarks, password di database SQLite. Bayangkan setelah memakai Firefox selama hampir 2 tahun dengan profil yang sama? Berantakan tentunya.,. Jadi sebelum besok meng-update Firefox dari 3.6.15 ke 4.0 ada baiknya sedikit mengoprek, hehe.,.

Yang diperlukan optimalisasi, dengan cara menghapus entry kosong dan meng index ulang database. Caranya?

Perhatian: prosedur ini mungkin merusak database, pastikan Firefox TIDAK sedang digunakan, Backup folder .mozilla pada /home/username/.mozilla

Buka terminal dan eksekusi.,.


find ~/.mozilla -name \*.sqlite    \
    -exec sqlite3 {} vacuum  \;    \
    -exec sqlite3 {} reindex \;


Selesai !

Read More

Kamis, 17 Maret 2011

openSUSE 11.4 : Tumbleweed

  Tidak ada komentar
08.00.00

openSUSE 11.4 telah dirilis beberapa hari yang lalu. Menurutku rilis kali ini lebih baik daripada yang lalu. Setelah sukses menginstall pada dua laptop, kupikir sudah saatnya mencoba Tumbleweed. Bagi yang belum tahu, Tumbleweed akan membuat openSUSE menjadi rolling release seperti Arch Linux dan Chakra GNU/Linux. Buka Konsole, dengan hak root eksekusi.

zypper ar --refresh http://download.opensuse.org/repositories/openSUSE:/Tumbleweed/standard/ Tumbleweed
zypper dup --from Tumbleweed

Menambahkan Repository Tumbleweed

Konflik paket, remove saja sesuai saran Zypper

Perhatikan outputnya, kemungkinan ada beberapa paket yang akan di remove. Lalu tambahkan repository Packman Tumbleweed.

zypper ar -n packman-essentials http://ftp.uni-erlangen.de/pub/mirrors/packman/suse/openSUSE_Tumbleweed/Essentials packman-essentials

Menambahkan Repository Packman Tumbleweed Essentials

Pilih mirror terdekat, lihat di http://packman.links2linux.org/mirrors
Jika beberapa software tidak tersedia pada repository utama, tambahkan repository Contrib dengan cara :

Jalankan YaST2, pilih Software Repositories

Pilih Add

Pilih Community Repositories, lalu Next

YaST2 sedang memperbaharui daftar Repository

Pilih Main Repository (Contrib)

YaST2 sedang menambahkan Repository Contrib

Hasil akhir setelah menambah Repository Tumbleweed, Packman Tumbleweed Essentials dan Contrib. Untuk mengakhiri pilih OK

Referensi :
http://en.opensuse.org/Portal:Tumbleweed
http://en.opensuse.org/Additional_package_repositories#Packman

Read More

Kamis, 10 Maret 2011

BURG - Boot Manager

  Tidak ada komentar
18.50.00

Burg merupakan fork dari Grub2 yang menambahkan beberapa fitur yang tidak ada pada Grub2. Perbedaan yang paling kelihatan adalah aspek eye-candy Burg yang menurutku lebih bagus daripada Grub2. Cara menangani tema yang sedikit berbeda, mengganti tema secara langsung, mengganti resolusi layar secara langsung, pengelompokkan item pada menu (grup), dan lain-lain.

Sebenarnya sudah lama aku menggunakan Burg, namun baru sekarang ada waktu untuk menulisnya di blog. Untuk Arch Linux beberapa paket yang dibutuhkan dari AUR antara lain :

burg-bzr (core)
burg-emu (emulasi)
burg-themes (tema-tema)
burg-manager (gui untuk manajemen burg, memerlukan sudo untuk otentifikasi)
dan dependencies nya

Gunakan packer atau yaourt untuk menginstall dari AUR. Untuk Chakra GNU/Linux Burg sudah resmi menggantikan Grub/Grub2, untuk Ubuntu dan Linux Mint tersedia di PPA, untuk openSUSE belum dapat sumbernya -anda belum beruntung-.
Sebagai root jalankan :

burg-install /dev/sda
burg-mkconfig -o /boot/burg/burg.cfg

Catatan:
-sudo harus sudah terkonfigurasi jika ingin menggunakan burg-manager
-ketika mengeksekusi "burg-install /dev/sda", pastikan keluarannya sukses. Jika error sebaiknya segera menginstall Grub/Grub2 (yang dulu digunakan).
-ketika mengeksekusi "burg-mkconfig -o /boot/burg/burg.cfg", burg-themes harus sudah terinstall.
-jangan reboot sebelum memastikan Burg terinstall dan terkonfigurasi dengan benar.

Perintah yang pertama menginstall Burg pada MBR pada harddisk pertama, sedangkan perintah yang kedua membuat konfigurasi berdasarkan sistem operasi apa saja yang terinstall pada komputer.

Sayangnya burg.cfg harus disesuaikan terlebih dahulu, misalnya title yang rada ngawur seperti 'n/a GNU/Linux bla bla bla' ganti sesuai selera, juga tambahkan --class arch supaya icon Arch Linux dapat tampil. Ganti group dan resolusi sesuai selera. Gunakan burg-emu untuk emulasi secara langsung dengan mengeksekusi "/opt/burg-emu/bin/burg-emu".

Konfigurasi
Pengaturan umum terdapat pada /etc/default/burg, parameter-parameternya akan dibaca saat menjalankan burg-mkconfig. Dengan menghilangkan komentar, kurang lebih seperti ini :

GRUB_DEFAULT=0
GRUB_TIMEOUT=6
GRUB_DISTRIBUTOR=`lsb_release -i -s 2> /dev/null || echo Arch`
GRUB_CMDLINE_LINUX_DEFAULT="quiet splash"
GRUB_CMDLINE_LINUX=""
GRUB_SAVEDEFAULT=true
GRUB_GFXMODE=saved
GRUB_GFXPAYLOAD_LINUX=1440x900
GRUB_DISABLE_LINUX_RECOVERY="true"
GRUB_THEME=saved
GRUB_FOLD=saved

Konfigurasi Menu
Pengaturan terdapat pada /boot/burg/burg.cfg, secara default file ini tidak ditujukan untuk diedit manual, namun seperti yang dijelaskan diatas perlu dilakukan sedikit penyesuaian. Contoh menuentry kurang lebih seperti ini :

menuentry 'Arch Linux' --class arch --class os --group group_/dev/sda2 {
    savedefault
    set gfxpayload=1440x900
    insmod ext2
    set root='(hd0,2)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 6e870d7b-4a58-4992-a91d-4fea0bef01ff
    echo    'Loading Linux vmlinuz26 ...'
    linux    /boot/vmlinuz26 root=/dev/disk/by-uuid/6e870d7b-4a58-4992-a91d-4fea0bef01ff ro
    echo    'Loading initial ramdisk ...'
    initrd    /boot/kernel26.img
}
menuentry 'Arch Linux Fallback' --class arch --class os --group group_/dev/sda2 {
    savedefault
    set gfxpayload=1440x900
    insmod ext2
    set root='(hd0,2)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 6e870d7b-4a58-4992-a91d-4fea0bef01ff
    echo    'Loading Linux vmlinuz26 ...Loading Linux Fallback ...'
    linux    /boot/vmlinuz26 root=/dev/disk/by-uuid/6e870d7b-4a58-4992-a91d-4fea0bef01ff ro
    echo    'Loading initial ramdisk ...'
    initrd    /boot/kernel26-fallback.img
}

Sedangkan untuk distro lain yang Grub / Grub2 / Burg yang diinstall pada partisi root cukup di chainloader saja

menuentry "openSUSE 11.4" --class suse --class os --group group_/dev/sda6 {
    savedefault
    insmod ext2
    set root='(hd0,6)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 3239bbec-7a75-4d17-a228-b9543d1fa7ae
    drivemap -s (hd0) ${root}
    chainloader +1
}
menuentry "Ubuntu 10.10" --class ubuntu --class os --group group_/dev/sda7 {
    savedefault
    insmod ext2
    set root='(hd0,7)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 4ce281ea-9f29-40b8-b891-1e28df127172
    drivemap -s (hd0) ${root}
    chainloader +1
}
menuentry "Linux Mint Debian Edition" --class linuxmint --class os --group group_/dev/sda8 {
    savedefault
    insmod ext2
    set root='(hd0,8)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 200aec2b-8c34-4711-8ce0-3a8de76e0b15
    drivemap -s (hd0) ${root}
    chainloader +1
}
menuentry "Linux Mint 10" --class linuxmint --class os --group group_/dev/sda9 {
    savedefault
    insmod ext2
    set root='(hd0,9)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 464e767b-eeab-4d5d-b3f4-392d4079fe7a
    drivemap -s (hd0) ${root}
    chainloader +1
}
menuentry "Linux Mint 10 KDE" --class linuxmint --class os --group group_/dev/sda10 {
    savedefault
    insmod ext2
    set root='(hd0,10)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 0fdb6da5-a25e-4565-8f71-e3d83ddc8762
    drivemap -s (hd0) ${root}
    chainloader +1
}

Shortcut
F1 untuk bantuan, F2 untuk mengganti tema, F3 atau R untuk mengganti resolusi layar, F untuk folding menu dan F7 untuk menampilkan submenu pada folding menu. E untuk mengedit, dan seterusnya.,.


Burg-manager?
Merupakan antarmuka berbasis grafis untuk Burg yang dikembangkan oleh pihak ketiga. Sejujurnya cara tercepat mengedit konfigurasi adalah dengan text editor, hehe.,. Aplikasi yang seharusnya mempermudah, justru kadang malah memperumit. Pada prakteknya Burg-manager sering hang -alasan yang sebenarnya-.

Why oh why?
Sebenarnya cukup menginstall satu boot manager pada MBR, entah itu Grub / Grub2 / Burg. Sedangkan pada partisi root tiap distro tidak perlu diinstall boot manager. Namun sudah menjadi kebiasaanku, alasan lain adalah untuk kemudahan -atau mempersulit?-, karena boot manager pada MBR men-chainloader ke -apapun- boot manager pada partisi root tiap distro.

Read More

openSUSE 11.4

  Tidak ada komentar
00.56.00

Masih 5 jam lagi menunggu pengumuman rilis resmi dari openSUSE 11.4, tapi aku sudah mendapatkan ISO DVD nya, hehe.,.

Pertanyaannya adalah apakah openSUSE 11.4 lebih baik dari openSUSE 11.3?
Sejauh ini dari segi art sangat bagus, konsisten dari Grub, bootsplash, KDM, KSplash, sampai wallpapernya dan openSUSE branding pada splash tiap aplikasi. Juga sudah menggunakan KDE SC 4.6.0 yang beberapa minggu lalu dirilis, harapanku semoga beberapa bugs yang mengganggu diperbaiki team KDE openSUSE.

Sebagai alternatif disertakan Grub2, yang secara default masih memakai Grub Legacy. Tertarik dengan Gnome 3 -preview- ? Ada juga kok, nantinya juga kalo Gnome 3 dirilis bakalan ada respin CD Gnome 3. DE yang lain juga ada, Gnome 2, XFCE, LXDE, *Box, dll.,. semua tersedia di DVD yang berukuran 4.30 GiB. Tentunya 'paket' hemat juga tersedia, yaitu Live CD Gnome, Live CD KDE, Addons Language.

Pada rilis kali ini, YaST Software Manager nya sudah mencakup beberapa repository diluar openSUSE seperti Packman, tinggal di aktifkan beres.,. -kenapa gak dari dulu c?-. Bagi yang menginginkan rolling release tinggal tambahkan repository Tumbleweed.

Hm.,. apalagi ya? Bentar, nanti malam baru ada waktu buat install openSUSE 11.4, cu.,.

Lanjut.,.
YaST installer masih sama seperti yang dulu, beda art saja, slideshownya pun masih sama malahan ada sedikit salah tulis, yang seharusnya LibreOffice tertulis OpenOffice.org. Dari segi lamanya instalasi rasanya sama juga. Perbedaannya adalah instalasi stage 2 tidak perlu reboot dan langsung automatic configuration, lalu kemudian masuk ke DE yang dipilih. Jika dibandingkan dengan installernya Ubuntu / Linux Mint, YaST Installer rada ribet saat pengaturan partisi, walaupun lebih powerfull namun tetap saja instalasi Ubuntu / Linux Mint lebih mudah dan cepat. Perlu diingat bahwa perbedaan media instalasi juga mempengaruhi, dimana Ubuntu hanya berupa CD, sedangkan openSUSE berupa CD dan DVD.

Sialnya entah kenapa yang seharusnya Grub terinstall pada partisi root (bukan MBR) ternyata malah merusak Burg yang terinstall pada MBR, hasilnya laptopku tidak bisa booting, hehe.,. Tenang saja, cukup booting DVD installer openSUSE, pilih Recovery, nantinya akan masuk ke console, login sebagai root -tanpa password-, lalu

grub
root (hd0,5)
setup (hd0)
quit
reboot

Kemudian masuk ke openSUSE, tambahkan entry untuk Arch Linux melalui YaST Grub, reboot, masuk ke Arch Linux, lalu buka Konsole sebagai root eksekusi

burg-install /dev/sda

Jika entry openSUSE belum ada pada burg.cfg, tambahkan. Reboot, dengan ini Arch Linux sukses mengambil alih Boot Manager dari Grub menjadi Burg -seperti semula-. Oh BTW, berhubung aku sukanya menginstall  Grub tiap distro pada partisi root, Grub openSUSE harus diperbaiki, booting DVD installer openSUSE, masuk Recovery console, login sebagai root -tanpa password-, lalu

grub
root (hd0,5)
setup (hd0,5)
quit
reboot

Kedepannya nanti aku terbitkan artikel mengenai Burg.
openSUSE terkenal dengan KDE SC nya yang teroptimasi dengan baik -secara developer KDE banyak juga menjadi developer openSUSE-.  Buktinya memory yang dipakai KDE lumayan sedikit dibandingkan distro lainnya, kurang lebih 430 MiB, sebagai perbandingan Arch Linux KDE memakai setidaknya 700an MiB -dengan Nepomuk dan Strigi aktif-.

Ada yang hilang dari systray, Suse Updater yang kini digantikan oleh KPackageKit -sekarang berganti nama menjadi Apper-, Network Manager Plasmoid yang sedikit berbeda dari standar. Firefox bukannya memakai Firefox 3.5.x, namun Firefox 4 Beta yang nantinya akan diupdate jika mencapai rilis final.

Sayangnya untuk pengguna dengan vga Chrome9 dan sejenisnya, driver openchrome tidak disertakan namun dapat didownload di Factory -yang seharusnya sebentar lagi turun ke 11.4-. Untuk laptop diperlukan sedikit pergantian pengaturan agar font nya terlihat baik, dari System Setting > Application Appearance > Fonts, Use anti aliasing (enabled) dan Force font DPI (96DPI), reboot.

Sejauh ini aku puas, berikut tampilan desktopku, KDE SC 4.6.0

openSUSE 11.4 dengan KDE SC 4.6.0 memakai tema Air openSUSE

KickOff Menu

http://news.opensuse.org/2011/03/10/opensuse-11-4/

Read More

Kamis, 03 Maret 2011

Tentang Ukuran Partisi

  2 komentar
02.46.00

Sering berurusan dengan partisi memartisi harddisk, flashdisk, dsb?
Tentunya memakai GParted kan?
Lalu bagaimana cara membuat partisi TEPAT 5 GiB -misalnya- ?

Well, pertanyaan yang menarik.,. Bagi beberapa orang hal ini mungkin ga penting -walaupun perkara sepele-, tapi ga ada salahnya juga mengetahui hal -sepele- ini. GParted secara default memperbolehkan membuat partisi lebih besar dari 1 MiB, secara logika memang sudah seharusnya. Ketika membuat partisi baru atau merubah ukuran partisi, pasti dihadapkan pada pilihan berapa X MiB?
Singkatnya begini

1024 Bytes = 1 Kibibyte (KiB)
1024 Kibibytes (KiB) = 1 Mebibyte (MiB)
1024 Mebibytes (MiB) = 1 Gibibyte (GiB)
1024 Gibibytes (GiB) = 1 Tebibyte (TiB)
1024 Tebibytes (TiB) = 1 Pebibyte (PiB)
1024 Pebibytes (PiB) = 1 Exbibyte (EiB)

Jadi ketika membuat partisi baru acuannya :

1 GiB = 1024 MiB
5 GiB = 5120 MiB
10 GiB = 10240 MiB
20 GiB = 20480 MiB
50 GiB = 51200 MiB
100 GiB = 102400 MiB
200 GiB = 204800 MiB
400 GiB = 409600 MiB
dst

Membuat partisi dengan ukuran 5 GiB, hiraukan 'Free space preceding (MiB)' yang otomatis memakai 1 MiB

Tepat 5 GiB

That's it.,.

Read More