Showing posts with label openSUSE. Show all posts

Thursday, December 15, 2016

GeckoLinux Berbasis openSUSE Leap 42.2 Telah Dirilis

  No comments
December 15, 2016



GeckoLinux secara teknis merupakan spin-off tidak resmi dari openSUSE, memodifikasi yang dianggap perlu. Media instalasi GeckoLinux berupa Live CD / DVD / USB dengan ukuran kurang lebih 1GB. Berfokus dengan edisi per lingkungan desktop, jadi cukup mengunduh edisi mana yang disukai. Anda dapat memilih baik GeckoLinux berbasis Leap atau Tumbleweed.

GeckoLinux dirilis sebulan setelah openSUSE Leap 42.2, hal ini wajar mengingat diperlukan penyesuaian karena adanya banyak perubahan pada openSUSE Leap itu sendiri. Perubahan yang paling mendasar adalah digunakannya Calamares sebagai pengganti YaST2 Live Installer yang telah dihentikan pengembangannya. Lingkungan desktop Budgie kali ini absen menunggu rilis utama tersedia pada repository. Untuk yang menyukai minimalis, tersedia edisi BareBones yang memakai Openbox.

Fitur-fitur GeckoLinux :
* Bukan distro turunan openSUSE, GeckoLinux tetaplah openSUSE.
* Berupa Live CD / DVD / USB, bisa diujicoba dahulu tanpa perlu menginstall.
* Ukuran image kurang lebih 1GB per edisi.
* Lingkungan desktop Cinnamon, Gnome, LXQT, Mate, Plasma, XFCE.
* Dukungan multimedia secara default dari Packman.
* Tweak pada konfigurasi font, tema, ikon, dll.

Gunakan SUSE Studio ImageWriter untuk membakar imagenya ke USB flashdisk.

geckolinux.github.io

Read More

Thursday, November 17, 2016

openSUSE Leap 42.2 Telah Dirilis

  No comments
November 17, 2016

Leap.


Setelah SUSE Linux Enterprise (SLE) Service Pack (SP) 2 dirilis beberapa hari yang lalu, kini giliran openSUSE Leap 42.2 yang dirilis.
DVD iso nya (4.7 GB) telah dipublikasikan pada cermin-cermin resmi kurang lebih 24 jam yang lalu, silahkan mengunduh disitus resminya.

Apa yang baru dirilis kali ini :
* Berbasis pada SUSE Linux Enterprise (SLE) Service Pack (SP) 2.
* Ditenagai kernel Linux 4.4 Long-Term-Support (LTS).
* Lingkungan desktop KDE Plasma 5.8 Long-Term-Support (LTS) dan GNOME 3.20. Termasuk lingkungan desktop lainnya seperti Cinnamon, Enlightenment, LXQT, MATE, XFCE.
* 1400 paket-paket baru, 17% lebih banyak daripada 42.1.
* Siap digunakan sebagai server, merupakan rilis kali pertama yang menyertakan pilihan profil server pada saat instalasi. Mendukung installer berbasis teks tanpa memerlukan X dan instalasi remote secara VNC atau SSH.
* Peningkatan Snapper, manajemen system restore.
* Peningkatan secara umum dan usability YaST serta ditambahkannya modul baru YaST. yast2-alternatives, yast2-vpn, yast2-auth-client, yast2-firewall sekarang mendukung firewalld.
* Kontainer dengan Docker 1.12.
* Virtualisasi dengan QEMU 2.6.1, VirtualBox 5.0.24, Xen dan KVM. Juga mendukung Kontainer Linux berupa Docker dan LXC.
* Bahasa pemrograman, Pustaka dan IDE. Bahasa pemrograman yang dapat digunakan meliputi Python 2.7, Ruby 2.1 dan Perl 5.18. Pustaka dimutakhirkan ke libvirt (2.0) dan libzypp (16.2), sedangkan pustaka mendasar menggunakan glibc 2.22 dan libsigc++ 2.8. Untuk pengembangan perangkat lunak, Qt 5 GUI toolkit (5.6) dan GNOME Builder dengan GTK 3.20. Untuk kebutuhan kompiler tersedia gcc 4.8.5, 5.3.1 dan 6.1.1. kompiler lain yaitu llvm-clang 3.8.0. Serta menggunakan CMake 3.5, OpenSSL 1.0.2h, OpenSSH 7.2p2.


Rekomendasi :

Metode mengunduh
Ukuran DVD iso nya sebesar 4.7 GB, laman unduhan resmi openSUSE sudah menggunakan MirrorBrain sehingga setiap unduhan akan dialihkan ke server-server terdekat. Namun jika kecepatan unduhan terasa lambat padahal koneksi internet anda cepat, lebih baik unduh saja melalui torrent resmi. Pada saat tulisan ini dibuat, swarm seed torrent sudah banyak.

Upgrade atau instalasi baru?
openSUSE Leap 42.2 mendukung upgrade dari versi 42.1, pastikan koneksi internet cepat dan memiliki ruang kosong pada harddisk yang lega.
Aku sendiri lebih menyukai instalasi baru daripada upgrade. Aku biasanya menyediakan satu partisi kosong, sehingga nantinya terdapat tiga distro, Arch Linux, openSUSE Leap 42.1 dan openSUSE Leap 42.2.
* 1 partisi Arch Linux + 1 partisi HOME khusus untuk Arch Linux.
* 1 partisi openSUSE Leap 42.1 ( HOME termasuk didalamnya, tidak terpisah).
* 1 partisi openSUSE Leap 42.2 ( HOME termasuk didalamnya, tidak terpisah).
* partisi-partisi lainnya.

BTRFS?
Secara default sejak openSUSE Leap 42.1 direkomendasikan menggunakan BTRFS filesystem. BTRFS memiliki salah satu fitur andalan yaitu incremental backup, yang artinya hanya mencadangkan berkas-berkas yang berubah saja (tidak secara penuh). Jadi jika pada suatu saat terjadi pemutahkiran beberapa paket yang mengakibatkan kegagalan, tinggal di restore balik saja dengan Snapper. Walaupun hanya incremental backup, tentu saja memerlukan ruang kosong lebih pada harddisk, masukkan faktor ini jika anda berniat menggunakan BTRFS.

Cara membakar image iso nya ke USB Flashdisk?
Silahkan baca SUSE Studio ImageWriter dan Etcher

Kenapa oh kenapa?
sh*t happen, that's why.
Kalau saja ada hal yang tidak disukai, openSUSE Leap 42.1 masih terinstall. Kalau openSUSE Leap 42.2 sudah teruji baru tinggal menghapus yang 42.1. Simple kan?

Read More

Thursday, November 10, 2016

SUSE Studio ImageWriter

  No comments
November 10, 2016

Setelah Etcher kini giliran SUSE Studio ImageWriter. Aplikasi ini ditujukan bagi pengguna SUSE Linux Enterprise (SLE) dan openSUSE, namun pada prakteknya dapat juga digunakan pada distro lain.
SUSE Studio ImageWriter sangat mudah digunakan dan memiliki pengaman sehingga hanya removable drive yang ditampilkan.

Dimana mendapatkan SUSE Studio ImageWriter?

http://software.opensuse.org atau tautan langsung

Antarmuka website database aplikasi.


Atau untuk pengguna openSUSE dapat menginstallnya langsung melalui konsol.
zypper install imagewriter

Untuk menampilkan semua distro, tekan "Show other versions". Jika kebetulan anda sedang memakai openSUSE, gunakan fitur "one click install" langsung dari web browser. Nantinya YaST akan menangani ketergantungan repository dan paket-paket yang diperlukan.

Sebagai contoh, aku menggunakan Arch Linux dan imagewriter dari AUR untuk membakar iso image GeckoLinux edisi XFCE Leap 42.1.

Peringatan : Semua data yang terdapat pada flashdisk / sdcard / microsd akan HILANG. Backup data anda terlebih dahulu.


1. buka imagewriter.
2. tekan bagian tengah yang telah ditandai atau bisa juga seret image dari file manager.
Klik atau seret image.

3. dari dialog, tentukan lokasi dimana anda menyimpan imagenya lalu pilih. Dalam hal ini aku menyimpan imagenya pada harddisk lain yang di mount pada /mnt/data/.
Pilih lokasi dimana image berada.

Pilih image distro, ekstensi yang didukung adalah raw, iso dan img.

4. jika flashdisk sedang di mount, imagewriter akan meminta untuk dilepas dahulu, tekan "Yes" untuk melanjutkan.
Konfirmasi melepas flashdisk.

5. imagewriter akan meminta akses setara root, ketik password untuk melanjutkan. Pada umumnya hampir semua distro menggunakan sudo, namun ada beberapa distro konservatif yang tidak menggunakan sudo. Tekan "Yes" untuk konfirmasi akhir.
Ketik password untuk melanjutkan.

6. tunggu proses sampai selesai, reboot dan pilih boot dari flashdisk tersebut.
Bakar.


Setahuku SUSE Studio ImageWriter dapat digunakan untuk membakar image dari distro apapun, tentunya ada beberapa pengecualian dimana hasil bakaran tersebut gagal booting. Jika itu yang terjadi, gunakan aplikasi lain seperti Etcher.

Sumber lain yang dapat dibaca : https://en.opensuse.org/SDB:Live_USB_stick

Read More

Tuesday, November 8, 2016

openSUSE Leap atau openSUSE Tumbleweed

  3 comments
November 08, 2016

Gecko.


Beberapa hari lagi openSUSE Leap 42.2 akan dirilis, mungkin bagi yang belum pernah mencoba openSUSE akan bingung perbedaan antara openSUSE Leap dan openSUSE Tumbleweed.

Lalu apa bedanya?

openSUSE Leap
* Fixed based release model, versi terbaru dirilis setidaknya setiap 8 bulan sampai 12 bulan.
* Berbasis pada SUSE Linux Enterprise (SLE) yang mengutamakan kestabilan.
* Strategi rilis disejajarkan dengan SUSE Linux Enterprise (SLE), openSUSE Leap 42.1 berbasis SLE Service Pack (SP) 1, openSUSE Leap 42.2 berbasis SLE Service Pack (SP) 2, openSUSE Leap 42.3 berbasis SLE Service Pack (SP) 3, dan seterusnya.
* Daur hidup yang cukup lama, pengguna disarankan mengupgrade dari versi minor ke versi minor yang terbaru setidaknya 6 bulan setelah ketersediaan (42.1 ke 42.2, 42.2 ke 42.3, dst). setiap versi minor didukung selama  18 bulan. Jika mengikuti rekomendasi maka total dukungan mencapai 36 bulan.
* Hanya menerima pemutahkiran perbaikan dan keamanan, kecuali beberapa aplikasi yang selalu termutakhir seperti Mozilla Firefox.
* Media instalasi berupa instalasi lewat network dan DVD, tidak ada Live CD.

openSUSE Tumbleweed
* Rolling based release model.
* Berbasis Factory repository, pengembangan basis kode utama openSUSE.
* Stak perangkat lunak termutakhir, termasuk kernel Linux, lingkungan Desktop, aplikasi-aplikasi, peralatan pengembangan perangkat lunak (kompiler, IDE, dll).
* Media instalasi berupa instalasi lewat network dan DVD, tidak ada Live CD. Mendukung upgrade dari openSUSE Leap ke openSUSE Tumbleweed.
* Tidak ada jaminan kestabilan, walaupun pemutahkiran mendarat di Factory dulu sebelum ke Tumbleweed.
* Khusus untuk driver dari pihak ketiga seperti driver grafis AMD dan Nvidia, ada kemungkinan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Walaupun pada umumnya driver Nvidia tidak mempunyai masalah dengan Tumbleweed.

Rekomendasi pribadi untuk Linux Gamers gunakan openSUSE Leap, jika ada alasan tertentu seperti driver grafis tidak stabil baru gunakan openSUSE Tumbleweed atau dual boot openSUSE Leap dan Tumbleweed. Sedangkan untuk pengguna Linux Non-gamers, gunakan openSUSE Leap.

Sudah bisa menentukan yang mana sesuai untuk anda?



GeckoLinux

Tunggu dulu, setelah Leap, Tumbleweed, lalu GeckoLinux? Apa lagi ini...
GeckoLinux secara teknis merupakan spin-off tidak resmi dari openSUSE, memodifikasi yang dianggap perlu. Media instalasi GeckoLinux berupa Live CD / DVD / USB dengan ukuran kurang lebih 1GB. Berfokus dengan edisi per lingkungan desktop, jadi cukup mengunduh edisi mana yang disukai, Budgie, Cinnamon, Gnome, LXQT, Mate, Plasma, XFCE. Anda dapat memilih baik GeckoLinux berbasis Leap atau Tumbleweed.

GeckoLinux edisi XFCE berbasis openSUSE Leap 42.1.


Jadi jika ingin mencoba openSUSE, sebaiknya unduh GeckoLinux.

Read More

Tuesday, April 24, 2012

Rekap

  No comments
April 24, 2012

KDE SC 4.7.0

KDE SC 4.7.0

Hanya sedikit info, buat yang masih memakai KDE SC 4.7.x lebih baik memakai KDE SC 4.7.3 atau KDE SC 4.7.4. KDE SC 4.7.0 agak mengecewakan karena beberapa bug terlewatkan saat proses RC, memang sih KDE Dev cepat merespon dengan merilis pacth. Dengan kata lain harus di patch secara manual baru sebulan kemudian terakumulasi pada KDE SC 4.7.1. Namun sayangnya baik KDE SC 4.7.1 dan 4.7.2 masih menyisakan bug yang mengganggu yaitu bug berkaitan dengan manajemen clipboard (Klipper). KDE 4.7.4 lah paling stabil diantara pendahulunya.

Saat tulisan ini dibuat rilis KDE sudah mencapai KDE SC 4.8.2.


openSUSE 12.1

openSUSE 12.2 dengan KDE SC 4.7.2

Tunggu dulu, mana openSUSE 12.0 ? rilis .0 -dot oh- ditiadakan sejak 12.x, dengan kata lain nantinya 12.1,12.2 dst... 13.1, 13.2 dst. openSUSE 12.1 dirilis pada November 2011, sayangnya masih memakai KDE SC 4.7.2 dan yang paling mencolok adalah berkurangnya kualitas artwork nya dari rilis sebelumnya, kurang "hijau". Untungnya saat KDE SC 4.8.0 yang dirilis pada akhir Januari 2012 langsung tersedia pada repository stabil. Bagaimana dengan Tumbleweed ? Sayangnya om Greg KH sangat sibuk sehingga repository agak terlantar, baru sekitar bulan maret paket terupdate.


Ubuntu 11.10

Ubuntu 11.10 "Oneiric Ocelot"

Yang menarik dari rilis kali ini adalah keikutsertaan Unity2D (a.k.a Unity-Qt) untuk lingkungan tanpa akselerasi grafis. Sedangkan untuk lingkungan dengan akselerasi grafis tetap memakai Unity (a.k.a Unity-Gtk). Sayangnya dalam hal fitur Unity2D sedikit tertinggal dibanding Unity. LightDM menggantikan GDM2, jujur saja LightDM benar-benar indah. openchrome sudah tidak bermasalah lagi dan yang terakhir tentunya pemakaian kernel Linux 3.0.x.


Linux Mint 12

Linux Mint 12 "Lisa"

Kali ini berbasis Ubuntu 11.10, aku sendiri mulai kehilangan keinginan untuk mencoba. Menurutku developer Mint terlalu membagi fokus pada banyak DE sedangkan jumlah developernya tidak sebanding dengan beban kerja. Bukan berarti Cinnamon dan Mate kurang bagus, tapi sebaiknya Clem memutuskan distro mana yang dijadikan basisnya apakah Debian atau Ubuntu. Sayangnya Cinnamon -seperti Gnome Shell- hanya bisa digunakan pada lingkungan dengan akselerasi grafis.


BlankOn 7

BlankOn 7 "Pattimura" dengan konsep desktop berbeda

Distro karya Indonesia ini dirilis pada 17 Agustus 2011, dibuat berbasis Ubuntu 11.04 namun memakai perangkat lunak yang terbilang mutakhir untuk saat itu, sebut saja kernel Linux 3.0. Memadukan integrasi beberapa bahasa daerah Indonesia dan Gnome 3 yang telah dimodifikasi. Sepintas konsep panel dan start menu nya agak berbeda dari yang telah ada. aku tidak ingin berkomentar mengenai hal ini.

Read More

Monday, October 10, 2011

Apa Kabar openSUSE Tumbleweed

  2 comments
October 10, 2011

Beberapa bulan yang lalu aku mencoba openSUSE Tumbleweed, dengan hasil yang memuaskan. Bagaimana setelah beberapa bulan berjalan.,.?

Beberapa catatan menarik yang perlu diperhatikan antara lain :

  • Besarnya update yang terjadi dalam rentang harian, memang terkadang tidak tersedia update, namun lebih sering pasti ada rebuild pada repository Tumbleweed. Jika dibandingkan dengan Arch Linux dan Chakra GNU/Linux, openSUSE Tumbleweed sangat boros bandwidth -dengan asumsi user mengupdate tiap hari- dan jumlah paket yang harus didownload pun lebih banyak -atau sangat banyak?-, kurang lebih antara 100MiB-500MiB. Mungkin padanan yang serupa adalah Linux Mint Debian Edition -walaupun kedepan akan berkurang drastis, karena LMDE menerapkan sistem "Update Pack", tidak langsung diupdate dari Debian Sid (unstable).
Praktek terbaik: Jika anda memiliki bandwidth terbatas a.k.a koneksi lambat -sudah gitu ada quotanya lagi.,. LOL-. Tetapi tetap ingin memakai openSUSE Tumbleweed, lakukan update dalam rentang mingguan -1 atau 2 minggu sekali-, atau bahkan cukup sebulan sekali. Tentunya ada resiko tersendiri jika memilih langkah tersebut, salah satunya dalam hal keamanan.

  • Prosedur update yang membingungkan, memang sudah dijelaskan bahwa tidak disarankan mengupdate melalui YaST, tapi bukan berarti melalui terminal juga mudah. Salah satu cara-atau dua?- mengupdate yaitu zypper dup atau zypper dup --from Tumbleweed, yang pada prakteknya cara terbaik adalah zypper dup --from Tumbleweed. Mengapa begitu? Karena jika anda mengupdate dengan mengeksekusi perintah zypper dup bisa dipastikan terjadi vendor change, dengan kata lain terjadi pencampuran paket dari repository Stable dan Tumbleweed.
Praktek terbaik: Update melalui terminal dengan mengeksekusi perintah zypper dup --from Tumbleweed. Resikonya? paket-paket dari repository lain tidak akan diupdate, dengan kata lain user harus mengupdate per repository.

  • Resolusi dependency paket yang juga membingungkan, masih terkait dengan poin diatas. Saat mengupdate dipastikan anda akan ditanya oleh zypper berkaitan dengan vendor change beserta ketergantungan paket-paket. Walaupun tidak bisa dipungkiri zypper itu bagus, namun menurutku terlalu ribet jika dibandingkan dengan pacman. kasus yang terjadi seperti ketika zyyper menangani paket terkait yang sudah tidak menjadi dependency paket lainnya, bukannya menghapus paket tersebut malahan mendowngrade banyak paket, celakanya beda arsitektur lagi.
Praktek terbaik: Solusinya dengan melihat dependency paket yang bermasalah tersebut, kemudian menghapusnya terlebih dahulu sebelum mengupdate sistem.

  • Beberapa paket sering diupdate, beberapa paket menunggu diupdate, TBH hal ini dapat disebut kekurangan, tapi dapat juga disebut kelebihan. Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah kestabilan. Saat ini Tumbleweed sudah menyediakan Kernel Linux 3.0.x, dan KDE SC 4.7.x baru akan muncul paling lambat minggu depan. Sangat kontras dimana Arch Linux sudah menikmati KDE SC 4.7.2, sedangkan Chakra GNU/Linux baru KDE SC 4.7.1.
Praktek terbaik: Kestabilan adalah hal yang utama

Yang terakhir adalah, openSUSE user yang men-update Tumbleweed pada rentang seminggu yang lalu -terhitung sejak hari ini-, kemungkinan besar menemukan sistemnya BROKEN. Tunggu seminggu kedepan, karena om Greg kh akan memperbaikinya.,.

Read More

Thursday, March 17, 2011

openSUSE 11.4 : Tumbleweed

  No comments
March 17, 2011

openSUSE 11.4 telah dirilis beberapa hari yang lalu. Menurutku rilis kali ini lebih baik daripada yang lalu. Setelah sukses menginstall pada dua laptop, kupikir sudah saatnya mencoba Tumbleweed. Bagi yang belum tahu, Tumbleweed akan membuat openSUSE menjadi rolling release seperti Arch Linux dan Chakra GNU/Linux. Buka Konsole, dengan hak root eksekusi.

zypper ar --refresh http://download.opensuse.org/repositories/openSUSE:/Tumbleweed/standard/ Tumbleweed
zypper dup --from Tumbleweed

Menambahkan Repository Tumbleweed

Konflik paket, remove saja sesuai saran Zypper

Perhatikan outputnya, kemungkinan ada beberapa paket yang akan di remove. Lalu tambahkan repository Packman Tumbleweed.

zypper ar -n packman-essentials http://ftp.uni-erlangen.de/pub/mirrors/packman/suse/openSUSE_Tumbleweed/Essentials packman-essentials

Menambahkan Repository Packman Tumbleweed Essentials

Pilih mirror terdekat, lihat di http://packman.links2linux.org/mirrors
Jika beberapa software tidak tersedia pada repository utama, tambahkan repository Contrib dengan cara :

Jalankan YaST2, pilih Software Repositories

Pilih Add

Pilih Community Repositories, lalu Next

YaST2 sedang memperbaharui daftar Repository

Pilih Main Repository (Contrib)

YaST2 sedang menambahkan Repository Contrib

Hasil akhir setelah menambah Repository Tumbleweed, Packman Tumbleweed Essentials dan Contrib. Untuk mengakhiri pilih OK

Referensi :
http://en.opensuse.org/Portal:Tumbleweed
http://en.opensuse.org/Additional_package_repositories#Packman

Read More

Friday, March 11, 2011

BURG - Boot Manager

  No comments
March 11, 2011

Burg merupakan fork dari Grub2 yang menambahkan beberapa fitur yang tidak ada pada Grub2. Perbedaan yang paling kelihatan adalah aspek eye-candy Burg yang menurutku lebih bagus daripada Grub2. Cara menangani tema yang sedikit berbeda, mengganti tema secara langsung, mengganti resolusi layar secara langsung, pengelompokkan item pada menu (grup), dan lain-lain.

Sebenarnya sudah lama aku menggunakan Burg, namun baru sekarang ada waktu untuk menulisnya di blog. Untuk Arch Linux beberapa paket yang dibutuhkan dari AUR antara lain :

burg-bzr (core)
burg-emu (emulasi)
burg-themes (tema-tema)
burg-manager (gui untuk manajemen burg, memerlukan sudo untuk otentifikasi)
dan dependencies nya

Gunakan packer atau yaourt untuk menginstall dari AUR. Untuk Chakra GNU/Linux Burg sudah resmi menggantikan Grub/Grub2, untuk Ubuntu dan Linux Mint tersedia di PPA, untuk openSUSE belum dapat sumbernya -anda belum beruntung-.
Sebagai root jalankan :

burg-install /dev/sda
burg-mkconfig -o /boot/burg/burg.cfg

Catatan:
-sudo harus sudah terkonfigurasi jika ingin menggunakan burg-manager
-ketika mengeksekusi "burg-install /dev/sda", pastikan keluarannya sukses. Jika error sebaiknya segera menginstall Grub/Grub2 (yang dulu digunakan).
-ketika mengeksekusi "burg-mkconfig -o /boot/burg/burg.cfg", burg-themes harus sudah terinstall.
-jangan reboot sebelum memastikan Burg terinstall dan terkonfigurasi dengan benar.

Perintah yang pertama menginstall Burg pada MBR pada harddisk pertama, sedangkan perintah yang kedua membuat konfigurasi berdasarkan sistem operasi apa saja yang terinstall pada komputer.

Sayangnya burg.cfg harus disesuaikan terlebih dahulu, misalnya title yang rada ngawur seperti 'n/a GNU/Linux bla bla bla' ganti sesuai selera, juga tambahkan --class arch supaya icon Arch Linux dapat tampil. Ganti group dan resolusi sesuai selera. Gunakan burg-emu untuk emulasi secara langsung dengan mengeksekusi "/opt/burg-emu/bin/burg-emu".

Konfigurasi
Pengaturan umum terdapat pada /etc/default/burg, parameter-parameternya akan dibaca saat menjalankan burg-mkconfig. Dengan menghilangkan komentar, kurang lebih seperti ini :

GRUB_DEFAULT=0
GRUB_TIMEOUT=6
GRUB_DISTRIBUTOR=`lsb_release -i -s 2> /dev/null || echo Arch`
GRUB_CMDLINE_LINUX_DEFAULT="quiet splash"
GRUB_CMDLINE_LINUX=""
GRUB_SAVEDEFAULT=true
GRUB_GFXMODE=saved
GRUB_GFXPAYLOAD_LINUX=1440x900
GRUB_DISABLE_LINUX_RECOVERY="true"
GRUB_THEME=saved
GRUB_FOLD=saved

Konfigurasi Menu
Pengaturan terdapat pada /boot/burg/burg.cfg, secara default file ini tidak ditujukan untuk diedit manual, namun seperti yang dijelaskan diatas perlu dilakukan sedikit penyesuaian. Contoh menuentry kurang lebih seperti ini :

menuentry 'Arch Linux' --class arch --class os --group group_/dev/sda2 {
    savedefault
    set gfxpayload=1440x900
    insmod ext2
    set root='(hd0,2)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 6e870d7b-4a58-4992-a91d-4fea0bef01ff
    echo    'Loading Linux vmlinuz26 ...'
    linux    /boot/vmlinuz26 root=/dev/disk/by-uuid/6e870d7b-4a58-4992-a91d-4fea0bef01ff ro
    echo    'Loading initial ramdisk ...'
    initrd    /boot/kernel26.img
}
menuentry 'Arch Linux Fallback' --class arch --class os --group group_/dev/sda2 {
    savedefault
    set gfxpayload=1440x900
    insmod ext2
    set root='(hd0,2)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 6e870d7b-4a58-4992-a91d-4fea0bef01ff
    echo    'Loading Linux vmlinuz26 ...Loading Linux Fallback ...'
    linux    /boot/vmlinuz26 root=/dev/disk/by-uuid/6e870d7b-4a58-4992-a91d-4fea0bef01ff ro
    echo    'Loading initial ramdisk ...'
    initrd    /boot/kernel26-fallback.img
}

Sedangkan untuk distro lain yang Grub / Grub2 / Burg yang diinstall pada partisi root cukup di chainloader saja

menuentry "openSUSE 11.4" --class suse --class os --group group_/dev/sda6 {
    savedefault
    insmod ext2
    set root='(hd0,6)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 3239bbec-7a75-4d17-a228-b9543d1fa7ae
    drivemap -s (hd0) ${root}
    chainloader +1
}
menuentry "Ubuntu 10.10" --class ubuntu --class os --group group_/dev/sda7 {
    savedefault
    insmod ext2
    set root='(hd0,7)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 4ce281ea-9f29-40b8-b891-1e28df127172
    drivemap -s (hd0) ${root}
    chainloader +1
}
menuentry "Linux Mint Debian Edition" --class linuxmint --class os --group group_/dev/sda8 {
    savedefault
    insmod ext2
    set root='(hd0,8)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 200aec2b-8c34-4711-8ce0-3a8de76e0b15
    drivemap -s (hd0) ${root}
    chainloader +1
}
menuentry "Linux Mint 10" --class linuxmint --class os --group group_/dev/sda9 {
    savedefault
    insmod ext2
    set root='(hd0,9)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 464e767b-eeab-4d5d-b3f4-392d4079fe7a
    drivemap -s (hd0) ${root}
    chainloader +1
}
menuentry "Linux Mint 10 KDE" --class linuxmint --class os --group group_/dev/sda10 {
    savedefault
    insmod ext2
    set root='(hd0,10)'
    search --no-floppy --fs-uuid --set 0fdb6da5-a25e-4565-8f71-e3d83ddc8762
    drivemap -s (hd0) ${root}
    chainloader +1
}

Shortcut
F1 untuk bantuan, F2 untuk mengganti tema, F3 atau R untuk mengganti resolusi layar, F untuk folding menu dan F7 untuk menampilkan submenu pada folding menu. E untuk mengedit, dan seterusnya.,.


Burg-manager?
Merupakan antarmuka berbasis grafis untuk Burg yang dikembangkan oleh pihak ketiga. Sejujurnya cara tercepat mengedit konfigurasi adalah dengan text editor, hehe.,. Aplikasi yang seharusnya mempermudah, justru kadang malah memperumit. Pada prakteknya Burg-manager sering hang -alasan yang sebenarnya-.

Why oh why?
Sebenarnya cukup menginstall satu boot manager pada MBR, entah itu Grub / Grub2 / Burg. Sedangkan pada partisi root tiap distro tidak perlu diinstall boot manager. Namun sudah menjadi kebiasaanku, alasan lain adalah untuk kemudahan -atau mempersulit?-, karena boot manager pada MBR men-chainloader ke -apapun- boot manager pada partisi root tiap distro.

Read More

Thursday, March 10, 2011

openSUSE 11.4

  No comments
March 10, 2011

Masih 5 jam lagi menunggu pengumuman rilis resmi dari openSUSE 11.4, tapi aku sudah mendapatkan ISO DVD nya, hehe.,.

Pertanyaannya adalah apakah openSUSE 11.4 lebih baik dari openSUSE 11.3?
Sejauh ini dari segi art sangat bagus, konsisten dari Grub, bootsplash, KDM, KSplash, sampai wallpapernya dan openSUSE branding pada splash tiap aplikasi. Juga sudah menggunakan KDE SC 4.6.0 yang beberapa minggu lalu dirilis, harapanku semoga beberapa bugs yang mengganggu diperbaiki team KDE openSUSE.

Sebagai alternatif disertakan Grub2, yang secara default masih memakai Grub Legacy. Tertarik dengan Gnome 3 -preview- ? Ada juga kok, nantinya juga kalo Gnome 3 dirilis bakalan ada respin CD Gnome 3. DE yang lain juga ada, Gnome 2, XFCE, LXDE, *Box, dll.,. semua tersedia di DVD yang berukuran 4.30 GiB. Tentunya 'paket' hemat juga tersedia, yaitu Live CD Gnome, Live CD KDE, Addons Language.

Pada rilis kali ini, YaST Software Manager nya sudah mencakup beberapa repository diluar openSUSE seperti Packman, tinggal di aktifkan beres.,. -kenapa gak dari dulu c?-. Bagi yang menginginkan rolling release tinggal tambahkan repository Tumbleweed.

Hm.,. apalagi ya? Bentar, nanti malam baru ada waktu buat install openSUSE 11.4, cu.,.

Lanjut.,.
YaST installer masih sama seperti yang dulu, beda art saja, slideshownya pun masih sama malahan ada sedikit salah tulis, yang seharusnya LibreOffice tertulis OpenOffice.org. Dari segi lamanya instalasi rasanya sama juga. Perbedaannya adalah instalasi stage 2 tidak perlu reboot dan langsung automatic configuration, lalu kemudian masuk ke DE yang dipilih. Jika dibandingkan dengan installernya Ubuntu / Linux Mint, YaST Installer rada ribet saat pengaturan partisi, walaupun lebih powerfull namun tetap saja instalasi Ubuntu / Linux Mint lebih mudah dan cepat. Perlu diingat bahwa perbedaan media instalasi juga mempengaruhi, dimana Ubuntu hanya berupa CD, sedangkan openSUSE berupa CD dan DVD.

Sialnya entah kenapa yang seharusnya Grub terinstall pada partisi root (bukan MBR) ternyata malah merusak Burg yang terinstall pada MBR, hasilnya laptopku tidak bisa booting, hehe.,. Tenang saja, cukup booting DVD installer openSUSE, pilih Recovery, nantinya akan masuk ke console, login sebagai root -tanpa password-, lalu

grub
root (hd0,5)
setup (hd0)
quit
reboot

Kemudian masuk ke openSUSE, tambahkan entry untuk Arch Linux melalui YaST Grub, reboot, masuk ke Arch Linux, lalu buka Konsole sebagai root eksekusi

burg-install /dev/sda

Jika entry openSUSE belum ada pada burg.cfg, tambahkan. Reboot, dengan ini Arch Linux sukses mengambil alih Boot Manager dari Grub menjadi Burg -seperti semula-. Oh BTW, berhubung aku sukanya menginstall  Grub tiap distro pada partisi root, Grub openSUSE harus diperbaiki, booting DVD installer openSUSE, masuk Recovery console, login sebagai root -tanpa password-, lalu

grub
root (hd0,5)
setup (hd0,5)
quit
reboot

Kedepannya nanti aku terbitkan artikel mengenai Burg.
openSUSE terkenal dengan KDE SC nya yang teroptimasi dengan baik -secara developer KDE banyak juga menjadi developer openSUSE-.  Buktinya memory yang dipakai KDE lumayan sedikit dibandingkan distro lainnya, kurang lebih 430 MiB, sebagai perbandingan Arch Linux KDE memakai setidaknya 700an MiB -dengan Nepomuk dan Strigi aktif-.

Ada yang hilang dari systray, Suse Updater yang kini digantikan oleh KPackageKit -sekarang berganti nama menjadi Apper-, Network Manager Plasmoid yang sedikit berbeda dari standar. Firefox bukannya memakai Firefox 3.5.x, namun Firefox 4 Beta yang nantinya akan diupdate jika mencapai rilis final.

Sayangnya untuk pengguna dengan vga Chrome9 dan sejenisnya, driver openchrome tidak disertakan namun dapat didownload di Factory -yang seharusnya sebentar lagi turun ke 11.4-. Untuk laptop diperlukan sedikit pergantian pengaturan agar font nya terlihat baik, dari System Setting > Application Appearance > Fonts, Use anti aliasing (enabled) dan Force font DPI (96DPI), reboot.

Sejauh ini aku puas, berikut tampilan desktopku, KDE SC 4.6.0

openSUSE 11.4 dengan KDE SC 4.6.0 memakai tema Air openSUSE

KickOff Menu

http://news.opensuse.org/2011/03/10/opensuse-11-4/

Read More

Thursday, December 2, 2010

OpenSUSE Tumbleweed : Rolling Release

  No comments
December 02, 2010

Menjadi pengguna Arch Linux dan Chakra GNU/Linux sudah tentu menikmati bagaimana suka duka nya Rolling Release Model. Faktanya sistem operasi mayor disamping Linux (Microsoft Windows dan Mac OS) menggunakan Rolling Release atau lebih tepatnya Half Rolling Release. Lalu kenapa hampir semua distro Linux masih menggunakan Fixed Release Model? Pertanyaan itu hanya bisa dijawab developer masing-masing distro.

Sangat kontras memang, perkembangan FOSS secara umum lebih cepat dari pada model lainnya karena sifatnya yang terbuka itu sendiri namun pada sisi yang lain developer distro justru mencari aman dengan menetapkan jadwal rilis distro dalam jangka waktu tertentu. Celakanya dengan alasan yang sama, semua tree repository yang didalamnya berisi ribuan aplikasi juga terkena imbas, tidak menerima update versi hanya bugfix atau security fix saja. Istilah kerennya disebut "Freeze". Pada proses pengembangan distro versi selanjutnya baru akan ditetapkan acuan aplikasi versi manakah yang akan digunakan mendatang.

Hal ini menimbulkan situasi yang kompleks, tidak jarang developer tiap distro mem "back ported" beberapa fitur aplikasi dari versi terbaru sehingga secara tidak langsung menciptakan "forked" dari upstream project. Pelaporan bug tidak serta merta dapat dilaporkan langsung ke upstream project, karena tiap distro memiliki versi aplikasinya sendiri. Kebijakan seperti ini sangat merugikan di kedua pihak baik upstream project dan distro itu sendiri karena terjadi duplikasi tugas. Sudah saatnya bekerja lebih dekat dengan upstream project sehingga semua pihak mendapatkan keuntungan yang sama.

Apakah Arch Linux tidak cukup menjadi contoh sukses dari Rolling Release Model? Belajar dari hal tersebut maka muncul lah inisiatif lain, Half Rolling Release yang dipakai oleh Chakra GNU/Linux Project yang bertujuan menutup kelemahan-kelemahan itu. Keduanya sebisa mungkin memakai aplikasi vanilla dari upstream project dan menekan modifikasi code yang spesifik terhadap distro. Pengajuan fitur baru dan perbaikan bug sudah sewajarnya dilakukan langsung di upstream project.

Sayangnya isu Ubuntu yang akan berpindah ke Rolling Release yang beredar belakangan ini "dibantah" secara tegas oleh developer Ubuntu. Namun pagi ini situasinya sedikit menyenangkan, pasalnya om Greg KH -salah satu hacker top dari openSUSE- berinisiatif mengumumkan openSUSE Tumbleweed Project, yang memungkinkan pengguna openSUSE mencoba Rolling Release. Sebagai pioner openSUSE 11.3 akan menjalani tahap ujicoba, kedepan diharapkan akan siap secara penuh pada openSUSE 11.4 yang sedianya akan dirilis pada Maret 2011.

Lalu apa bedanya Tumbleweed dengan Factory dan Factory-Tested?
Factory selalu mengandung versi paket terbaru yang dibuat oleh maintainers, kadang paket-paket tersebut tidak bekerja secara baik dan menyebabkan mesin gagal booting, disinilah Factory-Tested dibutuhkan. Singkatnya sebelum paket dipindah ke Factory, harus di ujicoba di Factory-Tested terlebih dahulu sehingga diharapkan Factory sebisa mungkin stabil. Tumbleweed akan mengandung versi paling "stabil" dari paket terbaru yang diharapkan dapat bekerja dengan baik.

Sound interesting huh?

Read More

Tuesday, November 30, 2010

Multiversi Kernel Di OpenSUSE

  No comments
November 30, 2010

Menyambung bahasan sebelumnya, tapi kali ini tentang kernel. Ketika terjadi update bugfix kernel Linux pada openSUSE secara default kernel versi sebelumnya akan ditimpa dengan yang baru. Perilaku yang sama juga diterapkan Arch Linux dan Chakra GNU/Linux, bedanya pada Arch Linux terdapat satu paket Kernel Default (kernel26) dan satu paket Kernel LTS (kernel26-lts) serta puluhan Kernel Custom di AUR. Mengingat Arch Linux dan Chakra GNU/Linux memakai Rolling Release Model, maka tidak hanya update bugfix saja yang di timpa tapi update minor juga, misalnya dari versi 2.6.35 ke 2.6.36. Lain hal nya dengan Debian dan turunannya terutama Ubuntu, untuk alasan backup, tiap ada update bugfix kernel yang terdahulu tidak akan ditimpa dengan yang baru dan otomatis menambahkan entry baru di Grub. Saat tulisan ini dibuat Ubuntu sudah mendapatkan satu kali update bugfix kernel, jadi di Grub terdapat dua pilihan Kernel yaitu 2.6.35-22 dan 2.6.35-23.

Lalu apa yang salah dengan hal tersebut? jawabnya tidak ada, hehehe.,. Tapi.,. -lho kok pake tapi?-
Bayangkan -lagi-, setelah capek-capek unduh update paket, mana koneksi lagi lemot sangat, banyak kerjaan, ga ada nyamilan dan sebangsanya.,. setelah reboot eh ternyata -ga pake lagi- kernel yang baru gagal booting.,. Capek deh

Lebih baik ditinjau per distro yah, okelah.,.

Arch Linux dan Chakra GNU/Linux
Idealnya minimal punya dua versi Kernel ter-install, kernel26 untuk dipakai sehari-hari dan kernel26-lts untuk cadangan ketika kernel26 gagal. Tapi pada prakteknya malah lebih dari dua, belum lagi dari AUR yang bisa di kompile manual ada kernel26-zen, kernel26-ck, kernel26-bfs dan lain-lain. Kenapa disebut "ideal"? karena pengguna kedua distro tersebut paling ga udah bergelar ""ahli"" -pake tanda kutip dua kali-, jadi harusnya sudah sadar diri tentang hal itu, tapi kalau ga ya.,. keterlaluan, hehehe.,.

Debian, Ubuntu dan turunannya
Bisa dibilang relatif aman, cuman harus rajin-rajin menghapus paket kernel yang udah uzur, kalau ga entry di Grub bakalan "meriah". Masih kurang rame? install aja custom kernel dari PPA, hehehe.,.

openSUSE
Masuk ke bahasan utama, masih kurang jelas? harusnya udah c.,.

Dengan hak root, edit /etc/zypp/zypp.conf cari entry multiversion = provides:multiversion(kernel) dan uncomment (hilangkan tanda pagar '#') menjadi.

multiversion = provides:multiversion(kernel)

Kelar deh

Read More

Download Policy Di OpenSUSE

  No comments
November 30, 2010

Bukan.,. ini bukan membicarakan tentang cara mengunduh iso image nya openSUSE, tapi berkaitan dengan zypper. Mungkin yang kurang familiar dengan zypper, zypper itu sepadan dengan apt nya distro Debian dan turunannya.

Satu hal yang paling mengganggu di openSUSE adalah kebijakan zypper saat mengunduh update paket atau saat meng-install paket. Zypper akan mengunduh paket satu demi satu sembari meng-install, jadi unduh paket pertama lalu install kemudian unduh paket kedua lalu install dan seterusnya.

Apa yang salah dengan hal tersebut? Bayangkan jika proses tersebut terinterupsi (listrik mati?) sedangkan proses update belum selesai sehingga sistem baru terupdate sebagian. Coba tebak apa yang terjadi kemudian.,. Jika paketnya berkaitan dengan software sistem yang esensial bisa-bisa broken tuh, masih dikatakan beruntung kalau masih bisa mengakses shell, kalau tapi.,.

Untungnya seperti kebanyakan software di Linux, zypper sangat fleksibel sehingga konfigurasinya bisa disesuaikan dengan keinginan pengguna. Dalam hal ini lebih baik zypper mengunduh semua paket terlebih dahulu baru kemudian menginstallnya, seperti pada pacman di Arch Linux dan Chakra GNU/Linux.

Dengan hak root, edit /etc/zypp/zypp.conf cari entry commit.downloadMode dan ganti dengan baris dibawah ini

commit.downloadMode = DownloadInAdvance

That's it.,.

Read More

Thursday, September 30, 2010

Haier CE100 Dengan NetworkManager

  No comments
September 30, 2010

Bulan April yang lalu aku membeli modem USB Haier CE100 DualBand CDMA 2001x / EVDO. Dari hasil googling ada seorang Linuxer yg berhasil memakai modem tersebut pada Ubuntu 9.04, tentunya dengan bantuan wvdial dan menurutnya bisa juga di dial lewat NetworkManager. Dengan harapan bisa langsung dipakai dengan NetworkManager aku masukin ke port USB, muncul notifikasi modem CDMA dikenali, konfigurasi provider lalu klik connect. Sembari menunggu sebentar kemudian muncul notifikasi bahwa modem disconected, setelah downgrade versi NetworkManager pun tidak membuahkan hasil.

Akhirnya menyerah juga, wvdial pun menjadi solusi terbaik, sedikit modifikasi /etc/wvdial.conf dan /etc/ppp/options serta udev rules untuk meng-eject otomatis cdrom virtual sehingga modem pun bisa dipakai. Sejak saat itu Arch Linux ku bisa terkoneksi ke dunia maya. Dengan cara yang relatif sama aku terapkan di Ubuntu 9.04, Linux Mint 8 dan openSUSE 11.2 serta openSUSE 11.3.

Beberapa hari yang lalu aku iseng-iseng memakai NetworkManager dengan antarmuka Network Management Plasmoid di KDE SC 4.5.x dan hasilnya ternyata diluar dugaan, sekarang sudah bisa digunakan dengan NetworkManager. Usut punya usut setelah melihat log pacman, pada akhir bulan Agustus kemarin terjadi update paket NetworkManager versi 0.8.1 dan ModemManager 0.4.

Bukannya wvdial tidak terpakai lagi, tapi lebih cenderung berfungsi sebagai cadangan ketika harus melakukan koneksi lewat antarmuka console. Oh ya, sebenarnya NetworkManager juga memiliki antarmuka berbasis console yaitu cnetworkmanager.



Namun ada sedikit masalah, kadang NetworkManager terhubung ke ttyUSB2 yang seharusnya ke ttyUSB0 yang berakibat tidak bisa dipakainya modem. Solusinya sederhana tinggal cabut modem, masukkan ke port lagi atau port USB yang lain. Trik sederhana lain yang bisa dipakai adalah memasukkan modem saat tepat sebelum booting (saat menu GRUB tampil), bisa dipastikan terhubung ke ttyUSB0. Masalah lain yang jarang terjadi adalah tidak munculnya ttyUSB1 dan ttyUSB2, solusinya cukup restart. Kemungkinan terdapat bug di udev atau options.

Bagi pengguna KDE SC, Network Management Plasmoid dan KNetworkmanager biasanya terintegrasi dengan KWallet, fungsinya kurang lebih menyimpan secara aman konfigurasi modem, dan yang mungkin sedikit mengganggu adalah jika KWallet belum aktif akan diminta memasukkan password guna membuka KWallet.

Read More

Thursday, September 9, 2010

Faktor M

  2 comments
September 09, 2010

Wah rupanya udah lama ga menulis di blogq ini, halangan yang berupa faktor m, yaitu males, hehe.,. Bukannya kehabisan ide, tapi malahan ada beberapa hal yang ingin q tulis namun ga kesampaian. Bulan Agustus yang dinanti-nanti telah terlewatkan, setidaknya ga terlambat untuk di tulis, walaupun sekarang udah September.,.

KDE SC 4.5.x

KDE Software Compilation 4.5.0

Rilis yang cukup diantisipasi walaupun KDE SC 4.5.0 terdapat bug-bug yang terlewatkan dari release candidate, untungnya rilis minor bulanan KDE SC 4.5.1 menambalnya. Hampir tidak ada fitur baru yang ditambahkan, melainkan menstabilkan code yang sudah ada dan menyesuaikan tampilan. Yang paling aq suka adalah area notifikasi yang baru, menurutq lebih efisien dari pada area notifikasi yang lama, ditambah dengan icon monochrome di systray terasa cocok dengan tema Air. Namun sayangnya ga semua icon di systray monochrome beberapa aplikasi KDE dan Gnome masih menggunakan icon yang sudah ada. Mungkin ada yang menyukai Web Browser berbasiskan WebKit, sekarang Konqueror bisa memakai engine WebKit. Perubahan yang lainnya tidak begitu tampak secara fisik. Secara keseluruhan I LOVE IT

Arch Linux dengan KDE Software Compilation 4.5.1


Distro
openSUSE 11.3

openSUSE 11.3 saat menjalankan ESET NOD

Beberapa minggu sebelum KDE SC 4.5.0 dirilis, distro openSUSE juga merilis versi terbarunya yaitu openSUSE 11.3. Sebagai mantan pengguna openSUSE, ga ada salahnya mencoba hasil racikan distro bermaskot bunglon ini. Karena males *lagi*, aq mengunduh CD KDE4 Live yang berukuran sekitar 700MiB. Walaupun males, aq masih memiliki kesabaran menunggu unduhan selesai. Selidik punya selidik ternyata aq pelupa juga, ga inget ato pura-pura ga inget kalo DVD Combo laptopq udah tiada, baru inget ketika unduhan udah selesai *duh*.,.

Ga kurang akal, aq coba aja make UNetBootin, terpaksa korban USB Flashdisk Kingstone 1GiB q. Ga lama kemudian proses nulis imagenya selesai, saatnya reboot. Pilih boot ke USB Flashdisk dan.,. *deenk* Grub error

Masih kurang terima lagi, ngubek-ngubek google sampai akhirnya ketemu solusi lain, yah bisa dibilang mirip-mirip UNetBootin, aplikasi ringan bernama openSUSE Image Writer. Tinggal seret iso nya ke aplikasi tersebut, tapi.,. seperti yang aq bilang dari awal terpaksa harus korban USB Flashdisk karena secara otomatis partisi FAT yang lama dihancurkan, dan dibuat dua partisi baru, partisi root dan home. Ya sudah lah udah terlanjur nyeret iso nya tadi, mana ga ada undo lagi.

Dengan tanpa penyesalan aq reboot, boot ke USB Flashdisk dan *viola* YaST installer menunggu untuk dieksekusi. Reformat partisi tempat bersemayamnya openSUSE 11.2 dan instalasi dimulai sampai sukses.

Lho ga ada reviewnya? Hm apa yah.,. openSUSE 11.3 masih memakai KDE SC 4.4.x tapi dengan tambalan di sana sini, maklum lah kebanyakan developernya merangkap sebagai developer KDE juga. Sebaiknya di liat di situs nya saja langsung, udah ada penjelasan fitur-fitur baru pada rilis tersebut *dengan alasan males pula*

Update: Satu hal yang cukup mengganggu untuk rilis kali ini adalah driver vga di set default ke fbdev bukannya vesa, akibatnya tampilannya tidak begitu bagus. Untungnya cukup mengedit konfigurasi X.org, vesa pun bisa dipakai. Dan sialnya kompilasi manual driver openchrome pun gagal. openchrome dikhususkan untuk vga berbasis via, sedangkan untuk vga lainnya mungkin tidak ada masalah berarti. Namun sial untuk temanq yang memakai vga intel karena selalu freeze setelah dipakai beberapa lama. Ada apa dengan X.org openSUSE?

Ubuntu 10.04 dan Linux Mint 9

Ubuntu 10.04

Mundur beberapa minggu sebelumnya dirilis Ubuntu 10.04 yang kemudian disusul Linux Mint 9. Berhubung bukan fans berat, bingung mau nulis apa.,. yang jelas dibandingkan Ubuntu 9.10, Ubuntu 10.04 bener-bener solid dengan integrasi desktop yang baik. Lalu gimana dengan Linux Mint, ga jauh-jauh beda kok dengan banyak tambalan disana-sini menjadikannya patut dicoba. UNetBootin membantuq dalam hal instalasi via USB Flashdisk. Pokoknya keren abis de.,. *kehabisan kata-kata*

Update: Secara ga sengaja, aq memperhatikan aktifitas sistem saat mem-backup data (seperti gambar diatas), "bug" yang selama ini menghantuiq tidak ada pada rilis ini. So what exactly happen? Ketika melakukan operasi menyalin/memindah data dari dan ke harddisk atau flashdisk serta sebaliknya menyebabkan penggunaan CPU hingga 100%. Akibatnya sistem menjadi kurang responsif, sangat menganggu memang. Sialnya dari semua distro yang pernah q coba memiliki perilaku yang sama, kecuali Ubuntu 10.04. Ga ada salahnya menunggu Ubuntu 10.10 yang akan dirilis beberapa hari lagi.

Chakra GNU/Linux

Proyek Chakra resmi berpisah dari Arch Linux

Sepeninggalnya om Jan Matte, pimpinan proyek diambil alih om Phil, dan melanjutkan rencana mem-fork *bahasa indonesia nya apa ya?* proyek Chakra dari Arch Linux. Chakra memakai PKGBUILD dari paket-paket Arch Linux dan mengkompilasi sendiri untuk didistribusikan lewat repository baru. Bundling System pun dibuat untuk melengkapi paket dari repository utama, tapi apaan c itu? Bahasa gampangnya para developer Chakra benci GTK, jadi di repository ga ada aplikasi Gnome ato aplikasi yang memakai library GTK. Untuk menjembatani para user yang tetap ingin memakai aplikasi berbasis GTK, maka dibuatlah Bundling System.

Ko masih belum jelas c hehe.,. Bundling System meniru konsep Aplikasi image nya Mac OS X dan Windows. Intinya suatu aplikasi akan dipaketkan bersama library pendukung dalam satu image yang nantinya di muat secara transparan ketika aplikasi tersebut di eksekusi.

Akhirnya sampai juga pada bagian akhir *perulangan kata*, eh ini sebenarnya review apa review c? *males mode on*

Read More

Friday, November 13, 2009

openSUSE 11.2

  1 comment
November 13, 2009


Akhirnya waktu yang di nanti tiba setelah melalui waktu development selama 8 Bulan, rilis terbaru openSUSE 11.2 keluar juga. Untuk menghindari double posting, silahkan klik logo Gecko di atas.,. Jika memungkinkan saya akan membuat review di kemudian hari.

Read More