Sunday, November 13, 2016

create_ap : Cara Mudah Membuat Hotspot Wi-Fi

  No comments
November 13, 2016

Pada suatu hari hh sva_h4cky0 akan habis masa paket internetnya, "tanggung nih sebentar lagi awal bulan ngirit dikit ah" gumam sva_h4cky0.
Esoknya sva_h4cky0 penasaran ingin menginstall aplikasi baru pada hh dan baru ingat kalau itu hh sudah tidak ada koneksi internet.

"buat hotspot wi-fi pakai laptop" tiba-tiba ide cemerlang muncul dibenaknya, mulailah sva_h4cky0 mengutak-atik NetworkManager dilaptopnya.
Tak lama kemudian ternyata chipset wi-fi laptopnya tidak mendukung Infrastructure Mode, tidak menyerah begitu saja sva_h4cky0 membuat Ad-Hoc Mode.
Hh pun mulai mencari hotspot abal-abal ini, ternyata tidak terdeteksi sama sekali. Diubahlah pengaturan wi-fi, namun tetap gagal.

Mulailah pencarian dengan dibantu detektif google yang membuahkan hasil, ternyata wi-fi Android tidak bisa terhubung ke hotspot Ad-Hoc. Kalaupun bisa pun hh tersebut harus di-root.
"kalau ethernet over usb gimana yah?" sva_h4cky0 punya ide cemerlang yang lain, ternyata harus di-root juga.
"si root ini siapa sih? masak harus di-root ini root itu" gerutu sva_h4cky0.

Rupanya sva_h4cky0 mulai patah semangat, sambil membolak-balik laman Arch Wiki, "coba cara old-skool bijimane yah" pikir sva_h4cky0 yang sok tahu, padahal selama ini andalan konektifitas selalu memakai NetworkManager.


create_ap

cara old-skool yang sejatinya merupakan sebuah bash scripts yang memanfaatkan aplikasi-aplikasi yang sudah ada pada Linux, dan ternyata sangat mudah dipakai. create_ap juga dapat dijalankan berdampingan dengan NetworkManager.

Fitur :
* Membuat AP (Access Point) pada kanal apapun.
* Mendukung enkripsi : WPA, WPA2, WPA/WPA2, Open (tanpa enkripsi).
* Menyembunyikan SSID.
* Meniadakan komunikasi antara klien-klien (isolasi klien).
* Mendukung IEEE 802.11n dan 802.11ac.
* Metode berbagi internet : NAT atau Bridge atau None (tanpa berbagi internet).
* Memilih alamat IP Gateway pada AP (hanya untuk metode berbagi internet 'NAT' dan 'None').
* Membuat AP dengan antarmuka yang sama seperti antarmuka yang dipakai mengakses internet.
* Anda dapat menambahkan SSID dan password melalui pipe atau argumen.

Ketergantungan :
* bash
* util-linux (untuk getopt)
* procps atau procps-ng
* hostapd
* iproute2
* iw
* iwconfig
* haveged (opsional)
* dnsmasq
* iptables
* rfkill

Laptop terhubung ke internet dengan USB modem melalui antarmuka ppp0 dengan bantuan NetworkManager. Pastikan laptop terhubung ke internet, gunakan nm-applet (Gtk) atau plasma-nm (KDE). Perintah untuk menjalan create_ap pada mode NAT sebagai berikut :

$ sudo create_ap wlan0 ppp0 VFC_AP 1234567890

dimana wlan0 merupakan antarmuka baru yang akan dibuat, sedangkan ppp0 merupakan sumber koneksi. VFC_AP adalah nama SSID dan 1234567890 adalah passwordnya, sesuaikan deangan keperluan. Untuk contoh perintah create_ap selengkapnya dapat dilihat pada website resminya.

Sebelum menjalankan create_ap pastikan wi-fi tidak terblokir, dapat dilihat dengan cara.
$ rfkill list

rfkill list.

Wi-Fi dalam kondisi terblokir, create_ap gagal dijalankan.

$ rfkill list
0: ideapad_wlan: Wireless LAN
Soft blocked: yes
Hard blocked: no
1: ideapad_bluetooth: Bluetooth
Soft blocked: yes
Hard blocked: no
2: phy0: Wireless LAN
Soft blocked: yes
Hard blocked: no
3: hci0: Bluetooth
Soft blocked: yes
Hard blocked: no

Soft blocked  = terblok oleh software misalnya NetworkManager.
Hard blocked = terblok secara fisik seperti switch on / off pada laptop.


Jika terblokir secara software, buka dengan.
$ rfkill unblock 0
$ rfkill unblock 2


Unblock Wi-Fi.


Dari daftar sebelumnya terdapat ideapad_wlan (0), ideapad_bluetooth (1), phy0 (2), hci0 (3). Yang perlu di buka yaitu 0 dan 2.


jalankan create_ap
$ sudo create_ap wlan0 ppp0 VFC_AP 1234567890


Hajar mang...

Otentifikasi password Wi-Fi.


untuk mengakhiri koneksi, CTRL+C.


btw, kenapa hh sva_h4cky0 tidak di-root saja yah? ternyata sva_h4cky0 tidak mengerti caranya -nasib orang tidak melek IT-

* old-skool, kool -_-"

Read More

Thursday, November 10, 2016

SUSE Studio ImageWriter

  No comments
November 10, 2016

Setelah Etcher kini giliran SUSE Studio ImageWriter. Aplikasi ini ditujukan bagi pengguna SUSE Linux Enterprise (SLE) dan openSUSE, namun pada prakteknya dapat juga digunakan pada distro lain.
SUSE Studio ImageWriter sangat mudah digunakan dan memiliki pengaman sehingga hanya removable drive yang ditampilkan.

Dimana mendapatkan SUSE Studio ImageWriter?

http://software.opensuse.org atau tautan langsung

Antarmuka website database aplikasi.


Atau untuk pengguna openSUSE dapat menginstallnya langsung melalui konsol.
zypper install imagewriter

Untuk menampilkan semua distro, tekan "Show other versions". Jika kebetulan anda sedang memakai openSUSE, gunakan fitur "one click install" langsung dari web browser. Nantinya YaST akan menangani ketergantungan repository dan paket-paket yang diperlukan.

Sebagai contoh, aku menggunakan Arch Linux dan imagewriter dari AUR untuk membakar iso image GeckoLinux edisi XFCE Leap 42.1.

Peringatan : Semua data yang terdapat pada flashdisk / sdcard / microsd akan HILANG. Backup data anda terlebih dahulu.


1. buka imagewriter.
2. tekan bagian tengah yang telah ditandai atau bisa juga seret image dari file manager.
Klik atau seret image.

3. dari dialog, tentukan lokasi dimana anda menyimpan imagenya lalu pilih. Dalam hal ini aku menyimpan imagenya pada harddisk lain yang di mount pada /mnt/data/.
Pilih lokasi dimana image berada.

Pilih image distro, ekstensi yang didukung adalah raw, iso dan img.

4. jika flashdisk sedang di mount, imagewriter akan meminta untuk dilepas dahulu, tekan "Yes" untuk melanjutkan.
Konfirmasi melepas flashdisk.

5. imagewriter akan meminta akses setara root, ketik password untuk melanjutkan. Pada umumnya hampir semua distro menggunakan sudo, namun ada beberapa distro konservatif yang tidak menggunakan sudo. Tekan "Yes" untuk konfirmasi akhir.
Ketik password untuk melanjutkan.

6. tunggu proses sampai selesai, reboot dan pilih boot dari flashdisk tersebut.
Bakar.


Setahuku SUSE Studio ImageWriter dapat digunakan untuk membakar image dari distro apapun, tentunya ada beberapa pengecualian dimana hasil bakaran tersebut gagal booting. Jika itu yang terjadi, gunakan aplikasi lain seperti Etcher.

Sumber lain yang dapat dibaca : https://en.opensuse.org/SDB:Live_USB_stick

Read More

Tuesday, November 8, 2016

Pemutahkiran Toko Steam Discovery Update 2.0

  No comments
November 08, 2016

Steam Discovery Update 2.0


Malam ini sempat membuka klien Steam sebentar, baru sadar ada yang berubah sedikit.
Bagi yang sudah melihat video Steam Dev Days 2016, mungkin tahu.
Perlu diketahui, pemutahkiran ini bukan pada sisi klien Steam melainkan pada sisi Toko Steam itu sendiri. Klien Steam hanya menampilkan apa yang diubah dari sisi server.

Jujur saja, aku tidak begitu peduli. Bagiku baik yang lama, The Discovery Update 1.0, maupun pemutahkiran The Discovery Update 2.0 terasa "sama". Pasalnya aku tidak terlalu suka mengubah personalisasi toko Steam. Tapi kalau dilihat dari sisi estetikanya, pemutahkiran kali ini terasa lebih "sexy".

Tapi jika anda suka personalisasi, ini merupakan berita baik.

Apa saja yang ditambahkan dapat dilihat disini.

Toko Steam yang lama.

Deux Ex Mankind Divided yang baru saja dirilis.

Laman utama rekomendasi.

Yang populer dimainkan oleh teman anda.

Rilis game-game terbaru, kini lebih terlihat dengan screenshot.


* klien Steam menggunakan skin custom.

Akan tetapi, berdasarkan laporan para Linux Gamers, fitur filter masih belum berfungsi secara sempurna sehingga pada laman utama rekomendasi masih ada saja game untuk platform lain yang ditampilkan. Namun klaim yang lain mengatakan bahwa fitur tersebut baru akan aktif setelah 24 jam kedepan.

Call of Duty: Infinite Warfare untuk Linux... err Windows.

Read More

openSUSE Leap atau openSUSE Tumbleweed

  3 comments
November 08, 2016

Gecko.


Beberapa hari lagi openSUSE Leap 42.2 akan dirilis, mungkin bagi yang belum pernah mencoba openSUSE akan bingung perbedaan antara openSUSE Leap dan openSUSE Tumbleweed.

Lalu apa bedanya?

openSUSE Leap
* Fixed based release model, versi terbaru dirilis setidaknya setiap 8 bulan sampai 12 bulan.
* Berbasis pada SUSE Linux Enterprise (SLE) yang mengutamakan kestabilan.
* Strategi rilis disejajarkan dengan SUSE Linux Enterprise (SLE), openSUSE Leap 42.1 berbasis SLE Service Pack (SP) 1, openSUSE Leap 42.2 berbasis SLE Service Pack (SP) 2, openSUSE Leap 42.3 berbasis SLE Service Pack (SP) 3, dan seterusnya.
* Daur hidup yang cukup lama, pengguna disarankan mengupgrade dari versi minor ke versi minor yang terbaru setidaknya 6 bulan setelah ketersediaan (42.1 ke 42.2, 42.2 ke 42.3, dst). setiap versi minor didukung selama  18 bulan. Jika mengikuti rekomendasi maka total dukungan mencapai 36 bulan.
* Hanya menerima pemutahkiran perbaikan dan keamanan, kecuali beberapa aplikasi yang selalu termutakhir seperti Mozilla Firefox.
* Media instalasi berupa instalasi lewat network dan DVD, tidak ada Live CD.

openSUSE Tumbleweed
* Rolling based release model.
* Berbasis Factory repository, pengembangan basis kode utama openSUSE.
* Stak perangkat lunak termutakhir, termasuk kernel Linux, lingkungan Desktop, aplikasi-aplikasi, peralatan pengembangan perangkat lunak (kompiler, IDE, dll).
* Media instalasi berupa instalasi lewat network dan DVD, tidak ada Live CD. Mendukung upgrade dari openSUSE Leap ke openSUSE Tumbleweed.
* Tidak ada jaminan kestabilan, walaupun pemutahkiran mendarat di Factory dulu sebelum ke Tumbleweed.
* Khusus untuk driver dari pihak ketiga seperti driver grafis AMD dan Nvidia, ada kemungkinan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Walaupun pada umumnya driver Nvidia tidak mempunyai masalah dengan Tumbleweed.

Rekomendasi pribadi untuk Linux Gamers gunakan openSUSE Leap, jika ada alasan tertentu seperti driver grafis tidak stabil baru gunakan openSUSE Tumbleweed atau dual boot openSUSE Leap dan Tumbleweed. Sedangkan untuk pengguna Linux Non-gamers, gunakan openSUSE Leap.

Sudah bisa menentukan yang mana sesuai untuk anda?



GeckoLinux

Tunggu dulu, setelah Leap, Tumbleweed, lalu GeckoLinux? Apa lagi ini...
GeckoLinux secara teknis merupakan spin-off tidak resmi dari openSUSE, memodifikasi yang dianggap perlu. Media instalasi GeckoLinux berupa Live CD / DVD / USB dengan ukuran kurang lebih 1GB. Berfokus dengan edisi per lingkungan desktop, jadi cukup mengunduh edisi mana yang disukai, Budgie, Cinnamon, Gnome, LXQT, Mate, Plasma, XFCE. Anda dapat memilih baik GeckoLinux berbasis Leap atau Tumbleweed.

GeckoLinux edisi XFCE berbasis openSUSE Leap 42.1.


Jadi jika ingin mencoba openSUSE, sebaiknya unduh GeckoLinux.

Read More

Steam Dev Days 2016

  No comments
November 08, 2016

Steam Dev Days 2016.


Videonya dapat dilihat di Steam atau Youtube

Aku bukan developer game, kenapa harus peduli?
Tidak harus tentunya, akan tetapi melalui konferensi yang berorientasi pengembang inilah kita dapat mengetahui tren setidaknya beberapa tahun kedepan.
Setelah sempat absen pada tahun 2015, Valve kembali menggelar konferensi yang kali kedua tahun ini dengan beberapa kejutan-kejutan.
Jadi topik apa yang paling panas tahun ini?

Virtual Reality atau biasa disingkat VR

Setelah menambahkan Linux pada jajaran platform yang didukung Steam, Valve tidak berhenti sampai disitu. Diikuti dengan diluncurkannya SteamOS, sistem operasi berbasis Debian Linux yang mengutamakan kenyamanan home entertainment. Guna mendukung hal itu, ditambahkan Big Picture Mode pada klien Steam yang nantinya digunakan secara default pada SteamOS.
Untuk pengembang sendiri lebih dimudahkan dengan adanya Steam Runtime sebagai acuan pustaka pengembangan game pada SteamOS / Linux. Dari sisi perangkat keras, Valve merilis Steam Controller dan Steam Link serta dengan kerjasama dari pihak ketiga merilis Steam Machine dengan beberapa pilihan spesifikasi perangkat keras.

Sampai disini semuanya terlihat menjanjikan bukan? Semua Linux Gamers sangat optimis dengan dukungan Valve, sampai dengan...
Dirilisnya Vive atau Steam VR, perangkat keras VR besutan Valve dan HTC. Vive dirilis tanpa dukungan Linux pada hari pertama.
Hal ini menimbulkan perdebatan akan absennya dukungan Linux pada Vive, bulan berlalu tanpa komunikasi yang jelas. Valve dengan kebijakan "diam" nya membuat banyak Linux Gamers resah. Pada kenyataannya beberapa bulan yang lalu terdapat beberapa postingan di komunitas /r/linux_gaming yang mulai patah semangat ala "Valve meninggalkan kita" bertebaran.
Sampai dengan...

Leenox???


sumber https://twitter.com/Plagman2/status/786032888156295168

Yup, demo Vive VR Linux dengan menggunakan Vulkan pada ajang Steam Dev Days 2016, gelora semangat kembali melanda Linux Gamers.
Jadi sebenarnya apa yang menjadi rintangan? Ternyata biang keladinya adalah Vulkan. Vulkan merupakan grafis API multi platform penerus OpenGL. Seperti yang telah diketahui spesifikasi Vulkan baru saja dirilis, dukungan driver pun boleh dibilang masih experimental dan game yang menggunakan Vulkan pun masih bisa dihitung dengan jari. Usut punya usut ternyata OpenGL kurang "cepat" dalam menangani VR, OpenGL memang dapat digunakan akan tetapi kurang maksimal. Saat Vive dirilis, Vulkan belum siap baik secara spesifikasi dan dukungan vendor perangkat keras. Perihal kenapa tidak ditunda saja perilisan Vive menunggu Vulkan, menurutku hanya soal strategi saja mengingat pada saat hampir bersamaan banyak pula dirilis perangkat keras VR dari vendor lainnya. Valve tidak ingin ketinggalan momentum yang dapat mengakibatkan kehilangan audience.

Ingin membeli Steam Machine? Atau mungkin hanya Steam Controller dan Steam Link saja?
Anda kurang beruntung... Semuanya tidak tersedia di Indonesia, jangan tanyakan soal Vive -pula-.
Hal tersebut dapat dimaklumi mengingat peraturan tiap negara berbeda-beda, setahuku perangkat keras tersebut hanya tersedia pada wilayah Amerika Utara (NA) dan sebagian Eropa (EU). Tentu saja anda dapat memperolehnya dari pihak ketiga seperti toko online dari luar negeri dengan biaya tambahan pajak import dan lain-lain yang membuat harganya semakin mahal. Berita baiknya Asia Tenggara (SEA) termasuk dalam cakupan pengembangan pemasaran perangkat keras besutan Valve, namun sayangnya Indonesia tidak termasuk didalamnya -untuk lebih jelasnya lihat gambar-. Asia juga merupakan wilayah dengan perkembangan yang sangat pesat.

Asia, South Asia, South East Asia.

Bukannya Indonesia termasuk Asia Tenggara (SEA)?.


Topik lain yang menarik tidak lain adalah Vulkan itu sendiri, walaupun sifatnya cenderung kearah teknis. Dan pengembangan game dengan Unity untuk SteamOS dan Linux.

Read More

Thursday, October 6, 2016

KDE Plasma 5.8 LTS

  No comments
October 06, 2016



Yay, akhirnya KDE Plasma 5.8 LTS telah dirilis juga. Pemutahkiran paketnya mendarat di Arch Linux testing repo kemarin malam, KDE Neon, openSUSE Leap beta dan menyusul kemudian openSUSE Tumbleweed. Rilis kali ini spesial, karena memperingati ulang tahun KDE yang ke 20 tahun dan merupakan Long Term Support yang mendapatkan dukungan hingga 18 bulan.


KDE Plasma 5.8 LTS.


Aku sudah memakai Plasma 5.8 sejak rilis beta beberapa minggu yang lalu, sejauh ini aku tidak menemui masalah yang serius.
Highlight rilis:
* Migrasi Get Hot New Stuff ke KDE Store.
* Peningkatan Krunner dalam hal pencarian aplikasi, folder, musik, video, berkas-berkas.
* Peningkatan dukungan theme untuk QT4, QT5, GTK2 dan GTK3.
* Integrasi dukungan smartphone berbasis Android dengan KDE Connect, sehingga memudahkan transfer berkas, notifikasi pesan, kontrol multimedia dan emulasi touchpad dan keyboard.
* Perubahan pada boot screen, login screen dan splash screen.
* Peningkatan dukungan bahasa kanan-ke-kiri seperti bahasa Arab.
* Peningkatan backend pada applet dan widget.
* Penyederhanaan Global Shortcut.
* Plasma Discover kini berbasis Kirigami UI Platform.
* Peningkatan dukungan Wayland.
* Font default yang digunakan adalah Noto font untuk semua font dan Hack font untuk monospace.

KDE Connect.

Kontrol Multimedia.


Beberapa minggu terakhir ini, aku mencoba KDE Connect. Diperlukan dua komponen yaitu dari sisi Desktop dan Android. Untuk Arch Linux perlu menginstall kdeconnect dan pada smartphone Android install juga aplikasinya dari Google Play atau F-Droid.

Read More

Sunday, September 18, 2016

Video LinuxCon 2016 dan Akademy (QtCon) 2016

  No comments

Saturday, September 17, 2016

Kelebihan dan Kekurangan Arch Linux

  5 comments
September 17, 2016

Setelah menggunakan Arch Linux lebih dari 7 tahun -wuih sudah lama juga-, sedikit banyak berubah.
Wah ambigu sekali kalimat tadi, sedikit tapi banyak? kok bisa.
Prosedur instalasi Arch Linux tidaklah banyak berubah, kurang lebih konsep dasarnya masih sama. Disisi yang lain init system yang digunakan berubah drastis, memakai systemd yang kontroversial. KDEMod sudah menjelma menjadi Distro turunan Arch Linux, Chakra Linux. Dengan kata lain paket KDE yang ada di repository berupa paket vanilla, mengikuti proyek upstream. KDE desktop pun sekarang pada revisi mayor ke 5, saat tulisan ini dibuat KDE Plasma 5.8 LTS Beta baru saja dirilis.

KDE Plasma 5.8 LTS Beta.


Sebagai refleksi dari Setahun Menggunakan Arch Linux

Kelebihan :

* Stabil.
Ya, cukup stabil, stack dasarnya juga stabil. Namun tetap perlu adanya strategi bencana -cieh...- dari sisi pengguna. Sebagai contoh disarankan menginstall setidaknya dua versi kernel Linux, rilis terbaru -linux- dan rilis LTS -linux-lts-. Kenapa? karena rilis terbaru kadang terdapat bug, dengan memiliki cadangan kalau diperlukan seketika sudah ada tinggal dipakai saja.
Selera pribadi, aku memakai linux-ck dan linux-lts-ck dari AUR. linux-ck sebagai pilihan utama, dan linux-lts-ck sebagai cadangan. Juga terinstall linux dan linux-zen, karena linux adalah paket default dan menjadi dependensi paket lain, sedangkan linux-zen buat coba-coba saja.
* Rolling Release.
Tidak perlu menunggu rilis terbaru setiap enam / delapan / x bulan. Termutakhir baik dari repository resmi ataupun AUR. Ingin google-chrome-dev? ada, google-chrome-beta? juga ada, google-chrome-stable? pasti ada, chromium-ini-itu? ada juga. Paket experimental seperti aplikasi yang mendukung Wayland? KDE Plasma Beta? semuanya ada baik binary maupun source.
* Vanilla dengan patch seperlunya.
Kenapa paket vanilla itu penting? vanilla itu apa sih? vanilla adalah paket yang tersedia di repository dibangun berdasarkan referensi dari proyek upstream dengan tidak menambahkan patch spesifik untuk Distro tertentu yang hanya menguntungkan Distro tertentu pula. Distro yang "baik" hanya berkolaborasi dan berkontribusi langsung pada proyek upstream, sehingga bermanfaat bagi semua downstream, downstream disini adalah Distro-distro yang lain.
* Distro yang berbasis komunitas.
Arch Linux -dan Distro-distro yang lain- menjadi bukti bahwa proyek berbasis komunitas dapat tumbuh dan berkembang serta bersaing dengan proyek berbasis komersial. Bukan berarti komersial hal yang buruk, namun hanya dua sisi koin yang berbeda.
* Dukungan komunitas melalui wiki, forum, irc dll.
Menemui jalan buntu? Arch Wiki solusinya. Ingin bertanya suatu hal? forum, irc, reddit, g+, dll
* Membuat paket Arch Linux cukup mudah dipahami daripada DEB atau RPM.
Untuk yang satu ini aku tidak berubah pendapat.


Kekurangan :

* Belum memakai Delta Package, sehingga ukuran paket yang didownload relatif besar.
Sejatinya dukungan paket delta sudah ada pada pacman, tinggal diterapkan pada cermin-cermin repository resmi. Berita baiknya, sudah ada satu repository yang mendukung delta.
* Belum memakai Signed Package, walaupun memakai hash check namun paket yang telah di sign lebih terjamin keabsahannya.
Dukungan verifikasi keabsahan paket ini ditambahkan pada Juni 2012
* Koleksi aplikasi belum sebanyak Ubuntu, apalagi Debian. Walaupun ada AUR namun lebih afdol jika paket tersebut masuk ke Community repository.
Kini jumlah paket-paket pada repository Extra dan Community benar-benar bertambah banyak, ditambah lagi AUR.
* Lebih cocok buat Desktop dari pada Server, bukan berarti ga bisa dipakai sebagai Server. Ada proyek komunitas yang memodifikasi Arch Linux supaya cocok dipakai sebagai Server.
* Ditujukan bagi pengguna mahir.
* Tidak ada lingkungan desktop default.
Ini sebenarnya bisa dibilang kelebihan atau kekurangan, dengan adanya fokus pada DE tertentu akan mempercepat perkembangan DE itu sendiri. Namun karena filosofi Arch Linux itu sendiri, penggunalah yang harus menentukan DE yang mana akan dipakai.
* Arsitektur yang didukung tidaklah sebanyak Debian.
Dukungan resmi pada arsitektur x86 32bit dan 64bit. Debian dipakai sebagai acuan karena setahuku Debian merupakan salah satu Distro yang mendukung banyak arsitektur.

Entah apa lagi kelebihan dan kekurangannya, yang jelas belum terbesit keinginan untuk pindah ke Distro yang lain.

Read More

Etcher Image Flasher untuk SDCard dan USB drive

  No comments
September 17, 2016

Etcher.


Ingin membakar image Distro ke flashdisk? Mudah sekali, tinggal dd beres.
Eit, tapi tunggu dulu... tidak sedikit pengguna yang salah target ketika ber-dd ria. Ya kalau target drive isinya tidak penting, kalau target drivenya harddisk 1TB bisa serangan jantung yang punya.
Kan banyak aplikasi berbasis grafis seperti UNetbootin, YUMI, SUSE Studio ImageWriter, dll.
Lalu apa bedanya? Apa yang ditawarkan Etcher?

Aman dan mudah digunakan dengan antarmuka yang indah, opensource dibuat dengan JS, HTML, node.js dan electron, crossplatform mendukung Linux/macOS/Windows, validasi hasil bakar.
Menurutku sih kemudahannya setara dengan SUSE Studio ImageWriter, bedanya? Etcher didistribusikan hanya berupa AppImage.
Sudah lama aku ingin mencoba AppImage, baru sekarang kesampaian, hehehe...

Bagaimana caranya?
1. download Etcher dari https://www.etcher.io sesuaikan arsitekturnya, 32bit (x86) atau 64bit (x64)
2. jadikan executable
dari terminal
$ chmod a+x Etcher-linux-x64.AppImage
atau dari file manager seperti Dolphin

Properties, ubah menjadi is executable.


3. jalankan dari terminal atau klik ganda dari file manager.
$ ./Etcher-linux-x64.AppImage

Untuk Etcher memang diperlukan akses setara root, sedangkan untuk aplikasi "biasa" seperti Mozilla Firefox, tidak perlu hak setara root. Jika diperlukan Etcher akan menanyakan password sudo.

Peringatan : Semua data yang terdapat pada flashdisk / sdcard / microsd akan HILANG. Backup data anda terlebih dahulu.


Justice League, eh maksudnya pilih img, iso atau zip.

Bakaaaaaaaa....r.

Hangus sudah, selesai.

Read More

Wednesday, September 7, 2016

Review : Xiaomi Bluetooth Gamepad di Linux

  No comments
September 07, 2016



Terbesit keinginan untuk membeli gamepad baru setelah gamepad KW PS dualshock murah meriahku rusak lagi, padahal baru dipakai beberapa kali.
Sudah kali ketiga punya gamepad semacam ini, semuanya cepat rusak, sigh...
Daripada ribet, mending beli yang agak mahalan dikit, dan dimulailah pencarian.

Target pertama, Steam Controller. Gamepad besutan VALVe ini memang tergolong unik dikelasnya, sayangnya tidak tersedia di Indonesia -facepalm-. Mau dikata di iming-imingi diskon tapi kalau tidak tersedia disini ya percuma saja. Pesan langsung dari luar negeri? silahkan saja kalau punya dompet tebal, biaya dan-lain-sebagai-nya itu yang bikin -facepalm-.

Target kedua, Xbox Controller. Gamepad defacto untuk platform PC, dukungan dari komunitas Linux sangat baik sehingga langsung dapat dipakai di Linux. Sayangnya karena popularitas inilah yang menjadikannya sebagai target KW, mulai dari KW kelas paus sampai kelas teri. Mirisnya dari sekian toko online yang aku lihat, jarang sekali yang jujur menuliskan bahwa produknya KW, bukan original. Jangan tergiur dari tampilan gamepad dan box nya yang sangat mirip dengan produk original. Masih mending membeli produk yang kompatibel, bukan Xbox Controller tapi kompatibel seperti Xbox Controller. Dari hasil blusukan di pojokan forum-forum, ada yang mengklaim bahwa lebih dari 90 sekian persen produk ini yang beredar di Indonesia tidak original -citation needed-.

Target ketiga, Playstation 4 Controller (Dualshock 4). Ceritanya hampir sama seperti Xbox Controller. -update- sekitar tahun 2017 an Perusahaan Sony membuka perwakilannya di Indonesia dan Dualshock 4 original mulai bermunculan, ciri paling mudahnya ada stiker hologram Sony pada box nya.

Target keempat, Logitech Gamepad. Ada tiga dua model, Logitech F310 Gamepad dan Logitech F710 Wireless Gamepad.

Target kelima, entahlah. Sampai disini aku bingung harus memilih yang mana. Kehendak dan dompet berkata lain, maunya beli yang Logitech saja soalnya dukungan komunitas Linux sudah bagus juga. Tapi entah mengapa tiba-tiba nyasar pada laman Xiaomi Bluetooth Gamepad, terbesit pertanyaan kenapa tidak mencoba Gamepad Android saja?. Siapa tau bisa dipakai di Linux dan Android, kucoba mencari tahu dukungan gamepad ini di Linux hasilnya nihil. Meskipun begitu, akhirnya nekat beli juga.



Dua hari barangnya sampai juga, dus coklat berisi gamepad beserta baterai dan manual berbahasa cina -yang tidak kumengerti artinya-.
Tidak ada masalah dengan pairing, KDE Bluedevil menyanding 小米蓝牙手柄 dengan mudah.

KDE Bluedevil.


Sebelumnya cukup menambahkan konfigurasi supaya joystick tidak mengontrol cursor.
Buka Steam, masuk ke Big Picture Mode untuk mengkonfigurasi pemetaan tombol-tombol gamepad, Mi button / Guide button tidak dapat dipetakan loncati saja dan simpan.

Steam Big Picture Mode, konfigurasi gamepad.


Sekarang tinggal mencari game yang mendukung gamepad dikatalog Steam ku. Yang telah terinstall saat ini :

Dust: An Elysian Tail
FEZ
LIMBO
Mercenary Kings
Outland
Retro City Rampage DX
Stardew Valley
Super Meat Boy
Tales from Space: Mutant Blobs Attack

Dust: An Elysian Tail.

FEZ.

LIMBO.

Mercenary Kings.

Outland.

Retro City Rampage DX.

Stardew Valley, musim dingin ternyata dingin juga yah -ya iya lah masa panas-.

Super Mario Bros.

Tales from Space: Mutant Blobs Attack.

FPS yang menggunakan Source engine seperti, Half-Life 2 dan Team Fortress 2. Sudah lupakan saja, kalau mau bermain FPS sebaiknya menggunakan keyboard dan mouse.

Separuh-Nyawa 2, berarti sekarang tinggal seperempat.

Team Fortress 2, the best hat simulator.

Tidak lupa mencoba Euro Truck Simulator 2 dengan bantuan Antimicro.

Mana ujan gak ada ojek becek lagi, eh tapi lagi naik truk.


Menurutku sih dari segi bentuk gamepad ini cukup nyaman digenggam dan ringan. Presisi joystick dan dead zonenya oke. Tombol-tombolnya cukup empuk. Koneksi bluetoothnya pun tidak nge-lag. Untuk baterainya sudah lebih dari 80 jam kupakai bermain Stardew Valley saja, belum game yang lainnya. Fitur auto power off jika gamepad tidak dipakai setelah sekian menit.

Kekurangannya, tombol D-pad yang kurang menonjol jadi kesannya agak susah ditekan.
Gamepad ini ditenagai dua baterai AA, tanpa kabel dan port untuk mengisi ulang jadinya perlu beli baterai yang bisa di isi ulang.

Yang belum dicoba adalah fitur rumble / force feedback (getar) dan accelerometer. Untuk rumble sendiri, aku belum begitu paham sebenarnya dimana yang bertanggung jawab atas fitur tersebut, kemungkinan besar pada stack Xpad driver. Kucoba telusuri Google Play Store guna mencari game dengan dukungan getar, namun tidak yakin game apa yang patut dicoba, mungkin nanti saja.
Mi Button / Guide Button juga tidak bisa dipetakan, walaupun ketika dicoba dengan evtest dapat berfungsi.
Sejatinya target pemasaran gamepad ini adalah pengguna Android, sehingga accelerometer pun disertakan.

Berhubung cuma satu merk gamepad yang direview, tidak ada yang dijadikan acuan perbandingan. Namun jika membaca perbandingan gamepad bluetooth untuk Android pada situs lain, tentunya Xiaomi Bluetooth Gamepad ini bukanlah yang terbaik. Ada beberapa merk yang direkomendasikan dengan harga yang relatif lebih mahal. Sayangnya aku orangnya simple, yang penting bisa dipakai dan awet, semoga saja...

Read More