![]() |
| Lagi Gak Error. |
Agus Winata
Daily Life of Linux User and Gamer
Daily Life of Linux User and Gamer
Home All posts
![]() |
| Lagi Gak Error. |
Pada hari minggu yang cerah -lol-, seperti biasanya ada rutinitas menyetrika, tapi yang disetrika bukanlah baju melainkan mouse dan keyboard alias nyeteam -garing banget jokes nya-.
Karena kemarin dikiranya ada gangguan pada jaringan Steam, akhirnya mengalah dan nonton film saja. Eh tapi tunggu dulu, setelah diklik sana sini kok tidak bisa login ya. Yang jelas bukan kena hack, ini lebih tepatnya indikasi gangguan internet internasional. Sudah bukan rahasia lagi, terkadang koneksi internet internasional di negara paman zidan ini terputus yang kadang sampai berhari-hari baru diperbaiki.
Ternyata oh ternyata, bukan itu penyebabnya. Rupanya Kominfo memblokir masal situs-situs yang diantaranya termasuk Steam, Origin, Epic Games dan seterusnya. Dan yang paling bikin geleng-geleng kepala itu adalah masuknya Paypal didaftar blokir tersebut. Suka atau tidak suka, Paypal adalah satu-satunya media transaksi keuangan antara para klien dan para freelancer digital. Dan yang perlu diingat adalah klien hanya mau membayar jasa para freelancer lewat Paypal. Belum lagi penggunaan Paypal oleh ekspatriat yang sedang melancong dan lain sebagainya.
Memblokir tanpa memberikan solusi yang masuk akal itu adalah tindakan yang semena-mena. Dengan dalih untuk meningkatkan perkembangan industri IT, kreatif, digital dalam negeri dan sebangsanya yang ujung-ujungnya sebenarnya hanya untuk menarik pajak lebih dari perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi didalam negeri. Coba dipikir, kalau Paypal diblokir solusi konkretnya apa? Masak harus menunggu bertahun-tahun sampai startup transaksi keuangan sukses go internasional? Memangnya klien mau memakainya? Terus selama menunggu itu memangnya ada bantuan dari pemerintah? Kalian yang kerja dipemerintahan tenang-tenang saja, toh tiap bulan menerima gaji tetap. Apa perlu diingatkan kalau gaji tersebut berasal dari pajak rakyat? Nah kalau rakyatnya saja dipersulit mencari nafkah, bagaimana mau membayar pajak? Sudah semuanya serba dipajakin -sigh-.
Lucunya lagi, Valve Steam rupanya sudah membayar PPN sejak lama, namun kena juga. Berita baiknya berhembus kabar bahwa Valve sudah mengurus perijinannya sesegera mungkin.
Oh BTW, situs/aplikasi judi online melenggang bebas karena sudah lolos pse. Jadi intinya judi itu lebih bermanfaat daripada Steam dan Paypal -pikir sendiri kesimpulannya-.
Lucunya negeri paman zidan ini -lol-.
By sva_h4cky0KDE Plasma 5.23 telah dirilis beberapa hari yang lalu, sesuai rencana jadwal rilis versi kali ini pun sudah melewati tahap pengembangan beta. Namun yang namanya perangkat lunak, pasti ada saja bug-bug kecil yang terlewatkan. Salah satunya yang terjadi pada sesi X11, KDE Plasma seakan berjalan tanpa akselerasi grafis. Walaupun kalau diperiksa pun akselerasi grafis dinyatakan berjalan normal namun tetap saja muncul artefak-artefak hitam pada panel dan window. Lucunya ketika menggunakan sesi Wayland, hal ini tidak terjadi. Lalu kenapa tidak memakai Wayland saja? alasannya karena sampai tulisan ini dibuat -setahuku- belum ada aplikasi yang dapat mengontrol kecerahan layar. Kemungkinan lainnya adalah limitasi ini hanya berlaku pada perangkat keras yang aku gunakan.
Jadi bagaimana caranya? Pastikan logout dari KDE Plasma terlebih dahulu, login ke lingkungan desktop selain KDE atau pindah saja ke sesi shell kedua (tty2) dari login manager dengan menekan kombinasi Ctrl + Alt + F2. Pada dasarnya hanya perlu mengedit file konfigurasi kwinrc yang letaknya pada. Gunakan teks editor seperti nano dan sebagainya.
/home/username/.config/kwinrc
hapus baris
GLPlatformInterface=egl
simpan dan reboot saja daripada ribet.
By sva_h4cky0Sempat bertanya-tanya, kok sudah lama linux-ck tidak termutahirkan ya? Ada apa denganmu. Usut punya usut, eh ternyata Con Kolivas rehat dulu dari dunia perkernelan dan kemungkinan besar CK patch set berhenti pengembangannya. Alasannya sih personal, sudah tidak berminat lagi dan c*v1d19.
Sangat disayangkan memang, tapi merawat patch diluar tree kernel official sih merupakan tugas yang tidak mudah karena harus menyesuaikan setiap ada perubahan yang berpengaruh pada level dasar. Begini sebenarnya, patch seperti CK, LQX, TKG, Xanmod, Zen, dan lain-lain yang semua berorientasi pada peningkatan performa di desktop, tidak akan mungkin di merger ke upstream kernel. Karena kernel Linux yang dipegang Linus Torvalds lebih bersifat umum dan birokrasi tentunya, tidak semua pengembang akan setuju dengan proposal tweak pada desktop yang diajukan. Menariknya walaupun begitu, ternyata saat ini banyak proyek-proyek yang tetap berjalan diluar tree Linux kernel official.
Terima kasih Con Kolivas atas kerja kerasnya selama ini.
BTW, kurang lebih sudah memakai linux-ck 10 tahun ternyata -_-.
BTW lagi, pakai apa sekarang? gonta-ganti antara linux-tkg dan linux-xanmod.
By sva_h4cky0Ini akan menjadi blog yang sangat singkat.
Jadi proyek Linux kini telah menginjak usia 30 tahun pada bulan ini. Jika boleh diringkas -yang tentunya super duper ringkas-, prestasi apa yang telah dicapai oleh komunitas Linux selama ini. Dilihat dari sisi negatifnya dulu deh, sektor mana yang gagal ditaklukan Linux? Gampang, jawabnya adalah desktop! "the year of Linux desktop" sudah menjadi candaan internal komunitas, yang dengan segala daya upaya apapun sepertinya penetrasi Linux di desktop sangat lambat berkembang. Bahkan kalau percaya dengan data-data metrik yang dikeluarkan oleh organisasi tertentu -atau apalah bentuk legalnya-, hanya 1% sampai 2% dominasi Linux di desktop. Percaya sama data tersebut? Kalau tidak ada data pembanding sih ya sama saja bohong. Analoginya begini, jika 9 dari 10 orang mengatakan mencuri itu boleh saja, dan hanya 1 orang yang mengatakan mencuri itu buruk, apakah dengan begitu tindakan mencuri itu dimaklumi begitu saja karena mayoritas mendukung?. Manipulasi data metrik begini sangat mudah dilakukan, cukup dengan modal sumber daya dan motif semuanya dapat "disesuaikan".
Sekarang dilihat dari sisi positifnya, dimulai darimana ya? -waduh-. Ringkasnya sih "everything but desktop", terjemahannya gimana ya? -hahaha-. Kalau sistem operasi yang lain itu mumpuni, kenapa super komputer dan server didominasi oleh Linux? 500 super komputer tercepat semuanya Linux. Padahal kalau ditelaah, sebenarnya predikat pada lini ini sangat prestisius. Benda yang selalu anda bawa sehari-hari pun tak luput dari imutnya tux, ya Android itu distro Linux juga. Konsol pun sebagian besar memakai BSD, karena lisensi yang memungkinkan. Tapi kan BSD bukan Linux? BSD itu masih Unix juga, begitupun Linux juga termasuk keluarga Unix, jadi bisa dibilang masih ada kaitannya secara tidak langsung -btw macOS juga menggunakan basis BSD lho-. Ok hal tersebut tadi terkesan memaksa, tapi kalau Steam Deck nya Valve itu jelas Linux, lebih tepatnya memakai Arch Linux. Oh ya, Chrome OS itu juga Linux lho. Sebenarnya masih banyak yang lainnya, tapi berhubung yang ingat cuman sebatas itu saja.
-aslinya malas nulisnya saja sih-.
By sva_h4cky0![]() |
| All hand on deck...!? |
Jujur saja saat baca beritanya sempat tertegun dibuatnya, apa ini hoax? april mop? kan bulan juli ya. Ternyata beritanya otentik -glek-.
Setelah gagal dengan Steam Machine, Valve sempat dikira bakal meninggalkan Linux yang diperparah dengan jarangnya pemutahiran SteamOS -Distro Linux berbasis Debian-. Yang terakhir dengan berhentinya produksi Steam Controller generasi pertama, pupus sudah harapan para penguin. Steam Controller yang bagi beberapa kalangan merupakan gamepad yang aneh namun banyak juga yang menyukainya, teringat perjuanganku mendapatkan gamepad satu ini -harganya disini mahal euy, dibandingkan gamepad sekelasnya-. Walaupun masih berharap dirilisnya Steam Controller generasi kedua setelah beredarnya patent yang kemungkinan besar diduga otentik.
Gagalnya Steam Machine, menurutku karena pasar yang belum siap dan Valve yang terlalu bersemangat dalam upaya keterbukaan. Karena konsep yang diusung Steam Machine berbeda, tidak ada referensi baku spesifikasi perangkat kerasnya -bahasa kerennya open computing-. Berbeda jauh dengan konsol seperti Play PlayStation dan Xbox, yang ironisnya justru inilah titik gagalnya Steam Machine. Harapku Valve segera merevisi generasi kedua dengan cukup meniru formula yang sudah terbukti populer dari konsol yang telah ada.
Hasilnya ya Steam Deck, bisa ditebak kan inspirasinya dari mana? Nintendo Switch tentunya. Terjawab sudah kenapa Valve begitu bersemangat merilis Steam Proton, ternyata ada Steam Deck dibalik Steam Proton. Secara mengejutkan Valve merilis Steam Proton, layer kompabilitas Windows yang terintegrasi di Steam Client. Ya, Steam Proton berbasis teknologi dari Wine, DXVK, dan lain-lain. Memainkan game Windows semudah memainkan game native Linux.
Steam Deck menggunakan sistem operasi SteamOS 3.0 yang dibasis ulang menggunakan Arch Linux yang dapat berjalan di dua mode, konsol genggam dan desktop. Mode desktopnya menggunakan KDE, tidak mengherankan memmang mengingat KDE dibuat dengan QT yang -menurutku- superior dibandingkan toolkit lainnya. Hal mengejutkan lainnya akan datangnya dukungan perangkat lunak anti cheat -satu-satunya hal yang membuat banyak game gagal dimainkan dengan Steam Proton-.
Dari segi perangkat keras, rupanya Valve menggandeng AMD dengan mengadopsi GPU APU generasi Zen 2. Berbeda dengan Steam Machine, Steam Deck sudah memakai referensi perangkat keras tunggal dengan opsi kapasitas penyimpanan internal berbeda, 64/256/512 GB, sedangkan spesifikasi lainnya sama semua.
Sialnya, Steam Deck hanya dapat di preorder pada beberapa negara saja, -duh alamat susah nyarinya di Indonesia ini-
-RIP Steam Machine 2.0-
Mungkin ada yang masih terkekang dengan lingkaran benci dan cinta -lagu kali-. Yang dengan virtualisasi pun masih belum mencukupi, dan terpaksa harus mendua. Dengan kapasitas harddisk yang semakin besar dengan harga yang relatif murah per gigabyte nya, tentu bukan menjadi kendala lagi.
Lalu terbesit sebuah pertanyaan paling mendasar ketika kita memutuskan mendua. Strategi dual boot apa yang terbaik?
Jawaban singkatnya adalah install tiap sistem operasi pada harddisk yang berbeda. Dengan asumsi harddisknya minimal ada dua, tidak peduli entah itu nvme atau sata. Sayangnya ada keterbatasan dari metode ini, itu semua tergantung dari BIOS motherboardnya. Apakah di BIOS terdapat opsi untuk men-disable nvme dan atau sata?. BIOS terkini paling tidak punya opsi untu men-disable port sata, bahkan ada yang per port. Atau alternatifnya mencabut nvme dan atau mencabut kabel data dan power sata yang mungkin kita hindari karena ribet.
Kenapa harus begitu? tujuannya sih untuk mengisolasi Windows, walaupun secara default tidak mengenali file system Linux (ext4, btrfs, dll). Namun ada kalanya boot manager dari Windows menimpa Grub, dan pada beberapa kasus partisi Linux pun ikut dirusak oleh update berkala Windows. Pada dasarnya Windows tidak di desain untuk penggunaan multi OS dan selalu berasumsi bahwa harddisk yang pertama itu terinstall Windows. Tentu saja hal tersebut dapat berubah dikemudian hari, namun faktanya pada saat ini seperti itu.
Jadi bagaimana implementasinya? saat Windows digunakan, maka hanya harddisk yang terinstall Windows saja yang aktif, sedangkan harddisk yang terinstall Linux di nonaktifkan lewat BIOS. Kalau saat menggunakan Linux sih tidak perlu menonaktifkan harddisk apapun. Oh ya hal tersebut berlaku juga pada saat awal instalasi Windows. Agak ribet memang, tetapi salah satu tindakan preventif yang masuk akal ya itu tadi.
Ok kembali lagi ke BIOS, beruntung sekali jika terdapat opsi lengkap seperti menonaktifkan nvme dan sata (ssd dan harddisk mekanikal). Apalagi kalau nvme nya ada dua...
Tapi -sedikit- ribet kan...
By sva_h4cky0- Bluetooth keyboard for Android (generic)- Advan StartGo TWS2- Bluedio T2 Plus Turbine- Dualshock 4- Xiaomi Bluetooth Gamepad
/usr/lib/firmware/rtl_bt/rtl8761b_fw.bin
Aturan penamaan berkas rules, angka didepan menunjukkan prioritas, semakin besar di eksekusi paling terakhir. Berikutnya diikuti dengan nama bebas tanpa spasi dan diakhiri dengan ekstensi rules.
Entah kenapa para pengembang GNOME berasumsi bahwa mengaktifkan fitur pengindexan file-file secara default merupakan ide yang jenius. Tidak kah mereka belajar dari pengalaman KDE Plasma 4 yang telah gagal karena hampir semua pengguna menonaktifkan fitur ini -disclaimer, berdasarkan pengamatan pribadi saja-. Walaupun pada KDE Plasma 5, Baloo masih terus dikembangkan, namun untuk menonaktifkan fitur ini cukup dengan beberapa klik saja. Lain halnya dengan GNOME, coba silahkan cari dimana opsi ini di pengaturan.
![]() |
| Kenapa tidak bisa? -belum tekan enter-. |
Diatas kertas, konsep pengindexan file sangatlah menarik, bayangkan jika anda ingin mencari file atau folder tertentu langsung dari menu maupun file manager secara cepat. Bahkan implementasi dari pengembang KDE lebih jauh lagi, dapat mencari di dalam file dokumen seperti pdf, doc, dsb. Namun pada prakteknya layanan seperti ini banyak mengkonsumsi sumber daya komputer ketika mengindex, dan tentunya dapat menginterupsi aktivitas pengguna. Beberapa bulan yang lalu -lupa kapan tepatnya-, Tracker selalu aktif saat start up dan langsung mengindex tanpa menunggu kondisi idle. Parahnya lagi, hal tersebut terjadi saat aku memakai KDE Plasma, bukan GNOME. Cara untuk menonaktifkannya sebagai berikut.
![]() |
| Windows 10 Ultimate Professional Enterprise Limited Editions. |
To the point aja, solusinya adalah flash ulang BIOS.
Tapi kan tidaklah seru kalau nge-blog cuman sebaris doang isinya... hehehe. Begini ceritanya, eh tapi tunggu dulu... di penghujung tahun 2020, masih pakai Lenovo G480...!?
Bukannya tidak ada DANA, OVO, maupun GOPAY. Tapi aku termasuk penganut kepercayaan yang paling sesat di dunia ini yaitu, "if it ain't broke, don't fix it". Yang kurang lebih berarti, "jika tidak ada uang, jangan beli laptop yang baru..." hehehe. Walaupun bukan termasuk seri premium, laptop ini cukup awet. Terhitung delapan tahun sudah, dengan upgrade disana-sini, gonta-ganti harddisk dan kipas.
Beberapa bulan yang lalu, tiba-tiba aku tergiur ingin mencoba Android TV Box yang harganya tidak sampai setengah juta. Setelah dipakai, barulah tahu kalau prosesor pada unit ini terkenal mudah panas, yang biasa dikenal dengan istilah overheat. Sialnya lagi, hampir semua Android TV Box itu fan-less. Benar saja, baru dipakai streaming sudah nge-lag. Walaupun terbilang CPU terbaru dikelasnya untuk Android TV Box, kalau performanya begini ya percuma. Setelah nyari sana-sini, akhirnya ketemu juga situs resminya... Dan beberapa OTA update kemudian, masalahnya tetap sama.
Singkat cerita, di forum Rusia terdapat beberapa unofficial firmware yang patut dicoba. Sayang seribu sayang, firmware hanya bisa di flash dengan Windows. Disinilah masalah baru, yang baru lagi bermula... Aku putuskan untuk tidak mengubah formasi 1TB+2TB dilaptop yang tentunya ada Arch Linux bersemayam disitu, cukup copot kedua harddisk, pasang 120GB harddisk untuk dikorbankan dan install Windows 10, beres dah. Tidak semudah itu ferguso... pengetahuanku yang minim akan sistem operasi yang katanya terbaik sejagat raya Matrix -yang bilang gitu siapa huh?-, ternyata memiliki bugs legendaris yaitu sering gagal instalasi melalui Flashdisk. Setelah install ulang beberapa kali, entah kenapa tiba-tiba terbesit ide untuk mengubah tipe partisi dari MBR ke GPT yang nantinya memicu aktivasi secure boot dan lucunya "merusak" BIOS Lenovo G480.
Gejala umumnya sebagai berikut, tidak dapat masuk ke BIOS dengan menekan F2 saat booting dan tidak dapat mengganti urutan booting media penyimpanan dengan menekan F12 saat booting, biasanya disertai seperti layar agak berkedip-kedip. Gejala penyerta kebanyakannya seperti adanya perasaan jengkel disertai amarah karena setelah bertahun-tahun tidak memakai Windows malah disuguhkan sambutan seperti ini. Sudah gagal install malah merusak BIOS pula, seperti kata pepatah, "sudah jatuh, tertimpa janda pula"... hehehe
Entah kenapa, hasil searching google menemui jalan buntu semua, alias tidak ada solusi yang mengena. Alih-alih mencari solusi yang mudah tapi malah tidak ketemu, ya sudahlah flash ulang BIOS. Tapi tahukah anda jika flashing BIOS untuk laptop Lenovo hanya bisa dilakukan dengan Windows saja?... -tanya kenapa!?-. Setelah menghancurkan partisi GPT dan merubahnya kembali ke MBR, lalu menginstall Windows 7 -ya, kali ini bukan 10-, sampailah pada tahap paling penting.
Sebelumnya perlu diketahui bahwa flashing BIOS itu termasuk tindakan yang beresiko tinggi, yah paling parah mungkin perlu mengganti chip ic BIOS nya. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, berikut poin-poin penting yang perlu diperhatikan.
* Pastikan sumber daya listrik tidak terputus saat flashing, dapat menggunakan UPS atau pasang saja baterai laptopnya. Walaupun kondisi baterai sudah drop pun tidak masalah, setidaknya masih bisa nyala 30 menit saja.
* Matikan aplikasi keamanan seperti antivirus dsb.
* Matikan koneksi internet, untuk menghindari auto update yang berjalan dilatar belakangan.
* Tutup semua aplikasi.
* Pastikan tool / aplikasi flashing sesuai dengan arsitektur sistem operasinya, kalau Windows 7 32bit ya pakai yang sesuai.
File BIOS nya dapat diunduh pada situs resmi Lenovo, terakhir terdapat pembaharuan pada tahun 2017 dan rupanya untuk update BIOS versi terbaru hanya bisa dilakukan dengan Windows 7. Unduh versi 62CN44WW.
Caranya cukup mudah, cukup jalankan tool tersebut dan reboot. Eh jangan lupa konfigurasi BIOS dulu setelahnya ya.
By sva_h4cky0![]() |
| Aktifkan fitur experimental. |
![]() |
| Pilih Notebookbar. |
![]() |
| Menonaktifkan menubar. |
![]() |
| LibreOffice dengan antarmuka Notebookbar. |
![]() |
| LibreOffice berjalan pada mode GTK3. |
![]() |
| LibreOffice pada XFCE. |
![]() |
| Global Menu pada Plasma Widget. |
![]() |
| Global Menu pada Window Decoration. |
![]() |
| Global Menu beraksi. |
![]() |
| KDE Plasma pada laptopku dengan wallpaper KDE Plasma 5.10. |

Solusi Gagal Boot BIOS Lenovo G480
openSUSE Leap atau openSUSE Tumbleweed
Owlboy - Platformer Petualangan Dengan Banyak Pujian Kritis Kini Mendukung Linux
Arch Linux Kini Hanya Mendukung Arsitektur X86 64-Bit
Reset Konfigurasi Display Dan Monitor KDE Plasma
DiRT Rally Akan Hadir Di Linux Pada 2 Maret 2017
Orico 5.0 USB Bluetooth Adapter Di Linux
Blokir GNOME Tracker Secara Permanen
GeckoLinux Berbasis openSUSE Leap 42.2 Telah Dirilis
Bypass Blokir Sementara Dengan Cloudflare Warp