Well.,. Sudah selama 20 tahun Linux dikembangkan secara bergotong royong. Cukup lama bukan?
Dan sebagai "hadiah", Linux 3.0 menanti.,.
Agus Winata
Daily Life of Linux User and Gamer
Daily Life of Linux User and Gamer
Home All posts
Well.,. Sudah selama 20 tahun Linux dikembangkan secara bergotong royong. Cukup lama bukan?
Dan sebagai "hadiah", Linux 3.0 menanti.,.
Firefox 4 sebentar lagi dirilis, malahan source code nya sudah tersedia. Firefox menyimpan history, bookmarks, password di database SQLite. Bayangkan setelah memakai Firefox selama hampir 2 tahun dengan profil yang sama? Berantakan tentunya.,. Jadi sebelum besok meng-update Firefox dari 3.6.15 ke 4.0 ada baiknya sedikit mengoprek, hehe.,.
Yang diperlukan optimalisasi, dengan cara menghapus entry kosong dan meng index ulang database. Caranya?
Perhatian: prosedur ini mungkin merusak database, pastikan Firefox TIDAK sedang digunakan, Backup folder .mozilla pada /home/username/.mozilla
Buka terminal dan eksekusi.,.
find ~/.mozilla -name \*.sqlite \
-exec sqlite3 {} vacuum \; \
-exec sqlite3 {} reindex \;
openSUSE 11.4 telah dirilis beberapa hari yang lalu. Menurutku rilis kali ini lebih baik daripada yang lalu. Setelah sukses menginstall pada dua laptop, kupikir sudah saatnya mencoba Tumbleweed. Bagi yang belum tahu, Tumbleweed akan membuat openSUSE menjadi rolling release seperti Arch Linux dan Chakra GNU/Linux. Buka Konsole, dengan hak root eksekusi.
![]() |
| Menambahkan Repository Tumbleweed |
![]() |
| Konflik paket, remove saja sesuai saran Zypper |
![]() |
| Menambahkan Repository Packman Tumbleweed Essentials |
![]() |
| Jalankan YaST2, pilih Software Repositories |
![]() |
| Pilih Add |
![]() |
| Pilih Community Repositories, lalu Next |
![]() |
| YaST2 sedang memperbaharui daftar Repository |
![]() |
| Pilih Main Repository (Contrib) |
![]() |
| YaST2 sedang menambahkan Repository Contrib |
![]() |
| Hasil akhir setelah menambah Repository Tumbleweed, Packman Tumbleweed Essentials dan Contrib. Untuk mengakhiri pilih OK |
Burg merupakan fork dari Grub2 yang menambahkan beberapa fitur yang tidak ada pada Grub2. Perbedaan yang paling kelihatan adalah aspek eye-candy Burg yang menurutku lebih bagus daripada Grub2. Cara menangani tema yang sedikit berbeda, mengganti tema secara langsung, mengganti resolusi layar secara langsung, pengelompokkan item pada menu (grup), dan lain-lain.
Sebenarnya sudah lama aku menggunakan Burg, namun baru sekarang ada waktu untuk menulisnya di blog. Untuk Arch Linux beberapa paket yang dibutuhkan dari AUR antara lain :
burg-bzr (core)
burg-emu (emulasi)
burg-themes (tema-tema)
burg-manager (gui untuk manajemen burg, memerlukan sudo untuk otentifikasi)
dan dependencies nya
Gunakan packer atau yaourt untuk menginstall dari AUR. Untuk Chakra GNU/Linux Burg sudah resmi menggantikan Grub/Grub2, untuk Ubuntu dan Linux Mint tersedia di PPA, untuk openSUSE belum dapat sumbernya -anda belum beruntung-.
Sebagai root jalankan :
Masih 5 jam lagi menunggu pengumuman rilis resmi dari openSUSE 11.4, tapi aku sudah mendapatkan ISO DVD nya, hehe.,.
Pertanyaannya adalah apakah openSUSE 11.4 lebih baik dari openSUSE 11.3?
Sejauh ini dari segi art sangat bagus, konsisten dari Grub, bootsplash, KDM, KSplash, sampai wallpapernya dan openSUSE branding pada splash tiap aplikasi. Juga sudah menggunakan KDE SC 4.6.0 yang beberapa minggu lalu dirilis, harapanku semoga beberapa bugs yang mengganggu diperbaiki team KDE openSUSE.
Sebagai alternatif disertakan Grub2, yang secara default masih memakai Grub Legacy. Tertarik dengan Gnome 3 -preview- ? Ada juga kok, nantinya juga kalo Gnome 3 dirilis bakalan ada respin CD Gnome 3. DE yang lain juga ada, Gnome 2, XFCE, LXDE, *Box, dll.,. semua tersedia di DVD yang berukuran 4.30 GiB. Tentunya 'paket' hemat juga tersedia, yaitu Live CD Gnome, Live CD KDE, Addons Language.
Pada rilis kali ini, YaST Software Manager nya sudah mencakup beberapa repository diluar openSUSE seperti Packman, tinggal di aktifkan beres.,. -kenapa gak dari dulu c?-. Bagi yang menginginkan rolling release tinggal tambahkan repository Tumbleweed.
Hm.,. apalagi ya? Bentar, nanti malam baru ada waktu buat install openSUSE 11.4, cu.,.
Lanjut.,.
YaST installer masih sama seperti yang dulu, beda art saja, slideshownya pun masih sama malahan ada sedikit salah tulis, yang seharusnya LibreOffice tertulis OpenOffice.org. Dari segi lamanya instalasi rasanya sama juga. Perbedaannya adalah instalasi stage 2 tidak perlu reboot dan langsung automatic configuration, lalu kemudian masuk ke DE yang dipilih. Jika dibandingkan dengan installernya Ubuntu / Linux Mint, YaST Installer rada ribet saat pengaturan partisi, walaupun lebih powerfull namun tetap saja instalasi Ubuntu / Linux Mint lebih mudah dan cepat. Perlu diingat bahwa perbedaan media instalasi juga mempengaruhi, dimana Ubuntu hanya berupa CD, sedangkan openSUSE berupa CD dan DVD.
Sialnya entah kenapa yang seharusnya Grub terinstall pada partisi root (bukan MBR) ternyata malah merusak Burg yang terinstall pada MBR, hasilnya laptopku tidak bisa booting, hehe.,. Tenang saja, cukup booting DVD installer openSUSE, pilih Recovery, nantinya akan masuk ke console, login sebagai root -tanpa password-, lalu
![]() |
| openSUSE 11.4 dengan KDE SC 4.6.0 memakai tema Air openSUSE |
![]() |
| KickOff Menu |
Sering berurusan dengan partisi memartisi harddisk, flashdisk, dsb?
Tentunya memakai GParted kan?
Lalu bagaimana cara membuat partisi TEPAT 5 GiB -misalnya- ?
Well, pertanyaan yang menarik.,. Bagi beberapa orang hal ini mungkin ga penting -walaupun perkara sepele-, tapi ga ada salahnya juga mengetahui hal -sepele- ini. GParted secara default memperbolehkan membuat partisi lebih besar dari 1 MiB, secara logika memang sudah seharusnya. Ketika membuat partisi baru atau merubah ukuran partisi, pasti dihadapkan pada pilihan berapa X MiB?
Singkatnya begini
1024 Bytes = 1 Kibibyte (KiB)
1024 Kibibytes (KiB) = 1 Mebibyte (MiB)
1024 Mebibytes (MiB) = 1 Gibibyte (GiB)
1024 Gibibytes (GiB) = 1 Tebibyte (TiB)
1024 Tebibytes (TiB) = 1 Pebibyte (PiB)
1024 Pebibytes (PiB) = 1 Exbibyte (EiB)
Jadi ketika membuat partisi baru acuannya :
1 GiB = 1024 MiB
5 GiB = 5120 MiB
10 GiB = 10240 MiB
20 GiB = 20480 MiB
50 GiB = 51200 MiB
100 GiB = 102400 MiB
200 GiB = 204800 MiB
400 GiB = 409600 MiB
dst
![]() |
| Membuat partisi dengan ukuran 5 GiB, hiraukan 'Free space preceding (MiB)' yang otomatis memakai 1 MiB |
![]() |
| Tepat 5 GiB |
Akhirnya dapat juga harddisk baru untuk laptopku.,. Seagate Momentus ST9500325AS SATA II 500GB. Karena sayang jika harus menginstall ulang kembali Arch Linux ku, maka aku mencari solusi yang praktis. Solusi yang mungkin adalah kloning harddisk dan cara manual.
Duh, kali terakhir kloning harddisk sudah beberapa tahun yang lalu, itu pun memakai Norton Ghost dan praktek kilat pula. Harddisk yang baru ku pasang di HDD enclouser, lalu terhubung ke laptop dan dengan GParted aku membuat partisi-partisi baru. Sejauh ini belum menemui masalah apapun, malahan mendapatkan sedikit pencerahan dalam perhitungan Byte yang -kurang lebih- tepat. Inginku hanya mengkloning partisi root Arch Linux dan partisi /home, sedangkan distro-distro lainnya bisa diinstall ulang.
Harddisk lama
sda1 fat32 10 GiB
sda2 ext4 20 GiB sumber
sda3 ext4 5 GiB
sda4 (extended)
sda5 ext4 5 GiB
sda6 ext4 5 GiB
sda7 ext4 10 GiB
sda8 ext4 55 GiB sumber
sda9 swap 1 GiB
Harddisk baru
sdb1 fat32 20 GiB
sdb2 ext4 20 GiB target dari sda2
sdb3 ext4 350 GiB target dari sda8
sdb4 (extended)
sdb5 ext4 10 GiB
sdb6 ext4 10 GiB
sdb7 ext4 10 GiB
sdb8 ext4 10 GiB
sdb9 ext4 10 GiB
sdb10 ext4 10 GiB
sdb11 ext4 5 GiB
sdb12 ext4 5 GiB
sdb13 swap 5 GiB
Setelah menelusuri beberapa dokumentasi dan blog-blog di internet, jawabannya cuma satu yaitu CLONEZILLA. Untungnya distro PartedMagic sudah menyertakan CloneZilla, dengan bantuan UNetBootin untuk membuat Live USB PartedMagic.
Percobaan pertama
Setelah reboot lalu booting melalui UFD dan PartedMagic jalan di memory, aku mengeksekusi CloneZilla. Dengan tuntunan langkah demi langkah -wizard based-, kali pertama dihadapkan pada pilihan :
![]() |
| Pilih device-device |
![]() |
| Expert Mode |
![]() |
| Part to Local Part, karena akan mengkloning partisi bukan disk |
![]() |
| Partisi asal yang akan di kloning |
![]() |
| Partisi target |
![]() |
| Advanced Parameters, pilih -r, -fsck-src-part, -v |
![]() |
| Pilih -k, karena sejak awal sudah menyiapkan partisi-partisi pada harddisk target |
![]() |
| Tekan Enter |
![]() |
| Konfirmasi sebelum eksekusi perintah |
![]() |
| Konfirmasi terakhir sebelum eksekusi total |
![]() |
| Tahap awal kloning |
![]() |
| Proses kloning sedang berlangsung |
![]() |
| Selesai, tekan Enter kemudian Reboot |
Segala sesuatu bisa menjadi 'salah', begitu juga dengan sistem operasi -apapun itu- bisa menjadi tidak bisa dipakai baik karena kesalahan yang disengaja maupun tidak. Seperti biasa sudah waktunya meng-update Arch Linux ku, eksekusi Yakuake lalu su, ketik password root, dan pacman -Syu. Sembari menunggu pacman menyelesaikan tugasnya, aku mendengarkan musik dan membaca artikel-artikel dari http://www.tuxmachines.org
Tak lama kemudian pacman meminta konfirmasi paket apa saja yang akan di update, ku tekan Y lalu Enter. Well, berhubung paket yang akan di update lumayan banyak, tentunya untuk mendownload semuanya memakan waktu yang tidak sedikit -alih-alih malu mengatakan koneksiku lemot-.
Setelah selesai, dengan santainya kumatikan laptopku. Esoknya saat akan memakai laptop -lagi-, KDE menampilkan peringatan bahwa driver vga terlalu lambat sehingga secara otomatis efek 3D dimatikan sementara.
Lho kemarin lancar-lancar aja, kok tiba-tiba.,.
Daftar Cek :
1. periksa log pacman di /var/log/pacman.log. Hm kemarin kurang lebih 50an paket yang diupdate.
2. persempit 'tersangka' utamanya. Untungnya KDE memberikan keterangan yang cukup jelas, sesuatu yang berhubungan dengan vga. Dan ketemu dua paket yang paling mungkin, yaitu libgl dan unichrome-dri.
3. downgrade paket, kalau cache paket masih ada di /var/cache/pacman/pkg/, tinggal di downgrade langsung. Namun jika terlanjur sudah dibersihkan -dengan pacman -Scc-, carilah pada mirror server repositori.
4. restart dan perhatikan apakah sukses atau tidak. Jika tidak, ulangi dari langkah kedua.
5. blacklist sementara paket-paket yang bermasalah pada /etc/pacman.conf
Rupanya keberuntungan sedang memihakku, sekali langkah langsung berhasil.
Lalu sebenarnya apa intinya ya?
Biarkan cache paket dalam jangka waktu tertentu, bersihkan berkala atau jika memang perlu karena mungkin suatu saat akan berguna. Perlu juga trial and error ketika mencoba mendowngrade paket, perhatikan output pacman terutama ketergantungan paket. Dalam hal ini unichrome-dri memiliki dependencies terhadap libgl sehingga keduanya harus di downgrade. Dan yang paling penting dari semua itu adalah jangan menyalahkan developer baik upstream maupun downstream, karena pada prinsipnya pengembangan software itu sangat kompleks dan rumit. Bisa saja bugs tersebut hanya berdampak pada hal tertentu saja, namanya juga bugs.,.
Eh BTW, kok mirip sama yang ini ya? Ups KDM Ga Muncul
Eh BTW -lagi-, Linux Mint KDE Edition sudah dirilis lho.,. buat mini-review gak yah.,.
Yeah, akhirnya datang juga. Walaupun tanpa dukungan resmi dari Nokia, proyek komunitas merilis versi alpha dari Necessitas - sebuah Qt SDK untuk platform Android.
Cukup menggembirakan memang, pasalnya berita yang beredar belakangan ini semakin membuat masa depan Qt terasa 'suram'.
Secara tidak langsung Nokia menyatakan akan sedikit demi sedikit 'menghentikan' pengembangan Qt pada desktop dan mobile juga tentunya.
Setidaknya hal ini dapat membawa angin segar bagi komunitas Qt dan KDE.,.
http://sourceforge.net/p/necessitas/home
http://dot.kde.org/2011/02/24/qt-everywhere-community-android-port-announces-alpha-release
Aku bangun pagi ini dan segera membaca beberapa berita di internet, dan *kejutan*.,.
Nokia bekerjasama dengan Micro**** dan akan memakai wind*** 7 mobile pada produk mendatang.
WTF Nokia!!!
Sebagai KDE user, jelas timbul kekhawatiran besar akan masa depan Qt -KDE dibangun memakai Qt-, saat Nokia mengakuisisi TrollTech dan merilis Qt dibawah lisensi open source sungguh momen yang menggembirakan. Model pengembangan Qt pun lebih terbuka daripada sebelumnya, namun ketika membaca berita tersebut membuatku bertanya-tanya.,. ada apa denganmu Nokia?
Bagaimana dengan MeeGo? MeeGo merupakan aliansi bersama yang dibentuk Nokia dan Intel yang merupakan penggabungan Maemo dan Moblin. Lalu nasib Symbian OS? Sepertinya Nokia tidak percaya dengan apa yang mereka telah bangun dan miliki selama ini. Penetrasi hebat dari Android memang menggerus pasar Nokia diberbagai lini, namun bukan berarti harus berpaling dan berbalik memakai wind*** 7 mobile. Seperti yang kita ketahui wind*** 7 mobile gagal mendominasi pasar, akibatnya aplikasi yang dibuat pun sedikit. Dan kemungkinan Qt dipakai untuk pengembangan aplikasi di wind*** 7 mobile pun rasanya kecil sekali. Lalu apa yang diharapkan dari kerjasama ini?
Lalu apa hubungannya dengan Qt? Jelas ada!
Nokia sebagai pemilik sah Qt masih mengontrol pengembangan Qt, takutnya dimasa mendatang Nokia sudah tidak lagi fokus terhadap Qt.
Beberapa developer KDE pun merasa was-was, walaupun memang saat ini masih terjadi komunikasi antara KDE dan Nokia. Kondisi terburuk adalah kemungkinan mem *FORK* Qt dari Nokia, harapanku sih semoga tidak terjadi. Bahkan pekerja Nokia melakukan protes terhadap keputusan tersebut, terutama pekerja yang berkutat di MeeGo dan Symbian OS.
Bagaimana pun kondisi ini masih dapat berubah, dan sekarang yang bisa dilakukan hanya menunggu.,.
Yeah.,. memang agak terlambat dibandingkan dengan Arch Linux, KDE Software Compilation 4.6.0 baru mendarat di repo utama Chakra GNU/Linux. Tapi bukan di repo stabil, melainkan di repo testing. Lho kenapa?
Yak.,. Chakra sekarang menerapkan filosofi Half Boiled, eh salah.,. Half Rolling Release. Jadi untuk beberapa paket software akan menuju repo testing baru kemudian ke repo stabil.
Btw, emang sebaiknya di repo testing dulu, soalnya rilis .0 biasanya selalu ada beberapa bugs yang kelewatan sewaktu masa pengembangan.
Omong-omong -gantinya btw- soal bugs, beberapa serangga yang masih berkeliaran :
- panel plasmoid tidak mengingat posisi plasmoid-plasmoid yang menempel padanya (fixed).
- plasma tidak mengingat posisi folderview plasmoid, tapi tidak terjadi untuk plasmoid yang lainnya (fixed).
- Nepomuk + Strigi + Dbus, pada saat inisialisasi pengindeksan pertama kali memakai resource cpu 100%, khusus yang memiliki banyak file di home (fixed). Bug ini disebabkan oleh Soprano, update terbaru memperbaiki hal tersebut. Catatan : Nepomuk dan Strigi ketika beroperasi memang secara intensif memakai resource CPU, namun tidak terus menerus seperti bug tadi.
- kadang crash saat logout baik restart atau shutdown ketika ada notifikasi yang belum hilang (reproduceable).
- bug yang berhubungan dengan PowerDevil, karena mengimplentasikan uPower sebagai pengganti HAL (reproduceable).
Sementara masih itu saja, enjoy.,.
Menjadi pengguna Arch Linux dan Chakra GNU/Linux sudah tentu menikmati bagaimana suka duka nya Rolling Release Model. Faktanya sistem operasi mayor disamping Linux (Microsoft Windows dan Mac OS) menggunakan Rolling Release atau lebih tepatnya Half Rolling Release. Lalu kenapa hampir semua distro Linux masih menggunakan Fixed Release Model? Pertanyaan itu hanya bisa dijawab developer masing-masing distro.
Sangat kontras memang, perkembangan FOSS secara umum lebih cepat dari pada model lainnya karena sifatnya yang terbuka itu sendiri namun pada sisi yang lain developer distro justru mencari aman dengan menetapkan jadwal rilis distro dalam jangka waktu tertentu. Celakanya dengan alasan yang sama, semua tree repository yang didalamnya berisi ribuan aplikasi juga terkena imbas, tidak menerima update versi hanya bugfix atau security fix saja. Istilah kerennya disebut "Freeze". Pada proses pengembangan distro versi selanjutnya baru akan ditetapkan acuan aplikasi versi manakah yang akan digunakan mendatang.
Hal ini menimbulkan situasi yang kompleks, tidak jarang developer tiap distro mem "back ported" beberapa fitur aplikasi dari versi terbaru sehingga secara tidak langsung menciptakan "forked" dari upstream project. Pelaporan bug tidak serta merta dapat dilaporkan langsung ke upstream project, karena tiap distro memiliki versi aplikasinya sendiri. Kebijakan seperti ini sangat merugikan di kedua pihak baik upstream project dan distro itu sendiri karena terjadi duplikasi tugas. Sudah saatnya bekerja lebih dekat dengan upstream project sehingga semua pihak mendapatkan keuntungan yang sama.
Apakah Arch Linux tidak cukup menjadi contoh sukses dari Rolling Release Model? Belajar dari hal tersebut maka muncul lah inisiatif lain, Half Rolling Release yang dipakai oleh Chakra GNU/Linux Project yang bertujuan menutup kelemahan-kelemahan itu. Keduanya sebisa mungkin memakai aplikasi vanilla dari upstream project dan menekan modifikasi code yang spesifik terhadap distro. Pengajuan fitur baru dan perbaikan bug sudah sewajarnya dilakukan langsung di upstream project.
Sayangnya isu Ubuntu yang akan berpindah ke Rolling Release yang beredar belakangan ini "dibantah" secara tegas oleh developer Ubuntu. Namun pagi ini situasinya sedikit menyenangkan, pasalnya om Greg KH -salah satu hacker top dari openSUSE- berinisiatif mengumumkan openSUSE Tumbleweed Project, yang memungkinkan pengguna openSUSE mencoba Rolling Release. Sebagai pioner openSUSE 11.3 akan menjalani tahap ujicoba, kedepan diharapkan akan siap secara penuh pada openSUSE 11.4 yang sedianya akan dirilis pada Maret 2011.
Lalu apa bedanya Tumbleweed dengan Factory dan Factory-Tested?
Factory selalu mengandung versi paket terbaru yang dibuat oleh maintainers, kadang paket-paket tersebut tidak bekerja secara baik dan menyebabkan mesin gagal booting, disinilah Factory-Tested dibutuhkan. Singkatnya sebelum paket dipindah ke Factory, harus di ujicoba di Factory-Tested terlebih dahulu sehingga diharapkan Factory sebisa mungkin stabil. Tumbleweed akan mengandung versi paling "stabil" dari paket terbaru yang diharapkan dapat bekerja dengan baik.
Sound interesting huh?
Setelah merombak harddisk laptopku, akhirnya ada ruang kosong untuk distro lain yaitu Ubuntu 10.10, Linux Mint 10 dan Chakra GNU/Linux. Yah bisa dibilang puas lah, secara semuanya sukses di install. Yang agak rewel justru Chakra, perlu sedikit ngoprek biar bisa masuk KDE. Itu hampir sebulan yang lalu, sekarang sudah saat nya mengobrak-abrik lagi.,. Kebetulan KDE SC 4.6 Beta 1 dirilis beberapa hari yang lalu, dan Arch Linux sudah menyediakan repository testing untuk KDE, kyanya openSUSE Factory juga ada, Chakra agak telat sedikit karena ada beberapa kegagalan build beberapa paket, baru kemarin semua paket sukses di kompile. Berhubung sayang jika harus mengganti Arch Linux dari repository stable ke testing, maka Chakra lah yang menjadi korban. Lagipula sejak dari awal Chakra memakai repository testing, jadi ga pa pa lah.
![]() | |
| Chakra GNU/Linux Saat Mengupdate Paket KDE SC 4.6 Beta 1 |
![]() |
| Chakra GNU/Linux KDE SC 4.6 Beta 1 |
Menyambung bahasan sebelumnya, tapi kali ini tentang kernel. Ketika terjadi update bugfix kernel Linux pada openSUSE secara default kernel versi sebelumnya akan ditimpa dengan yang baru. Perilaku yang sama juga diterapkan Arch Linux dan Chakra GNU/Linux, bedanya pada Arch Linux terdapat satu paket Kernel Default (kernel26) dan satu paket Kernel LTS (kernel26-lts) serta puluhan Kernel Custom di AUR. Mengingat Arch Linux dan Chakra GNU/Linux memakai Rolling Release Model, maka tidak hanya update bugfix saja yang di timpa tapi update minor juga, misalnya dari versi 2.6.35 ke 2.6.36. Lain hal nya dengan Debian dan turunannya terutama Ubuntu, untuk alasan backup, tiap ada update bugfix kernel yang terdahulu tidak akan ditimpa dengan yang baru dan otomatis menambahkan entry baru di Grub. Saat tulisan ini dibuat Ubuntu sudah mendapatkan satu kali update bugfix kernel, jadi di Grub terdapat dua pilihan Kernel yaitu 2.6.35-22 dan 2.6.35-23.
Lalu apa yang salah dengan hal tersebut? jawabnya tidak ada, hehehe.,. Tapi.,. -lho kok pake tapi?-
Bayangkan -lagi-, setelah capek-capek unduh update paket, mana koneksi lagi lemot sangat, banyak kerjaan, ga ada nyamilan dan sebangsanya.,. setelah reboot eh ternyata -ga pake lagi- kernel yang baru gagal booting.,. Capek deh
Lebih baik ditinjau per distro yah, okelah.,.
Arch Linux dan Chakra GNU/Linux
Idealnya minimal punya dua versi Kernel ter-install, kernel26 untuk dipakai sehari-hari dan kernel26-lts untuk cadangan ketika kernel26 gagal. Tapi pada prakteknya malah lebih dari dua, belum lagi dari AUR yang bisa di kompile manual ada kernel26-zen, kernel26-ck, kernel26-bfs dan lain-lain. Kenapa disebut "ideal"? karena pengguna kedua distro tersebut paling ga udah bergelar ""ahli"" -pake tanda kutip dua kali-, jadi harusnya sudah sadar diri tentang hal itu, tapi kalau ga ya.,. keterlaluan, hehehe.,.
Debian, Ubuntu dan turunannya
Bisa dibilang relatif aman, cuman harus rajin-rajin menghapus paket kernel yang udah uzur, kalau ga entry di Grub bakalan "meriah". Masih kurang rame? install aja custom kernel dari PPA, hehehe.,.
openSUSE
Masuk ke bahasan utama, masih kurang jelas? harusnya udah c.,.
Dengan hak root, edit /etc/zypp/zypp.conf cari entry multiversion = provides:multiversion(kernel) dan uncomment (hilangkan tanda pagar '#') menjadi.
Bukan.,. ini bukan membicarakan tentang cara mengunduh iso image nya openSUSE, tapi berkaitan dengan zypper. Mungkin yang kurang familiar dengan zypper, zypper itu sepadan dengan apt nya distro Debian dan turunannya.
Satu hal yang paling mengganggu di openSUSE adalah kebijakan zypper saat mengunduh update paket atau saat meng-install paket. Zypper akan mengunduh paket satu demi satu sembari meng-install, jadi unduh paket pertama lalu install kemudian unduh paket kedua lalu install dan seterusnya.
Apa yang salah dengan hal tersebut? Bayangkan jika proses tersebut terinterupsi (listrik mati?) sedangkan proses update belum selesai sehingga sistem baru terupdate sebagian. Coba tebak apa yang terjadi kemudian.,. Jika paketnya berkaitan dengan software sistem yang esensial bisa-bisa broken tuh, masih dikatakan beruntung kalau masih bisa mengakses shell, kalau tapi.,.
Untungnya seperti kebanyakan software di Linux, zypper sangat fleksibel sehingga konfigurasinya bisa disesuaikan dengan keinginan pengguna. Dalam hal ini lebih baik zypper mengunduh semua paket terlebih dahulu baru kemudian menginstallnya, seperti pada pacman di Arch Linux dan Chakra GNU/Linux.
Dengan hak root, edit /etc/zypp/zypp.conf cari entry commit.downloadMode dan ganti dengan baris dibawah ini
Sudah menjadi kebiasaan setiap meng-install Distro Linux, partisi home selalu menjadi satu dengan partisi root. Alasannya sederhana karena aku menggunakan Multi-Distro, sehingga tidak ingin dipusingkan dengan partisi home yang terpisah. Namun setelah hampir 2 tahun memakai Arch Linux, rasanya saatnya membutuhkan partisi home yang terpisah. Karena partisi root Arch Linux ku hanya berukuran 20GiB, tentu saja tidak mampu menampung hasil download an ku yang mengantri. Disamping itu perlu juga menata ulang dan menambah partisi baru untuk Distro lain. Rencananya hanya Arch Linux yang memiliki partisi home terpisah.
Awal layout partisi harddisk ku seperti dibawah ini.
/dev/sda1 Fat32 Windows XP 10 GiB
/dev/sda2 Ext4 Arch Linux 20 GiB
/dev/sda3 Ext4 OpenSUSE 5 GiB
/dev/sda4 Extended Partition
/dev/sda5 Ext4 Ubuntu 5 GiB
/dev/sda6 Ext4 Data 70 GiB
/dev/sda7 Swap 1 GiB
Akhir layout partisi harddisk ku.
/dev/sda1 Fat32 Windows XP 10 GiB
/dev/sda2 Ext4 Arch Linux 20 GiB
/dev/sda3 Ext4 OpenSUSE 5 GiB
/dev/sda4 Extended Partition
/dev/sda5 Ext4 Ubuntu 5 GiB
/dev/sda6 Ext4 ? 5 GiB
/dev/sda7 Ext4 ? 10 GiB
/dev/sda8 Ext4 Home 55 GiB
/dev/sda9 Swap 1 GiB
Untuk urusan penataan partisi aku memakai Distro PartedMagic, dengan bantuan UNetBootin untuk menulis image ke USB FlashDisk.
Langkah-langkah memindah /home dari partisi root ke partisi baru sebagai berikut.
1. Login memakai user dengan hak biasa atau root lewat shell (console)
2. Masuk ke single-user mode (init 1), masukkan password user root
# init 1
3. Mount partisi target
# mount /dev/sda8 /mnt
4. Buka /home
# cd /home
5. Salin semua berkas ke partisi target
# cp -ax * /mnt
6. Pindah ke direktori root. Ubah home menjadi home.old (terserah), untuk backup. Lalu buat home baru
# cd /
# mv /home /home.old
# mkdir home
7. Edit /etc/fstab dengan memakai vi/vim atau text editor lainnya
# vim /etc/fstab
Tambahkan baris berikut, sesuaikan dengan layout partisi dan isikan parameter yang diinginkan
# /dev/sda8 /home ext4 defaults 0 2
8. Reboot, pastikan segalanya berjalan lancar, jika tidak mungkin ada langkah yang salah. Kemudian hapus /home.old
Ada kampanye baru nie, sebagai Linuxer wajib ikut berpartisipasi yuk.,.
Selama hampir 2 tahun bisa dibilang baru kali pertama ini Arch Linux ku bermasalah, tapi ga sepenuhnya broken cuman KDM ga tampil sehingga tidak bisa login ke KDE. Login melalui console ga ada masalah, dengan user Root aku membaca /var/log/error.log terlebih dahulu, dan ternyata terbaca dua baris pesan kesalahan.
Pacman adalah packaged manager yang digunakan Arch Linux. Sebenarnya terdapat beberapa cara untuk memaksimalkan performa pacman, salah satunya dengan mengganti download manager agar mendapat kecepatan maksimal.
Setelah setahun lebih menggunakan wget, rasanya ingin mencoba menggantinya dengan axel.
Caranya cukup dengan mengedit /etc/pacman.conf dan menambahkan baris
![]() |
| Pacman menggunakan axel sebagai download manager |
![]() |
| Pacman telah melaksanakan tugasnya |
Bulan April yang lalu aku membeli modem USB Haier CE100 DualBand CDMA 2001x / EVDO. Dari hasil googling ada seorang Linuxer yg berhasil memakai modem tersebut pada Ubuntu 9.04, tentunya dengan bantuan wvdial dan menurutnya bisa juga di dial lewat NetworkManager. Dengan harapan bisa langsung dipakai dengan NetworkManager aku masukin ke port USB, muncul notifikasi modem CDMA dikenali, konfigurasi provider lalu klik connect. Sembari menunggu sebentar kemudian muncul notifikasi bahwa modem disconected, setelah downgrade versi NetworkManager pun tidak membuahkan hasil.
Akhirnya menyerah juga, wvdial pun menjadi solusi terbaik, sedikit modifikasi /etc/wvdial.conf dan /etc/ppp/options serta udev rules untuk meng-eject otomatis cdrom virtual sehingga modem pun bisa dipakai. Sejak saat itu Arch Linux ku bisa terkoneksi ke dunia maya. Dengan cara yang relatif sama aku terapkan di Ubuntu 9.04, Linux Mint 8 dan openSUSE 11.2 serta openSUSE 11.3.
Beberapa hari yang lalu aku iseng-iseng memakai NetworkManager dengan antarmuka Network Management Plasmoid di KDE SC 4.5.x dan hasilnya ternyata diluar dugaan, sekarang sudah bisa digunakan dengan NetworkManager. Usut punya usut setelah melihat log pacman, pada akhir bulan Agustus kemarin terjadi update paket NetworkManager versi 0.8.1 dan ModemManager 0.4.
Bukannya wvdial tidak terpakai lagi, tapi lebih cenderung berfungsi sebagai cadangan ketika harus melakukan koneksi lewat antarmuka console. Oh ya, sebenarnya NetworkManager juga memiliki antarmuka berbasis console yaitu cnetworkmanager.
Wah rupanya udah lama ga menulis di blogq ini, halangan yang berupa faktor m, yaitu males, hehe.,. Bukannya kehabisan ide, tapi malahan ada beberapa hal yang ingin q tulis namun ga kesampaian. Bulan Agustus yang dinanti-nanti telah terlewatkan, setidaknya ga terlambat untuk di tulis, walaupun sekarang udah September.,.
KDE SC 4.5.x
![]() |
| KDE Software Compilation 4.5.0 |
![]() |
| Arch Linux dengan KDE Software Compilation 4.5.1 |
![]() |
| openSUSE 11.3 saat menjalankan ESET NOD |
![]() |
| Ubuntu 10.04 |
![]() |
| Proyek Chakra resmi berpisah dari Arch Linux |

Solusi Gagal Boot BIOS Lenovo G480
openSUSE Leap atau openSUSE Tumbleweed
Owlboy - Platformer Petualangan Dengan Banyak Pujian Kritis Kini Mendukung Linux
Arch Linux Kini Hanya Mendukung Arsitektur X86 64-Bit
Reset Konfigurasi Display Dan Monitor KDE Plasma
DiRT Rally Akan Hadir Di Linux Pada 2 Maret 2017
Orico 5.0 USB Bluetooth Adapter Di Linux
Blokir GNOME Tracker Secara Permanen
GeckoLinux Berbasis openSUSE Leap 42.2 Telah Dirilis
Bypass Blokir Sementara Dengan Cloudflare Warp